
...💖💖💖...
Cup.
"Aku mencintai mu sayang, mana mungkin aku marah! Sudah ya, jangan nangis lagi! Mending kita mandi yuk! Habis itu kita sarapan!" bujuk Daniel yang di balas anggukkan kepala oleh Elis.
Hap.
Daniel membawa Elis dalam gendongan nya, melangkah dengan pasti menuju kamar mandi.
"Aku buka kan atau mau buka sendiri hem?" tanya Daniel, yang seakan menggoda Elis yang kini ia dudukan di tepian buthab.
"Bukaaaain!" ucap Elis dengan manja, menatap Daniel dengan senyum termanis nya.
"Menggemaskan sekali istri ku!" Daniel menangkup pipi Elis, lalu mendekatkan wajah nya dengan wajah Elis.
"Kau lihat apa?" tanya Elis, dengan menatap lekat wajah Daniel yang ada di depan nya, kening ke dua nya saling bertautan.
"Aku mencintai mu! Apa kau mencintai ku?" tanya Daniel, dengan hembusan nafas yang menyeruak di depan wajah Elis.
"Kau ingin aku jawab apa?" tanya Elis dengan melingkarkan ke dua tangan nya di leher Daniel.
Elis mengerjapkan ke dua mata nya, lalu melabuhkan benda kenyal nya di benda kenyal milik Daniel. Tidak hanya sampai di situ. Elis pun menyesappp bibir Daniel, lidah nya menari nari di dalam rongga mulut Daniel.
'Selain mood nya yang berubah ubah, kini Elis juga punya inisiatif sendiri untuk memulai lebih dulu permainan nya. Oke lah, aku akan mengikuti mu sayang! Akan ku bawa kau ke langit kenikmatan.' batin Daniel dengan senang melihat Elis yang memulai permainan.
Berbeda dengan Elis dan Daniel, yang tengah menyapa pagi hari dengan indah nya surga dunia.
__ADS_1
Arsandi di buat kalang kabut, setelah menerima ada nya beberapa laporan yang mencurigakan dari kepala devisi keuangan di salah satu perusahaan yang ada di kota lain.
"Bagaimana bisa hasil nya segini? Lolos aja gitu dari pantauan bos." gerutu Arsandi, menatap dengan jeli angka angka dalam laporan yang tengah ia periksa lewat laptop nya.
Elis menatap diri nya lewat pantulan cermin, duduk di kursi hias, membiarkan Daniel mengeringkan rambut nya. Pikiran nya berkelana ke mana mana, ketakutan yang belum pasti ada nya.
'Aku hamil, anak Daniel. Untuk saat ini memang belum terlihat, bahkan perut ku pun masih tampak datar. Apa jika aku memiliki tubuh besar, Daniel akan tetap setia pada ku? Apa dia akan tetap memanja kan ku, menyayangi ku? Atau Daniel malah rendah iman dan dengan mudah dekat dengan wanita lain? Lalu nenghabiskan waktu bersama dengan wanita lain, dan gak perduli lagi sama aku? Hijs hiks.'
Tanpa terasa, bulir bening berhasil menerobosss pelupuk mata Elis. Dengan tanpa permisi bak hujan yang turun dengan deras. Hingga bahu Elis kini tampak bergetar karena menangis.
"Apa kau yakin ingin berangkat ke kantor, sayang?" tanya Daniel, sambil tangan nya mengeringkan rambut Elis yang basahhh dengan pengering rambu.
Daniel mengerutkan kening, melihat bahu Elis yang tampak bergetar. Di lihat nya wajah Elis lewat pantulan cermin yang ada di hadapan nya.
"Kau menangis sayang? Apa lagi yang membuat mu menangis hem?" tanya Daniel dengan lembut, mengelusss lengan Elis, mencoba memberikan ketenangan pada istri nya.
Elis menumpahkan segala perasaan sedih nya, akan hal hal yang bisa aja terjadi kepada nya. Mengingat Daniel yang kaya dan tampan, tidak ada satu kekurangan pun yang terlihat pada diri Daniel.
Daniel menyimpan pengering rambut pada tempat nya. Lalu berjongkok di depan Elis, dan menghapus bulir bening di pipi Elis.
"Jangan berfikir sejauh itu sayang! Berdoa lah, meminta pada sang pencipta untuk kita selalu di jadikan pasangan yang sakinah, mawadah warohmah." ujar Daniel, jemari nya menggenggammm jemari Elis.
Cup.
"Tenang ya! Jangan banyak pikiran, itu gak baik buat janin kamu, sayang! Kamu harus tetap ceria, karena jika mami nya bahagia, maka baby nya pun akan ikut bahagia. Tapi jika mami nya sedih, maka baby pun akan sedih." ujar Daniel setelah mengecup jemari Elis, mencoba membuat Elis mengerti.
Perkataan Daniel barusan, bukan nya berhasil membuat Elis tenang dan mengerti. Justru sebalik nya. Ia menjadi salah mengartikan perkataan Daniel.
__ADS_1
Dalam pikiran yang berhasil Elis tangkap dari perkataan Daniel, sang suami. Elis lah yang membuat calon baby nya jadi tidak merasa bahagia dalam kandungan nya.
Bruk.
Dengan sekuat tenang, Elis menjatuhkan Daniel dengan sekali tendangan nya.
"Awwhhh atit!" goda Daniel pura pura sakit, namun gakkl berasa sakit.
"Aku membenci mu!" seru Elis, beranjak lebih dulu meninggalkan Daniel yang kini terpaku di buat nya.
"Aku salah apa lagi?" tanya Daniel pada diri nya sendiri.
Brak.
Elis menutup pintu dengan membanting nya keras.
"Astagaaa Elis! Kau mau membuat jantung ku berlari dari tempat nya apa!" umpat Daniel.
...💖💖💖...
Bersambung...
Pembaca yang budiman, yang paling anteng tanpa like dan tanpa komen. Ini beneran lo pada anteng bangat, ngapa kaga ada yang komen si? Author gabut nungguin tau ðŸ¤ðŸ¤
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...
__ADS_1