
...💖💖💖...
Dokter Herman menatap Daniel dengan horor. "Apa yang bisa aku lakukan untuk mu?" tanya dokter Herman, setelah berdiri di samping ranjang rawat Daniel.
"Tolong belikan aku beberapa setel pakaian untuk wanita, istri ku membutuhkan nya saat ini juga! Sekalian dengan dalaman nya juga!" pinta Daniel dengan memainkan alis nya naik turun.
Dokter Herman menggaruk kepala nya dengan frustasi. "Dasar bodohhh! Harus nya kau pikirkan dua kali sebelum menerkam istri mu! Menyusahkan ku saja!" dokter Herman meninggalkan ruang rawat Daniel dengan bersungut.
"Harus nya aku tidak perlu mengecek kondisi mu!"
"Terima kasih, dok! Kau memang sahabat ku yang paling baik!" Daniel melambaikan tangan kanan nya saat dokter Herman menggenggammm hendle pintu.
Bugh.
"Aku melakukan ini untuk Elis, wanita yang aku cinta? Aaah gila, masa ia aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Tidak boleh, Elis itu istri sahabat ku sendiri!" maki dokter Herman pada diri nya sendiri.
...---...
Hari berganti hari, Elis dan Daniel semakin dekat. Meski ke dua nya masih berada di puncak, namun kali ini Daniel mengajak Elis untuk menempati kamar hotel yang jauh dari jangkauan villa keluarga nya.
"Kapan kita kembali, Daniel? Aku bosan tinggal di sini. Tidak ada yang bisa aku kerjakan selain di kamar, jalan jalan, menghamburkan uang!" rengek Elis, memeluk lengan besar Daniel sambil menikmati indah nya matahari tenggelam.
"Aku harus meyakinkan ada yang bernyawa di dalam sini, baru kita kembali. Membawa kabar gembira untuk papa Brian dan papa Devano." ucap Daniel, tangan kanan nya terulur mengelusss perut Elis yang masih rata dan datar.
"Awwhhh sakit sayang!" keluh Daniel, mengelusss pinggang nya yang di cubit Elis, dengan suara manja.
"Biarin, biar kamu sadar. Wanita yang mengandung itu butuh proses. Gak kaya balon yang di tiup langsung besar." sungut Elis dengan bibir mengerucut.
"Ia sayang, aku tahu itu! Semua butuh proses, aku menunggu proses nya dengan sabar hehehe!" Daniel memasang wajah lucu, menghibur Elis yang tengah ngambek karena nya.
"Apa kau tidak ingin menjenguk wanita yang menjadi korban Wiliam di rumah sakit waras?" tanya Elis dengan tatapan penuh harap.
"Entah lah, aku rasa tidak perlu. Wanita itu sudah punya Stefani, yang setiap bulan akan menjenguk keadaan nya." ucap Daniel.
__ADS_1
"Begitu ya." bagaimana keadaan Saras sekarang? Apa wanita itu baik baik saja? Aku di sini bahagia dengan Daniel. Lalu bagaimana dengan Stefani dan Wiliam? Apa mereka bersama, bahagia? Atau sebalik nya!
Daniel mengelusss puncak kepala Elis. "Kenapa kau tiba tiba menanyakan nya? Apa kau sedang merindukan mantan kekasih mu itu? Hem!" tanya Daniel dengan kata yang penuh makna.
"Jangan mengada ada kau! Mana mungkin aku merindukan nya!" sungut Elis.
"Ya sudah, jangan pernah bahas pria itu lagi. Sekarang sudah ada aku yang akan selalu menemani mu di setiap suka dan duka mu!" Daniel menarik Elis ke dalam dekapan nya.
...---...
Setelah menikmati satu bulan liburan di puncak, ke dua nya pun kembali.
Brak.
Elis membuka pintu ruang kebesaran sang papa di kantor nya.
"Aku datang kembali papa!" seru Elis dengan suara nya yang manja, dengan senyum yang menghiasi bibir nya.
Brian di buat terkejut dengan kedatangan putri serta menantu nya di kantor.
"Jemput di mana sih pah?" tanya Elis, memeluk sang papa dari belakang, ke dua tangan nya melingkar di leher Brian.
"Jemput di lobby kantor dong sayang! Memang kau pikir papa akan menjemput kalian di mana?" ledek Brian dengan terkekeh.
"Ihs papa!" dengus Elis.
"Bagaimana keadaan papa? Papa baik baik aja kan?" Daniel menyalami sang papa mertua.
"Papa baik baik aja, bagaimana kabar kalian berdua? Pergi berdua, apa kembali jadi bertiga?" Brian memainkan alis nya, meledek Daniel, sedangkan tangan kanan nya menepuk nepuk lengan Elis yang masih menggelayut manja di leher nya.
"Do'a kan saja, pah!" Daniel menyunggingkan senyum.
"Sudah, duduk sayang! Apa kau tidak malu di lihat suami mu!" seru Brian.
__ADS_1
"Ihs malu kenapa? Dia tidak boleh malu pah! Aku kan putri papa!" Elis melerai ke dua tangan nya dari leher Brian. Lalu duduk di kursi yang ada di depan Brian, tepat nya di samping Daniel. Sementara ada meja sebagai penghalang antara Brian dengan ke dua nya.
"Seperti nya putri papa semakin berisi ya! Bukan begitu, Daniel?" tebak Brian dengan menatap Daniel dan Elis secara bergantian.
"Hanya naik beberapa kilo, pah!" jawab Daniel apa ada nya.
"Gimana gak naik, aku kerjaan nya makan, tidur, jalan jalan, shoping." cicit Elis.
"Benarkah begitu? Oleh oleh apa yang kalian bawa untuk papa?" tanya Brian.
"Banyak pah, tunggu aja. Paling sebentar lagi nyampe." jawab Elis dengan santai.
"Apa kalian sudah mengabari kepulangan kalian ini pada papa Devano?" tanya Brian.
"Sudah pah, papa Devano sebentar lagi juga akan ke sini. Mungkin kita akan makan siang bersama." jawab Daniel.
"Aku sudah pesankan meja untuk kita makan siang di luar, restoran favorit ku pasti nya! Hehehe!" ucap Elis dengan bersemangat.
"Anak pintar." puji Brian.
Tok tok tok.
"Maaf Tuan, ini saya. Saya boleh langsung masuk kan!" ucap Bayu setelah mengetuk pintu ruang kerja atasan nya.
"Nah itu dia!" seru Elis, memutar kursi yang ia duduki, hingga membuat nya dapat melihat siapa yang masuk ke dalam ruang kerja papa nya.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
__ADS_1
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...