Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Aku atau Elis


__ADS_3

...💖💖💖...


Nami, Arsandi dan seorang yang berjaga di bagian CCTV kantor, kini mengamati layar monitor. Dengan tatapan yang jeli, mengenali siapa orang yang menyerahkan map coklat pada Nami.


"Itu, itu dia orang nya! Ia benar, aku gak salah lihat!


"Kau yakin itu dia, Nami?" tanya Arsandi memastikan dengan tatapan tajam, pada pria yang tampak memberikan map coklat pada Nami.


"Iya pak, saya yakin emang itu dia orang nya." ucap Nami dengan yakin.


"Kamu boleh kembali Nami, tapi jika aku membutuhkan mu... kau harus siap, kapan pun itu!" titah Arsandi mengingat kan, tanpa mengalihkan pandangan nya dari laptop.


"Pasti pak, saya kembali dulu pak." Nami melenggang pergi meninggal kan ruang CCTV, kembali ke meja resepsionis.


"Kirim salinan rekaman yang ini pada ku!" titah Arsandi, yang lantas ikut beranjak meninggalkan ruang CCTV.


Tok tok tok.


"Boleh saya masuk, Tuan!" seru Arsandi.


Arsandi mengetuk dan berseru di depan pintu ruang kebesaran Daniel.


Di dalam ruang kerja nya sendiri, Daniel tengah mondar mandir dengan pikiran gak karuan.


"Sialll, masuk lah!" umpat Daniel, saat mendengar pintu ruang kerja nya di ketuk dari luar. Mengejutkan diri nya.


Ceklek.


"Bodohhh! Kenapa harus mengetuk pintu? Kau membuat ku kaget Arsandi!" omel Daniel, melihat wajah Arsandi yang tampak biasa aja menghadapi nya.


Daniel langsung duduk kembali ke kursi kebesaran nya. "Apa yang kau dapat? Sudah menemukan siapa pengirim nya?" tanya Daniel kesal.


"Masih dalam penyelidikan, Tuan. Tapi saya sudah mengetahui orang nya. Seorang pemuda tanggung, tampak nya orang itu baru memasuki gedung ini!" ujar Arsandi.


"Aku butuh kepastian! Cepat cari tahu orang itu! Kalo perlu! Bawa orang itu kehadapan ku." ucap Daniel tegas, gak mau di tawar.


"Boleh saya lihat isi nya, Tuan?" tanya Arsandi yang penasaran dengan isi map coklat di atas meja Daniel.


'Sebenar nya apa sih yang di kirim pria itu. Bisa sampai membuat Daniel kebakarannn jenggot. Ada yang gak beres nih!' batin Arsandi penuh selidik, tapi gak berani ngomong.


Daniel langsung menatap tajam Arsandi. "Berani kau melihat nya! Sama aja kau menggali kuburan mu sendiri!" ancam Daniel.


Arsandi membuang nafas kasar. "Terserah Tuan aja lah. Kalo begitu saya ke luar, izin mengurus kekacauan yang Tuan buat sendiri!" dumel Arsandi kesal.


Daniel menggaruk kepala nya dengan frustasi. "Sialannn si Arsandi!"

__ADS_1


"Perkenalan, bearti orang itu baru dalam kehidupan ku dan Elis. Siapa orang nya! Apa yang dia incar, aku atau Elis?" pikir Daniel, mengingat kembali ucapan pria misteri yang belum lama menelpon nya.


Daniel membuka kembali isi map coklat itu, tatapan nya memicing tajam. Pada bercak merah yang terdapat pada lembar demi lembar foto yang berbeda.


Foto Daniel dan Elis beberapa hari kebelakang. Dengan tulisan yang di sinyalir adalah darah.


Daniel menghungi Kevin lewat benda pipih nya.


[ "Kau di mana?" ] tanya Daniel, saat Kevin menjawab sambungan telepon nya.


^^^"Masih setia menunggu tawanan, Tuan. Apa kau ingin memberikan aku tugas baru?" tebak Kevin.^^^


[ "Kau harus pastikan Wiliam tidak bisa pergi dari tempat itu, Kevin!" ]


^^^"Tenang aja Tuan, kaki nya aja terluka... gimana dia bisa kabur dari tempat ini?" ucap Kevin menganggap remeh.^^^


[ "Mau kaki nya yang terluka, atau apa pun itu. Pasti kan dia bener aman di sana. Aku ingin dia menderita seumur hidup, tanpa ada cinta dari wanita yang di cintai nya." ]


^^^"Siap Tuan."^^^


Daniel meninggalkan ruang kerja nya. Memilih melihat apa yang di kerjakan Arsandi di ruang kerja nya.


Ceklek.


Sementara di ruang kerja Mela.


"Kenapa masih di sini? Cepat ke luar dari ruang kerja ku pak!" titah Mela dengan kesal, melihat Arsandi malah duduk manis di kursi yang ada di hadapan Mela.


"Suka suka saya, mau saya tetap di sini, atau mau pergi dari ruang ini! Saya atasan mu kan! Sudah fokus saja pada revisi laporan itu!" ucap Arsandi santai.


"Saya mana bisa konsen mengerjakan revisi laporan ini kalo ada bapak di sini! Udah bapak kerjakan apa kek. Selengang itu apa pekerjaan bapak hari ini, sampai terus mengusik saya di pagi hari yang harus nya cerah!" gerutu Mela, dengan melirik malas Arsandi.


"Kau tau Mela, pekerjaan saya ini sangat berat, sangat berisiko. Jadi gak salah dong jika saya mengistirahatkan tubuh saya hanya dengan menatap mu sejenak?" cicit Arsandi, dengan punggung menyandar pada sandaran kursi.


'Nih anak kenapa lama lama makin jutek sama gue ya? Udah gitu sikap nya sama gue gak semanis di awal pertemuan.Tapi kenapa justru itu, yang buat gue gak bisa jauh dari ini bocah! Gue seneng kalo udah berhasil buat dia marah.' batin Arsandi, menikmati wajah kesal Mela yang sibuk dengan laporan keuangan yang tengah ia revisi.


"Pak! Bapak mau pergi dari ruang kerja saya, atau saya yang akan mengerjakan ini semua di ruang lain!" ancam Mela, menatap tajam Arsandi.


"Tidak ada ruang lain Mela. Sudah kerjakan saja, aku juga hanya memandang mu, gak mengusik atau menggangu konsentrasi mu kan!" kilah Arsandi dengan berbagai alasan, gak mau pergi.


Mela menggaruk kepala nya dengan frustasi. "Astagaaa pecah rasa nya kepala saya menghadapi atasan menyebalkan seperti mu!" umpat Mela.


"Ahahahha kau sungguh menggemaskan Mela." tawa Arsandi.


"Kau mau ke mana?" tanya Arsandi dengan bingung, mengikuti pergerakan Mela yang beranjak dari duduk nya.

__ADS_1


"Bukan urusan mu!" sungut Mela, mengabaikan Arsandi yang masih menatap nya.


Arsandi langsung kalang kabut, saat melihat Mela berjalan ke arah pintu.


Tap tap tap tap.


Arsandi langsung berlari, hendak mencegah Mela yang akan meraih hendle pintu.


Grap.


Sreek.


"Mau ke mana kamu Mela?" tanya Arsandi, dengan menggenggamm pergelangan tangan Mela. Dan menarik nya hingga ke dua nya saling berhadapan.


"Mau beli minum lah, aus saya... ada bapak lama lama di sini!" ucap Mela dengan kening mengkerut, menatap waspada Arsandi yang berani menggenggammm tangan dan menarik nya.


Mela berusaha melepaskan tangan nya dari genggamannn tangan Arsandi.


"Jaga jarak mu, pak galak!" seru Mela mendorong Arsandi dari hadapan nya.


"Apa? A- aku kau panggil pak galak?" tanya Arsandi dengan pandangan gak percaya.


"Iya lah pak galak, kalo perlu... pak menyebalkan!" ejek Mela setelah berhasil ke luar dari ruangan nya sendiri.


Bruk.


Mela menarikkk pintu kerja nya dengan kencanggg.


"Kenapa lagi Mel?" tanya Reni yang kebetulan lewat ruang kerja Mela.


"Ah i- itu bu, cuma ada tikus! Iya ada tikus. Saya duluan ya bu!" ucap Mela yang berlalu dengan langkah cepat, menghindar gak mau bu Reni senior nya di kantor banyak tanya lagi.


Reni mengerutkan kening nya, menatap kepergian Mela lalu beralih pada pintu ruang kerja Mela yang tertutup rapat.


"Tikus? Sejak kapan di kantor ada tikus? Harus panggil petugas kebersihan ini mah. Jangan sampai tikus nya berkembang biak. Ihhhss geli!" bu Reni bergidik lalu berlalu.


Mela menunduk hormat, saat diri nya berpapasan dengan Daniel di lorong kantor.


Bersambung...


...💖💖💖...


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...

__ADS_1


__ADS_2