
...💖💖💖...
Bugh.
"Daniel!" seru Elis dengan panik, di susul dengan papa Devano dan papa Brian yang langsung berlari ke arah Daniel.
"Tubuh nya dingin sekali!" seru papa Devano, menepuk nepuk pipi sang putra.
"Kita bawa ke sofa aja!" titah papa Brian, membantu papa Devano membopong tubuh atletis, sang menantu yang tidak sadarkan diri.
"Adi! Bawakan Tuan Daniel minuman hangat!" titah papa Brian lagi, tanpa menoleh ke arah koki Adi yang masih terpaku di depan meja makan.
"Eh i- iya Tuan, akan saya siapkan." ujar koki Adi bergegas ke arah dapur.
Elis mengikuti ke dua papa nya, "Ya ampun hubby, kamu kenapa jadi kaya gini sih! Harus nya kamu tuh jujur aja kalo lagi sakit!" seru Elis dengan sesenggukan di sertai wajah panik, bulir bening yang terus menerobosss dari pelupuk mata nya.
"Tuan Muda kenapa koki?" tanya sang asisten yang juga panik melihat koki Adi.
"Kamu gak liat itu, Tuan Muda pinsan? Pake tanya lagi kenapa! Udah kamu bantu cari minyak angin, kali aja bisa bantu Tuan Muda untuk sadar!" titah koki Adi, sambil menyiapkan segelas teh hangat manis untuk Daniel.
"Pasti karena kerang hijau, sebelum nya karena kepiting. Benar itu koki, kalo aku gak salah baca. Kebiasaan salah satu pasangan, bisa aja berubah kalo sang istri tengah hamil." celoteh asisten koki sambil mencari cari minyak angin dalam kotak obat.
"Daniel, bangun Daniel!" seru papa Devano, dengan menghangatkan telapak tangan Daniel, dengan cara menggosok kan telapak tangan nya dengan telapak tangan sang putra.
Papa Brian juga melakukan hal yang serupa, namun pada telapak kaki Daniel yang ikut mendingin.
Elis mengguncang lengan Daniel, dengan terus saja terisak tanpa henti di sertai cicitan nya.
"Hubby, bangun hiks, sadar hubby hiks hiks... aku gak mau lo hiks, jadi janda di tinggal mati hiks. Hubby bangun hiks, kamu tega hiks... ninggalin aku hiks di saat mengandung baby utun hiks, hubby bangun hiks... baby utun hiks pasti sedih hiks melihat kamu pinsan. Hubby bangun huaaaaa!"
__ADS_1
Papa Devano mengerut kan kening nya menatap Elis dengan gelengan kepala, "Astagaaa menantu ku, jangan lah berpikir jauh, do'a kan saja suami mu ini cepat sadar dari pinsan nya!" ujar nya dengan penuh kelembutan.
"Tapi pah hiks, dari tadi Daniel belum juga bika mata hiks! Aku takut pah hiks, gimana kalo Daniel ninggalin aku hiks!" ucap Elis dengan terisak, menghapus dengan kasar, bulir bening yang membasahi pipi nya menggunakan punggung tangan nya.
"Elis!" seru papa Brian.
Koki Adi dan sang asisten koki, ikut menghampiri dengan membawa serta segelas teh manis hangat dan juga minyak angin.
Koki Adi berdiri di belakang tangan sofa, mendekatkan mulut botol minyak angin ke depan hidung Daniel dengan perlahan.
Gak lama, Daniel membuka mata dengan mengerjapkan mata nya, bukan karena kelilipan. Melainkan memberikan kode untuk tetap diam pada papa Devano dan koki Adi.
'Sekalian aja aku menguji mu, sejauh mana perasaan mu pada ku, sayang!' batin Daniel menatap Elis yang gak tau lagi di lietin.
Elis menoleh ke arah papa Brian, mendengarkan kata demi kata apa yang di ucapkan sang papa.
"Benar apa yang di katakan papa Devano, jangan berharap yang buruk... lebih baik berdo'a biar suami mu ini cepat sadar. Atau kamu ambil apa gitu ya kira kira bisa buat Daniel mu ini sadar!" oceh papa Brian.
"Da___" papa Brian yang baru nyadar Daniel sudah siuman pun terpaksaaa menghentikan seruan nya, saat sang menantu menggelengkan kepala nya.
"Apa pah?" tanya Elis dengan tatapan bingung.
'Dasar menantu kurang ajarrr, gak tau istri nya panik bukan main, dia malah lagi pura pura belum sadar, biar ku balas kau ya!' umpat papa Brian, menatap jengkel Daniel.
"Suami mu ini hanya pinsan... siapa juga yang akan tega membuat mu jadi janda di saat tengah mengandung... papa gak akan biarinin Daniel pergi dengan tenang buat ke surga! Dengar itu baik baik!" ucap papa Brian dengan kerlingan mata nya pada sang putri.
"Maksud papa apa?" tanya Elis lagi menggaruk kepala nya yang gak gatal, lalu kenatap Daniel yang kini langsung terpejam sebelum Elis melihat nya sudah membuka mata.
"Daniel kasian pah hiks, belum juga sadar hiks, Daniel! Bangun aku kan hiks, gak bisa jauh dari kamu hiks Daniel!" seru Elis yang kembali terisak lirih, meratapi Daniel yang belum juga siuman.
__ADS_1
"Memang apa yang bisa kau lakukan, Brian? Seenak nya aja kamu tuh pengen putra ku meninggal gitu?" sungut papa Devano dengan jengkel pada Brian.
"Papa bisa mencari kan mu pria lain, pria kaya, muda, pria yang lebih tampan dari Daniel, yang bisa menjadi papa yang baik untuk baby utun mu. Pria yang bisa mencintai mu, pria yang__"
Daniel yang mendengar nya langsung ketar ketir, takut apa yang di ucapkan sang papa mertua menjadi kenyataan, dengan lantang Daniel langsung beranjak dan mengentikan kata kata sang papa mertua yang justru menyerang nya secara gak langsung.
"Jangan pah! Daniel udah sadar!" seru Daniel, dengan langsung beranjak duduk, ke dua tangan terulur membawa Elis ke dalam pelukan nya.
"Danieeeeeeeel!" teriak Elis dengan kencang, membuat papa Devano, papa Brian, koki Adi dan sang asisten koki. Langsung menutup ke dua telinga nya dengan jemari nya.
"Ampun sayang, aku gak lagi lagi!" seru Daniel yang semakin erat memeluk Elis.
"Aku membenci mu, Niiiiil! Dasar kau kuda Nil yang suka menipu!" umpat Elis.
Papa Devano, papa Brian, koki Adi dan sang asisten koki langsung lari kocar kacir, menghindar dari amukan sang kucing anggora buntinggg.
Krek.
Elis menggigit bahu Daniel, yang masih memeluk nya enggan melepaskan nya.
Bugh bugh bugh bugh.
"Aku benci kamu, benci, benci, benciiiiii!" teriak Elis dengan memukulll Danie dengan bantal sofa yang ia ambil dan memukulll mukulll punggung Daniel.
Bersambung...
...💖💖💖...
Pembaca yang budiman, yang paling anteng tanpa like dan tanpa komen. Ini beneran lo pada anteng bangat, ngapa kaga ada yang komen si? Author gabut nungguin tau ðŸ¤
__ADS_1
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...