Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Rumah sakit


__ADS_3

...💖💖💖...


Daniel menyeringai. "Kau itu pintar Elis, tapi aku jauh lebih pintar." ucap Daniel melangkah dengan tenang untuk menghampiri Elis.


Cup.


Daniel mengecup pucuk kepala Elis yang tengah menikmati makanan nya, baru lah Daniel duduk di kursi yang ada di sisi Elis.


"Enak makanan nya?" tanya Daniel.


"Tentu saja, jika kau ingin, pesan aja." ucap Elis.


Sreek.


"Danieeeeeel!"


Pekik Elis, saat Daniel dengan seenak nya merebut dan menggeser mie ramen dalam mangkuk milik Elis.


"Emmm uuuhh ini enak sekali, sayang!" ucap Daniel, dengan lahap menikmati mie ramen yang kini ada di hadapan nya, dengan sesekali membuang nafas nya, seolah lidah nya terbakar dengan pedas nya mie ramen yang ia santap.


Daniel menyeka peluh di kening nya, gengsi nya terlalu tinggi untuk mengakui jika ia kepedesan di depan Elis.


Astaga ini pedas sekali! Perut ku rasa nya mulai panas, dan tidak nyaman sekali!


Elis menatap Daniel dengan pandangan yang sulut di artikan, ia bahkan tidak habis fikir dengan apa yang ada dalam pikiran Daniel.


Dasar cowok, terus aja terus, pura pura gak ngerasain pedas, gue yakin banget, itu cacing cacing di perut lo udah pada lari kebirit birit, karena pedas nya mie ramen yang lo makan, Daniel.


"Kau kan bisa memesan nya sendiri untuk mu, sesuai dengan selera mu, Daniel! Kenapa harus memakan mie ramen milik ku! Menyebalkan! Lagi pula, mie ramen yang aku pesan itu sangat lah pedas, Daniel!" gerutu Elis, ia mengerucutkan bibir nya, sekaligus memberi tahu Daniel, jika makanan yang ia pesan sangat lah pedas.


Daniel hanya bisa tersenyum, ini memang benar benar pedas, bahkan perut ku terasa terbakar.


"Huh hah, tapi ini enak sekali sayang, dan lagi nih ya... siapa suruh kau tidak memesankan nya untuk ku, hem? Kau juga sudah membuat ku mencari cari keberadaan mu! Kenapa kau tidak mengabari ku jika kau ada di sini? Memang kau tidak bisa menunggu ku? Mengabari ku?" protes Daniel, dengan berpura pura marah, ia benar benar merasa kepedasan, lidah nya bahkan terasa panas seakan terbakar.


"Siapa suruh kau sangat lama!" sungut Elis dengan ke dua siku nya yang bertumpu di atas meja, ke dua telapak tangan nya menumpukan wajah nya, dengan tatapan yang kini fokus pada wajah Daniel yang tampak menggemaskan di mata Elis.


Elis mengedarkan pandangan nya, mencari pelayanan restoran.


"Mas!" Elis melambaikan tangan nya pada seorang pria yang sudah di pastikan pelayan restoran.


"Iya ka, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan restoran dengan ramah, berdiri di depan Elis.

__ADS_1


"Buatkan aku mie ramen lagi 1 porsi, es jeruk 2." cicit Elis saat Daniel menyeruput es jeruk milik nya tanpa permisi, Daniel bahkan tanpa segan menghabiskan es jeruk milik Elis.


"Jangan 1, mie ramen nya 2 porsi lagi, tapi untuk ku spesial tidak pedas ya! Dan satu hal lagi, aku ingin 2 botol mineral! Aku ingin sekarang juga untuk air mineral nya! Bisa kan?" ucap Daniel.


"Baik Nona, Tuan... mohon di tunggu pesanan anda!" pelayan restoran berlalu, setelah memastikan kembali apa saja yang di pesan Daniel dan Elis.


"Are you oke? Lo ngak apa apa kan, Daniel?" tanya Elis mulai khawatir, melihat Daniel yang banjir keringat di wajah nya.


"I'm fine, ini cuma sedikit kepedesan aja. Nanti juga akan membaik dengan sendiri nya!" bohong Daniel, menunjukkan sederet gigi putih nya pada Elis.


Daniel bahkan sudah menghabiskan 3 botol mineral, dan mie ramen milik nya juga sudah tandas tidak tersisa.


Elis menatap Daniel dengan tatapan menyelidik. "Jangan bohong Daniel! Kau itu tidak pandai berbohong!"


Daniel tidak bisa lagi menyangkal, ia tidak bisa lagi menahan perut nya yang seolah di lilit.


"Maaf sayang, seperti nya aku harus pergi ke toilet!" ucap Daniel dengan beranjak dan bergegas ke luar, menuju toilet yang ada di mall itu.


Elis menahan tawa nya yang akan pecah, saat melihat Daniel berjalan dengan memegangi perut nya.


"Astaga Daniel! Kau itu benar benar bodohhh! Kau mau menyiksa perut mu sendiri. Untuk apa Daniel!"


Elis berdiri cukup lama di depan toilet pria, ia menyandarkan punggung nya di dinding, berjalan bolak balik bak teriskan yang sedang menggosok kemeja lusuh.


30 menit sudah Daniel berada di dalam bilik toilet. Ia sudah berusaha untuk ke luar dari bilik, namun saat tangan nya menyentuh hendle pintu, rasa mules kembali menyerang perut nya. Membuat nya dengan terpaksa mengeluarkan isi perut nya.


Sudah di pastikan Daniel kini tampak lemas, benar benar tidak berdaya. Keringat terus saja mengalir deras dari kening nya. Daniel bahkan dapat merasa kan jika suhu tubuh nya kini nampak dingin.


"Elis!" seru Daniel dengan suara nya yang lemah, berusaha tersenyum di depan Elis.


Elis membola, terkejut bukan kepalang, tidak ada lagi pria yang tampak gagah, berkarisma, yang ada hanya Daniel yang tampak terpaksa kuat.


"Daniel, kau?" Elis meraih lengan Daniel dan memapah nya.


"Aku tidak apa apa, aku masih bisa berjalan sendiri! Aku bukan pria yang sakit, Elis!" kilah Daniel, dengan tangan yang merekat erat pada pinggang Elis. Ke dua nya berjalan dengan Elis yang memapah tubuh besar Daniel.


"Dasar kau pria bodohhh! Masih berani menyangkal di depan ku? Kau mau membohongi ku? Kita ke rumah sakit aja ya!" kekeh Elis.


Daniel mengerutkan kening nya, menatap Elis dengan tatapan memohon, kepala nya menggeleng.


"Jangan bawa aku ke rumah sakit! Aku tidak apa apa sayang! Aku hanya butuh istirahat, iya... aku butuh istirahat. Kita kembali saja ke villa ya!" ucap Daniel dengan bibir mengerucut, suara nya tampak terdengar merajuk di telinga Elis.

__ADS_1


"Jangan berani membantah ku Daniel! Aku tidak mau tau, kita harus ke rumah sakit!" paksa Elis.


Dengan di bantu security mall, akhir nya Elis bisa membawa tubuh kekar Daniel masuk ke dalam mobil nya.


"Terima kasih banyak ya pak, atas bantun bapak, saya jadi bisa membawa suami saya masuk ke dalam mobil... ini ada sedikit untuk bapak!" ucap Elis, tangan nya menyerahkan beberapa lembar uang merah pada security mall.


...----...


"Aaaa tidak, aku sudah bilang Elis! Sebaik nya kita kembali ke villa, kenapa kau malah membawa ku ke sini! Suster, dokter, tolong jangan dengarkan wanita itu, tolong dengarkan aku saja, aku tidak apa apa. Tidak ada yang salah dengan tubuh ku!"


Daniel terus berteriak, mengumpat dan memohon, saat seorang suster berusaha menancapkan jarum infus di pergelangan tangan nya.


"Daniel, kau ini berisik sekali! Kau itu lagi sakit! Jadi, diam dan tidur lah dengan tenang!" omel Elis dengan berkacak pinggang di samping ranjang rawat Daniel.


"Benar apa yang di katakan Elis, Daniel! Lebih baik kau tenang dan tidur lah, sedikit nya istirahat adalah waktu yang sangat tepat untuk anda memulihkan kembali tenaga yang sudah terbuang." cicit dokter Herman, yang merupakan salah satu sahabat Daniel yang menjadi seorang dokter.


"Cihs dokter sundel, aku berada di sini justru membuat ku semakin tersiksa! Apa ini jarum infus? Aku membenci nya!" umpat Daniel dengan menatap lengan nya yang di infus.


"Cihs kapan aku bisa ke luar dari rumah sakit?" tanya Daniel dengan memutar bola mata nya malas.


Elis mendudukan diri nya di tepian ranjang rawat Daniel, menatap Daniel dengan menyeringai.


Plak.


Dengan gemas Elis menggeprak lengan kekar Daniel, ia bahkan mencubit Daniel di pinggang. Membuat laki laki itu meringis.


"Awwwwwhhh... kenapa kau memukul lengan ku? Kau tidak lihat aku sedang sakit? Aku di infus Elis!" ucap nya dengan datar.


Elis mencondongkan tubuh nya, mendekatkan wajah nya pada wajah Daniel.


"Seperti nya aku masih harus memeriksakan pasien lain nya!" dokter Herman melangkah meninggalkan ke dua nya.


Cup


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentarnya dong, 😅😅


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...

__ADS_1


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...


__ADS_2