Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Arif Sudirja, cemburu


__ADS_3

...💖💖💖...


"Benar kah begitu? Aku rasa Tuan ini sedikit ketinggalan berita!" ejek Elis dengan tatapan mengejek.


"Elis!" seru papa Brian dengan gelengan kepala.


Elis menyimpan benda pipih nya, ke dalam saku blezer yang tengah ia kenakan sambil menghampiri papa Brian, lalu tangan nya memeluk lengan sang ayah.


"Apa sih pah, bukan hanya Tuan ini aja yang merasa beruntung jika bisa bekerja sama dengan papa. Tapi papa juga beruntung bisa bekerja sama dengan pria yang bisa menghargai waktu. Bukan begitu Tuan?" ujar Elis panjang kali lebar dengan manja, lalu menautkan alis nya karena belum tau nama pria yang akan menjadi rekan bisnis ayah nya.


"Nona bisa panggil saya Arif, Arif Sudirja." terang Arif, dengan tangan kanan terulur di depan Elis.


"Ah ya itu. Nama yang bagus, sama kaya orang nya." puji Elis dengan senyum merekah.


"Ehem, sayang!" seru papa Brian, memberikan kode pada Elis dengan gelengan kepala.


"Mari Nona Elis, Tuan Brian, silahkan duduk." ujar Arif, dengan ramah mempersilahkan ke dua nya untuk duduk.


"Ada juga saya yang mempersilah kan kalian berdua, ayo Tuan!" ujar papa Brian dengan gak enak hati.


"Ah gak apa Tuan Brian, jangan terlalu sungkan pada saya. Kita biasa aja, saya rasa usia saya dan Nona Elis ini gak jauh berbeda, bukan begitu Nona?" ujar Arif dengan tatapan penuh arti.


'Seperti nya ini jodoh saya, saya gak akan membiarkan Nona Elis lepas dari genggamannn saya!' batin Arif penuh tekad.


Arif dan Rifan duduk dengan saling berhadapan dengan papa Brian dan juga Elis.


"Kita pesan minum dulu ya! Biar lebih mencairkan suasana ahahah." ujar papa Brian dengan terkekeh.


"Ide bagus Tuan." timpal Arif yang mencuriii lirik Elis.


"Mau pesan apa Tuan, Nona!" tanya seorang pelayan wanita, dengan tangan yang siap mencatat semua pesanan tamu nya.


"Mohon di tunggu pesanan nya Tuan, Nona!" seru pelayan wanita, setelah mencatat minuman dan beberapa cemilan yang sudah di pesan 4 orang itu.


"Jadi begini Tuan, sambil menunggu pesanan kita datang. Apa ada dari proposal kami yang tidak Tuan dan Nona gak mengerti? Biar saya jelaskan jika ada yang kurang di pahami." terang Arif, gak mau buang waktu.


Papa Brian dan Elis membuka kembali lembar demi lembar proposal yang ada di hadapan nya. Proposal yang di buat pihak Arif selaku kontruksi.


"Jadi begini Tuan Arif, apa maksud anda dengan memberikan kenyamanan, baru meminta lebih?" tanya papa Brian dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


"Oh kalo itu, bagaimana cara kita sebagai pihak kontruksi bisa memberikan kenyamanan untuk penghuni. Dan jika sudah nyaman, dan sudah memenuhi standar kebutuhan dalam satu lingkup kompleks itu, baru kita bisa menyesuaikan dengan harga perunit nya Tuan." terang Arif dengan jelas dan tegas.


"Bagaimana dengan kualitas bahan dalam pembangunan nya?" tanya Elis dengan tatapan menyelidik.


"Tentu dengan bahan yang berkualitas bagus Nona. Karena semakin lama, harga rumah itu pasti akan naik dan bukan menurun." jelas nya Arif.


"Cukup masuk akal juga!" ujar Elis dengan sedikit berfikir.


Pembicaraan mereka pun terjeda dengan datang nya semua pesenan mereka.


"Selain cantik, pandai, ternyata makanan dan minuman yang kita pesan itu sama ya Nona! Apa ini suatu pertanda jika kita berjodoh?" tanya Arif dengan penuh percaya diri.


"Apa? Jodoh? Tuan Arif dengan papa, gitu maksud nya?" tebak Elis dengan tatapan gak percaya.


"Sayang! Jangan bercanda!" ujar papa Brian usai menyeruput minuman panas nya.


"Aku gak bercanda pah! Hanya mencairkan suasana!" kilah Elis dengan terkekeh.


"Apa yang kau tertawakan Nona?" tanya Arif dengan tangan melambai di depan Elis.


"Ah tidak ada kok. Tadi sampai di mana? Emm harga lebih." terang Elis yang menjawab sendiri pertanyaan yang ia tanyakan.


"Oke kalo begitu sampai ketemu esok hari! Saya puas dengan cara persentasi kalian berdua!" puji papa Brian pada ke dua nya.


"Jadi pengajuan proposal perusahaan kami di terima, Tuan?" tanya Arif dengan menoleh sesaat ke arah Rifan, lalu ia fokus kembali pada Brian.


"Tentu, aku suka dengan cara penjabaran kalian, itu sangat mempermudah untuk aku pahami." puji Elis.


"Wah saya merasa terbang ke awan, mendengar Nona Elis memuji penjabaran saya." terang Arif dengan senyum merekah.


"Boleh, silahkan jika itu bisa membuat Tuan senang!" seru Elis.


"Kalo begitu sampai di sini, meeting saya akhiri!" jelas papa Brian yang langsung beranjak dari duduk nya.


"Senang bisa bekerja sama dengan anda, semoga pihak saya tidak mengecewakan Tuan Brian dan Nona Elis." ujar Arif yang ikut beranjak dari duduk nya.


Ke empat nya saling berjabat tangan. Dengan wajah puas pada hasil meeting kali ini.


'Seperti nya ini saat yang tepat untuk mengajak Nona Elis untuk acara nanti malam. Anggap lah itu langkah awal untuk ku mengejar cinta mu, Nona!' batin Arif.

__ADS_1


"Apa setelah ini Nona ada acara?" tanya Arif, yang langsung ingin bergerak cepat.


Rifan menarik sudut bibir nya, mendengar Arif sang atasan menanyakan hal itu pada Elis.


'Ciyeee, ada yang udah mantap nih mau ajak makan Nona Elis! Baru ketemu sekali, bos udah langsung jatuh hati ini mah! Pepettt terus bos! Nona Elis ini udah cantik, baik pula. Cocok lah sama bos!' batin Rifan.


Elis mengerut kan kening nya. "Acara saya sudah pasti banyak Tuan!" jelas Elis dengan datar.


'Mau ngapain coba, pake tanya acara. Acara apa ya setelah ini, itu bukan urusan mu Tuan Arif!' umpat Elis dalam hati.


"Jika Nona berkenan, saya ingin mengajak Nona makan malam nanti. Apa Nona gak berkeberatan?" tanya Arif dengan tatapan penuh harap.


"Ehem maaf Tuan, saya rasa urusan kita sampai di sini. Tuan gak bisa mengajak putri saya untuk makan malam, terlebih itu bukan jam kerja." tolak papa Brian dengan tegas.


"Kenapa Tuan? Kenapa Tuan keberatan? Saya ingin mengenal Nona Elis lebih jauh lagi." terang Arif, gak terima dengan keputusan Brian.


Dari arah belakang Elis, terdengar suara Daniel yang menyerukan nama Elis.


"Elis!" seru Daniel dengan tatapan menyelidik dua orang pria yang ada di samping Elis.


"Sayang! Aku kangen, kenapa gak jawab telpon ku?" rajuk Elis dengan bibir mengerucut, tangan nya memeluk lengan Daniel saat pria itu sudah berdiri di samping Elis.


"Dia siapa Nona?" tanya Arif dengan tatapan menyelidik.


"Aku suami nya!" jawab Daniel dengan tegas, tangan kanan nya terulur di depan Arif.


"A- apa? Suami Nona?" tanya Arif dengan tatapan gak percaya.


Daniel menyeringai. "Memang Tuan pikir aku ini siapa Nona Elis?" tanya Daniel sinis.


'Wah jangan bilang Tuan ini akan menjadi saingan baru ku setelah Wiliam!' batin Daniel.


Bersambung...


...💖💖💖...


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...

__ADS_1


__ADS_2