
...💖💖💖...
"Sangat padat ya jadwal kalian. Emmm ngomong ngomong Nona Elis, di mana suami anda? Apa Tuan Daniel gak menemani anda?" tanya Arif dengan tatapan menyelidik.
"Kebetulan suami saya juga lagi ada keperluan lain di kantor nya, Tuan!" ucap Elis dengan senyum yang di terpaksakan.
'Mau apa coba Tuan Arif menanyakan Daniel? Yang ada akan runyam urusan nya jika Daniel ada di sini!' batin Elis.
"Tuan Daniel bekerja di kantor apa... kalo saya boleh tau? Mungkin aja saya bisa menarikkk nya untuk bekerja sama dengan perusahaan saya." ucap Arif dengan nada meremehkan.
'Sejauh mana kesabaran mu, Nona Elis!' batin Arif dengan seringai di bibir nya.
"Menantu saya punya perusahaan sendiri Tuan Arif, cuma dia bergerak di bidang perdagangan dan distributor." jelas papa Brian.
"Owwh maaf, saya pikir hanya seorang manajer atau karyawan biasa." ucap Arif yang pura pura terkejut.
'Tuan Arif ini benar benar ya!' umpat Elis dalam hati dengan tangan yang saling mencengkrammm kesal.
"Memang kenapa jika hanya sekedar pekerja biasa? Apa itu buruk di mata Tuan Arif?" tanya Elis dengan tatapan gak suka.
"Tentu saja akan menjadi masalah di kemudian hari, apa lagi pasti ia akan mendapat pandangan buruk dari relasi bisnis anda yang lain, bukan begitu Tuan Brian?" tanya Arif, menyusut Daniel.
"Sayang nya Tuan Arif salah. Jangan lah kita menilai seseorang itu dari pekerjaan nya Tuan. Semua manusia itu sama di mata pencipta nya, yang membedakan hanya kadar keimanan seseorang di mata sang pencipta." ujar Brian, menampar telak Arif.
'Sialll Tuan Brian ini ternyata membela menantu nya!' batin Arif kesal.
"Maksud saya bukan seperti itu, Tuan Brian! Saya emmm___" Arif belum selesai dengan perkataan nya, tapi Elis sudah lebih dulu menyela perkataan nya.
"Maaf Tuan Arif, kami duluan!" Elis menggandeng lengan sang ayah, berjalan mendahului Arif dan Refan.
"Silahkan Nona!" seru Arif menahannn kekesalan nya.
"Sombong sekali!" seru Refan, menatap gak suka Elis yang mendahui Tuan nya.
"Ini baru permulaan Elis, tapi nanti. Akan ada kejutan lagi dari ku. Aku harap kau menguatkan mental mu untuk melihat nya!" gumam Arif dengan seringai di bibir nya.
"Kapan kita keluarkan kartu as nya Tuan?" tanya Refan gak sabar.
__ADS_1
"Sabar, jangan tergesa gesa jika ingin membuat nya hancur berkeping keping." cicit Arif.
...---...
Di dalam mobil yang di tumpangi Elis dan Brian.
"Apa papa yakin, ingin melanjutkan kerja sama dengan Tuan Arif?" tanya Elis dengan tatapan jengkel, menyandar kan punggung nya pada sandaran kursi mobil.
"Ada apa dengan mu sayang! Jangan menyerah hanya karena ada satu batu penghalang di depan mu. Anggap saja itu ujian yang harus kita lewati, sebagai seseorang yang ingin maju." ucap papa Brian, menepukkk nepukkk penggung tangan sang anak.
"Habis ini kita mau ke mana lagi, pah?" tanya Elis.
"Graha Parma, meeting dengan om Leo." jawab Brian.
Brian menatap Elis yang duduk di kursi sebelah nya, dengan mata terpejam, tangan bergerak mengelusss perut nya yang masih rata.
'Sabar ya sayang, denger tuh apa kata opa kamu. Anggap ini ujian menuju maju.' batin Elis, seolah tengah menguatkan kandungan nya.
"Apa kamu mau kita mampir dulu untuk makan siang, sayang?" tawar Brian.
Elis langsung membuka ke dua mata nya, duduk tegak menatap sang ayah dengan tatapan penuh keinginan.
"Sudah pasti boleh sayang. Kamu ini, udah kaya pergi dengan siapa aja!" celetuk papa Brian dengan gelengan kepala, gak nyangka Elis malah sungkan pada nya.
"Pak, nanti kita berhenti di rest area dulu ya!" titah papa Brian pada sang supir.
"Siap Tuan." jawab supir.
"Jangan, kita menepi aja kalo ada penjual bakso gerobak yang lewat pak!" titah Elis, tangan nya mengelusss perut nya yang masih rata.
"Apa Nona? Tukang bakso gerobak?" tanya pak supir dengan membola.
'Yang benar aja Nona, bakso grobak mana ada di sini, ini kan jalan bebas hambatan!' batin pak supir, dengan menggaruk kepala nya dengan tangan kiri nya, sementara tangan kanan nya fokus pada kemudi.
Elis menggangguk dengan semangat. "Sebentar lagi, kita makan bakso sayaaang." gumam Elis dengan tatapan berbinar, menatap perut nya yang masih rata.
"Maaf Tuan, Nona, gak mungkin kita temui kang bakso gerobak di jalan bebas hambatan." ucap pak supir ragu.
__ADS_1
"Tapi aku mau nya makan bakso, pah!" rengek Elis.
"Iya sayang, nanti ya... jika kita sudah ke luar dari jalan bebas hambatan." ucap Brian, mencoba memberikan pengertian pada Elis.
"Aku ingin sekarang pah!" rengek Elis lagi dengan manja, tatapan nya kini mengembun.
Dring dering dring.
"Hape mu bunyi tuh! Mungkin Daniel yang menghubungi mu sayang!" ujar papa Brian, mengalihkan tatapan nya pada tas mini yang tergeletak di sisi kanan Elis duduk.
...---...
Di kantor Daniel.
Entah sudah cup yang ke berapa, es doger yang sudah di habiskan Daniel saat ini.
"Kenapa gak di jawab juga sih! angkat dong sayang!" gumam Daniel, sembari menempelkan benda pipih nya di daun telinga kanan nya.
[ "Halo sa___ " ] Daniel terperangah, saat panggilan video call you di lakukan nya pada Elis, menampilkan sosok lain.
^^^"Sa? Sayang maksud kamu nak Daniel? Ini papah Brian, bukan Elis yang menjawab nya." goda papa Brian.^^^
[ "Iya, papa lagi di jalan mau kemana?" ] tanya Daniel, dengan kening mengkerut.
^^^"Alah anak muda banyak basa basi. Bilang aja kalo mau bicara dengan Elis. Elis, istri mu ini lagi merajuk Daniel!"^^^
Brian merubah kamera video call nya menjadi ke belakang, tepat di sana Elis yang tengah mengerucut dengan bibir yang runcing.
Punggung menyandar pada sandaran kursi, dengan ke dua kaki menekuk di depan dada nya.
[ "Sayang, astagaaa apa yang sedang kamu lakukan?" ] seru Daniel dengan wajah geleng geleng kepala.
^^^"Hubby, aku ingin bakso!" ucap Elis dengan manja, di tengah isak tangis nya.^^^
Bersambung...
...💖💖💖...
__ADS_1
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan e tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...