Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Aku atau kau


__ADS_3

...💖💖💖...


"Kram perut? Apa bahaya? Kenapa bisa kram? Tapi mereka berdua saat ini baik baik aja kan? Kenapa Elis masih memejam kan mata nya?" cecar Daniel gak sabaran.


"Kau ini sedang bertanya, atau mengintrogasi heh! Aku harus menjawab pertanyaan mu yang mana dulu, Tuan Daniel?" tanya dokter Zee dengan gelengan kepala.


"Keadaan mereka berdua, aku mau tau keadaan mereka berdua! Cepat katakan! Kau membuat ku stres aja dokter Zee!" gerutu Daniel, menggaruk kepala nya dengan frustasi.


"Astagaaa kau ini, yang hormon nya berubah ubah itu istri mu. Harus nya istri mu yang akan sering stres menghadapi mu Daniel! Ingat, Elis itu sedang mengandung, kau harus menjaga mood nya! Kau itu kan suami nya!" gerutu dokter Zee.


"Iya iya, jadi istri ku kenapa bisa kram?" tanya Daniel setelah membuang nafas nya kasar.


"Elis itu kan sedang mengandung, dalam hal ini biasa nya di sebabkan oleh rahim yang membesar. Selama trimester pertama, tubuh ibu sedang mempersiapkan janin yang sedang tumbuh. Perubahan ini bisa menyebabkan kram yang biasa nya ringan dan sementara. Jadi anda tidak perlu merasa khawatir Tuan Daniel!" terang dokter Zee panjang kali lebar, menggunakan bahasa yang mudah di mengerti Daniel.


"Owwwhh tapi kenapa istri ku bisa sampai hilang kesadaran? Apa gak ada yang lain, atau mungkin ada hal yang membahayakan lain nya?" cecar Daniel gak mau kalah.


"Kau ini, aku kan sudah ingatkan pada mu. Elis itu harus menjaga emosi nya, wanita hamil itu gak boleh sampai stress dan banyak pikiran. Karena lambat laun itu akan membayakan baby utun kalian. Mengerti tidak?" jelas dokter Zee.


Tampak dokter Zee menuliskan sesuatu di atas kertas yang ia letakkan di atas meja.


"Bagaimana jika Elis mengalami kram perut lagi? Apa kram perut nya gak bisa di pindah ke tubuh ku aja, Zee?" tanya Daniel dengan penuh harap.


"Kau pikir, wanita hamil itu membawa beban yang bisa di pindahkan hah? Astaga Daniel, bagai mana Elis dapat memindahkan kram perut nya ke pada mu. Secara logika yang mengandung itu Elis dan bukan diri mu Tuan Daniel! Kau ini, ada ada saja!" dokter Zee membuang nafas nya kasar.


Elis mulai membuka ke dua mata nya, mendapati diri nya di ruang yang tampak asing dengan nuansa putih serta bau karbol yang sangat menyengat.


Daniel langsung beranjak dari duduk nya, menghampiri sang istri.


"Sayang, akhir nya kamu sadar juga. Aku cemas melihat mu belum juga membuka mata, sayang!" seru Daniel.


Daniel mendudukan diri nya di tepian ranjang tempat Elis berbaring, tangan Daniel langsung menggenggammm jemari Elis dan mengecup nya berkali kali.


"Apa yang kamu rasakan sayang? Perut mu masih sakit gak? Apa kamu mau minum? Mau makan? Katakan pada ku! Pasti akan aku lakukan untuk mu!" cerosos Daniel, seakan lupa untuk berhenti dan terus bertanya.


"Bisa tidak, kau diam sebentar hubby. Telinga ku panas mendengar mu ngoceh terus!" titah Elis dengan tatapan sayu, serta suara yang terdengar lemah.


"Apa? Mana bisa aku diam, aku kan khawatir pada mu sayang!" tolak Daniel.


"Tapi kau mengganggu ku, hubby! Aku pusing! Perut ku bisa bisa sakit lagi! Kau membuat ku stress hubby!" rengek Elis, dengan wajah memaling ke arah lain.

__ADS_1


"Apa aku bilang Tuan Daniel, kau ini harus nya bisa mengerem bibir mu! Kau itu udah kaya mobil gak ada rem nya, palang pintu kereta yang sydah tertutup pun masih bisa kau labrak!" ledek dokter Zee.


"Sudah lah! Aku ke luar dulu, ini kan yang harus ku tebus?" Daniel merebut resep obat yang masih di pegang dokter Elis.


Daniel membawa Elis pulang, di jalan pun Elis gak banyak bicara. Hanya diam, menatap ke luar jendela.


"Sayang, apa ada yang ingin kamu makan? Kita bisa mampir sejenak membeli apa yang kau ingin." tawar Daniel dengan tangan kiri mengelusss puncak kepala Elis.


"Tidak perlu, lain kali aja. Aku mau pulang, aku mau istirahat." cicit Elis.


"Selamat datang Tuan." sapa pak Didi yang membuka kan pintu mobil untuk Tuan nya.


"Tolong bawakan aku air hangat dan handuk kecil ke kamar!" titah Daniel yang langsung jalan memutar, membuka kan pintu mobil untuk sang istri.


Ceklek.


"Sini, biar aku saja yang bawakan!" Daniel mengambil alih tas Elis dan mengalungkan nya di leher nya kembali.


"Ingat hubby, jangan banyak bicara. Aku sedang tidak ingin bicara dengan mu!" Elis mengalungkan ke dua tangan nya di leher Daniel, menatap nya dengan malas.


Sementara Daniel betah menggendong Elis dengan ke dua tangan nya. "Akan aku usahakan sayang!"


"Pak, ambilkan obat Nona yang ada di dasboard mobil." titah Daniel, saat berpapasan dengan pak Didi di tangga.


"Siap Tuan, maaf Tuan. Apa Nona sedang sakit?" tanya pak Didi yang melihat wajah Nona Muda nya gak secerah biasa nya.


"Perut nya lagi kram pak." jawab Daniel yang langsung hilang di balik pintu kamar.


Di kantor.


[ "Mela, cepat keruangan saya!" ] titah Arsandi lewat sambungan telepon nya.


^^^"Mau apa lagi pak? Pekerjaan saya masih banyak ini!" Mela menolak secara halus perintah Arsandi.^^^


[ "Mau jalan sendiri, atau mau aku yang ke ruangan mu lalu menggendong mu hah!" ] ancam Arsandi.


^^^"Dasar tangan kanan bos pemaksaaa!" seru Mela dengan suara yang naik satu oktaf.^^^


Arsandi langsung meletakkan benda pipih nya, setelah sambungan telpon terputus.

__ADS_1


"Apa aku harus mempertimbang kan perkataan Daniel? Seperti nya memang begitu, tapi aku harus menguji nya." gumam Arsandi bertanya sendiri dan menjawab nya sendiri.


Arsandi menatap pintu ruang kerja nya dengan tajam, menunggu Mela muncul dari balik pintu.


Bruk.


Mela membuka pintu ruang kerja Arsandi dengan kasar, dengan malas ia melangkah masuk.


"Buka pintu yang sopan, kau mau mengganti nya dengan gaji mu, jika pintu ruangan ku rusak?" omel Arsandi dengan tangan menguruttt dada.


'Sialannn nih bocah, bisa bisa nya buat gue kaget! Gak tau apa dari tadi pikiran gue terus ngejurusss ke lo, cewek begooo!' batin Arsandi.


'Ahahhaha mapusss lo, tadi nya ia lo baik di mata gue. Tapi sekarang gak, gue gak kagum lagi sama lo!' batin Mela, tertawa puas bisa mengerjai Arsandi yang kaget di buat nya.


"Ada apa pak Arsandi memanggil saya ke sini?" tanya Mela dengan bersikap manis, berdiri di depan meja kerja Arsandi.


"Bisa bersikap manis juga lo bocah!" cibir Arsandi, tapi ia tersenyum melihat bibir Mela yang melengkung.


"Udah gak usah basa basi pak, langsung ke inti nya. Kerjaan saya banyak!" omel Mela.


"Yang bos nya itu aku atau kau di sini? Kenapa jadi kau yang mengatur ku, bocah kecil!" Arsandi beranjak dari duduk nya, melangkah menghampiri Mela.


'Apaan tuh di sudut bibir Mela? Bikin penasaran!' batin Arsandi dengan kening mengkerut, mentap tajam sudut bibir Mela yang tampak gak biasa.


"Bapak mau apa? Jangan macam macam pak! Saya bisa teriak nih!" cecar Mela dengan melangkah mundur, saat Arsandi semakin dekat berdiri di hadapan nya.


Sreek.


Kaki Arsandi kesandung karpet yang membentang di lantai.


"Eekkhhhh!" pekik Arsandi.


Brug.


Bersambung...


...💖💖💖...


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...

__ADS_1


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...


__ADS_2