Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Demi menyenangkan menantu


__ADS_3

...💖💖💖...


"Papa tenang aja, aku udah pikirin itu. Jadi papa malah bisa kembaran sama papa Devano, hehehe." Elis meraih kembali paper bag lain nya yang ada di atas meja.


Daniel tersenyum penuh arti pada papa mertua nya. Pasti papa Brian berfikir untuk memberikan switer itu pada papa Devano, tapi sayang nya Elis jauh lebih pintar. Tidak akan membiarkan papa dan papa mertua nya saling bertengkar karena memperebutkan switer rajut.


Ceklek.


Orang yang sedang di bicarakan mereka pun akhir nya memunculkan batang hidung nya.


"Waaah ada yang habis borong nih! Hei Brian, kenapa tidak kau jadikan saja kantor mu ini sebagai pasar dadakan hahaha!" ledek Devano dengan tergelak, melihat banyak nya paper bag di atas meja kerja sahabat sekaligus besan nya itu. Tidak hanya di atas meja, beberapa paper bag pun berceceran di lantai, dekat kaki meja.


"Iya juga ya, bisa juga ide mu itu aku gunakan." ucap Brian, mengiyakan saran dari besan nya.


Elis melambaikan tangan kanan nya pada Devano. "Papa, ayo sini!"


Devano melangkah dengan semangat. "Sabar dong sayang, papa jalan juga kan harus pake perasaan. Aku rasa semakin hari ruang kerja mu semakin besar saja, Brian!" ucap Devano.


"Ngaur saja kau ini!" elak Brian.


"Aku rasa papa perlu memeriksakan kesehatan mata papa!" ledek Daniel, memundurkan sebuah kursi yang ada di depan meja, lalu membiarkan kan Devano duduk.


"Kau ini! Berani meledek papa hem? Jangan durhaka kamu ya!" sungut Devano.


"Sejak kapan kau suka mengenakan itu, Brian? Warna nya terlalu mencolok untuk mu! Malu lah kau sama umur!" cibir Devano seenak nya mengomentari Brian yang masih mengenakan switer rajut, dengan warna terang. Seterang mentari pagi yang baru terbit.


Deg.


Bak mendengar pentungan di atas kepala nya, Elis menatap Devano dengan berkaca kaca.


Switer yang ada di tangan nya kini pun ia remasss. "Papa ko ngomong jya gitu sih? Papa koh jahat sama aku sih!" ucap Elis dengan sedih, bibir bergetar, membuat bendungan semakin banjir di pelupuk mata nya.


Daniel berdehem, mengkode sang papa, bahkan satu mata nya ia kedip kedipkan.


"Ehem ehem, eemmmm."

__ADS_1


"Kau kenapa Daniel? Haus? Butuh minum?" tebak Devano, tidak mengerti dengan kode yang di berikan Daniel.


"Papa! Jawab aku, jangan mengalihkan pertanyaan!" pinta Elis dengan suara rengekan nya, menatap Devana dengan bulir bening yang membanjir pipi nya.


"Astaga sayang, ada apa dengan mu? Tangan mu pedas? Pasti tadi sebelum nya kau pegang sambal." cicit Devano.


"Huaaaaa papa Devano keterlaluan! Huaaaa huaaa papa jahat!" ucap Elis yang kini meraung raung dalam tangis nya.


"Huaaa papa menganiaya menantu!" tambah Elis lagi dalam raungan nya, menyembunyikan wajah nya di atas ke dua tangan nya yang kini bertumpu pada permukaan meja.


Devano menatap Elis dengan heran. "Kamu kenapa jadi menangis begitu, Elis? Salah papa apa sama kamu, nak?" tanya Devano dengan polos nya.


Brian menghembuskan nafas kasar nya. "Papa Devano tidak bermaksud menyindir pilihan mu, sayang! Sudah lah, jangan menangis lagi! Jangan membesar besarkan masalah!" ucap Brian dengan memijat pelipis nya.


Devano menatap heran Brian dan Daniel secara bergantian.


"Ada apa sih ini sebenar nya? Apa ada yang bisa jelaskan pada ku? Kalo kalian diam seperti ini, bagaimana aku bisa mengerti alesan di balik Elis yang tiba tiba menangis!" Devano tampak frustasi di buat nya.


"Papa sih, istri ku jadi ngambek kan!" celetuk Daniel.


"Apa? Salah papa? Kamu serius Daniel? Salah papa apa?" tanya Devano dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal, semakin bingung dengan situasi yang ada.


"Jangan menangis sayang! Papa tidak bermaksud menghina pilihan mu, papa hanya iri karena tidak mendapatkan switer yang sama dengan papa Brian!" bujuk Daniel dengan sedikit berbohong.


Devano menatap Brian dengan tatapan tidak percaya. Otak nya berusaha mencerna setiap kata yang di ucapkan Daniel, putra nya.


Brian menganggukkan kepala nya, menunjuk switer yang ia kenakan dengan bibir yang bergerak tanpa mengeluarkan suara.


'Putri ku yang membeli ini, dan kau dengan tidak tau malu nya menghina pilihan nya!'


'Aku tidak sengaja melakukan nya, aku pikir kau sendiri yang membeli nya untuk mu!' balas Devano, tanpa suara.


Elis masih sesenggukan dengan tubuh bergetar. "Hiks papa jahat, itu kan bagus. Papa juga juga bagus jika mengenakan nya." ucap Elis di sela tangis nya.


Daniel mengangkat kepala Elis lalu menangkup pipi Elis dengan ke dua tangan nya, menyeka sisa bulir bening yang membasahi pipi chabi Elis.

__ADS_1


"Sudah ya, jangan nagis lagi! Air mata mu terlalu berharga sayang! Kalo kamu nangis terus, aku khawatir pasokan air mata mu tidak akan cukup, untuk mu menangis karena aku buat bahagia." ujar Daniel dengan sedikit ngibul.


"Dasar ngaur!" cibir Elis, bibir nya mengerucut tajam.


Devano mengelusss lengan sang menantu. "Maaf kan papa ya sayang! Papa hanya iri, apa yang di katakan suami mu benar. Papa iri melihat papa mu mengenakan switer itu, kamu pasti tidak membelikan nya untuk papa kan! Papa tidak masalah ko, asal kamu tersenyum dan tidak menangis lagi!"


Namun dalam hati Devano bersorak senang, aku justru bahagia, karena kau tidak membelikan untuk papa, sayang hehehe. Warna nya terlalu norak, emang aku anak muda apa yang suka warna terang, cukup melihat anak menantu ku bahagia, sudah cukup menjadi penerang dalam hidup ku.


Brian menahan tawa, membuang pandangan nya dari Devano, kamu salah sobat, putri ku juga membelikan mu switer yang sama dengan milik ku! Hahahaha.


Daniel menarik sudut bibir nya, melihat betapa percaya diri nya sang papa. Ahahahaha papa Devano dan papa Brian ini, kalian berdua sama saja, sama sama mengira Elis hanya sayang salah satu di antara kalian.


Elis menoleh ke arah Devano, meyakinkan apa yang di katakan papa mertua nya itu.


"Papa minta maaf ya sayang! Papa suka dengan pilihan warna nya, kau pintar dalam memilih warna." Devano menarik sudut bibir nya, tidak apa lah aku berkata manis, demi menyenangkan menantu ku.


"Benarkah? Papa pasti akan lebih bahagia jika bisa mengenakan nya! Ini!" ucap Elis, menyodorkan switer yang sama dengan yang di kenakan Brian ke depan Devano.


Devano menelan saliva nya, menatap horor switer yang di sodorkan pada nya.


"Astagaaa, ada lagi?" tanya Devano dengan membola.


Elis menganggukkan kepala nya dengan cepat. "Ayo kenakan, pah! Aku ingin melihat nya, papa pasti sama gagah nya dengan papa Brian!" ucap Elis dengan senang.


Elis menatap Daniel dan Brian secara bergantian. "Benar kan apa kata ku, papa Devano pasti ganteng. Terlihat lebih muda dari usia nya saat ini!" ucap Elis dengan sudut bibir yang merekah.


Devano membuang nafas nya dengan kasar. "Tidak mungkin!" ucap nya dengan lemah, lalu menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi.


Brian tertawa lepas, melihat besan nya yang pura pura lemas tidak berdaya. "Ahahhahahha! Mampus kau Devano!"


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentarnya dong, 😅😅

__ADS_1


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...


__ADS_2