
...💖💖💖...
^^^"Assalamualaikum pah! Papa masih lama? Udah sampe mana? Gimana dengan Elis? Apa udah gak nangis pagi? Kenapa nomor Elis gak bisa aku hubungi pah?" cecar Daniel, begitu sambungan telepon nya di jawab papa mertua.^^^
Papa Brian menjauhkan benda pipih itu dari daun telinga nya, lalu berbicara gak mau kalah dari Daniel, nyerocos bak petasan banting.
[ "Heh Daniel! Kamu itu sedang bertanya apa sedang menyetel kaset kusut hah? Papa harus menjawab pertanyaan mu yang mana dulu hah?" ]
^^^"Ahahahha maaf pah, maaf. Aku lupa jika sedang berbicara di telpon. Jadi papa sekarang di mana? Bagaimana dengan Elis?"^^^
[ "Belum lama papa mampir dulu ke rest area. Tapi ternyata, makanan yang di inginkan Elis gak ada, jadi setelah ini. Mungkin masih ada beberapa waktu untuk mencari yang Elis mau. Kamu sendiri di mana?" ]
^^^"Langsung aja papa ke tempat paman Leo, kita bertemu di sana pah!" ucap Daniel, langsung memutuskan sambungan telpon nya.^^^
[ "Hei kau, benar benar anak ini!" ] umpat papa Brian, menyimpan kembali benda pipih nya.
"Ada apa dengan hubby, pah? Gak kenapa kenapa kan?" tanya Elis, dengan menggeser duduk nya lebih dekat dengan sang ayah.
"Gak usah cemas gitu! Suami kamu baik baik kok sayang!" papa Brian mengelusss puncak kepala Elis, "Istirahat lah, kamu pasti kekenyangan kan!" seru nya lagi, saat melihat Elis menguap.
"Kita langsung ke Graha Parma, pak!" titah papa Brian.
Elis yang baru menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi mobil, langsung menoleh ke arah sang ayah.
"Kok bisa gitu pah? Kata papa, kita langsung cari bakso gerobak kalo udah ke luar dari jalan bebas hambatan!" protes Elis, dengan bibir mengerucut.
"Tapi sayang, tadi suami mu bilang. Kita langsung aja ke tempat om Leo." ujar papa Brian.
Elis memutar bola mata nya, tampak berfikir dengan apa yang akan Daniel lakukan.
"Apa Daniel menyusul kita pah? Gak mungkin juga kan, kita udah paling cepat lewat jalan ini... Daniel pasti butuh waktu untuk bisa sampai di tempat paman Leo." ujar Elis dengan kesimpulan yang ia dapat.
"Kita lihat saja sayang."
Mobil melaju membelah jalan, membawa ke tiga nya ke luar dari jalan bebas hambatan.
...----...
Setelah mendengar Elis menangis menginginkan bakso gerobak, Daniel langsung menyudahi pesta minum es doger nya.
[ "Siapkan si biru! Aku membutuh kan nya saat ini juga!" ] titah Daniel, lewat benda pipih nya.
^^^"Kau yakin? Mau ke mana? Usai makan siang, kau itu ada meeting dengan kelien."^^^
[ "Aku punya asisten kan!" ]
__ADS_1
^^^"Iya punya."^^^
[ "Bagus jika kau mengerti Arsandi, jangan makan gaji buta! Aku beri kau bonus jika bisa memenangkan tender kali ini! Anggap itu modal untuk menikahi Mela!" ] ucap Daniel dengan tergelak.
^^^"Kurang ajar kau Tuan!"^^^
Tut tut tut tut.
Tanpa perduli ocehan Arsandi, Daniel memutuskan sambungan telepon nya.
Daniel langsung bersiap diri, memasuki kamar rahasia milik nya. Melepasss jas dan kemeja yang ia kenakan dan melempar nya ke sembarang arah.
Daniel mengambil kaos berwarna putih dan jaket kulit berwarna senada dengan celana yang ia kenakan, lalu mengenakan nya.
"Keren juga! Siapa dulu, calon dady!" ucap Daniel bangga, menyugar rambut nya ke belakang, dengan berdiri di depan cermin.
Tatapan mata karyawan tertuju pada sosok Daniel, yang tampak berbeda. Dengan bisik bisik, komat kamit dari bibir karyawan wanita yang memuja nya.
^^^"Gila, Tuan Daniel udah keren gitu! Mau kemana lagi tuh?"^^^
^^^"Astagaaa coba gue di lirik Tuan Daniel, naek derajat gue!"^^^
^^^"Beruntung nya Nona Elis, udah kaya, keren, kurang apa coba!"^^^
"Sudah aman kan?" tanya Daniel, saat melihat kuda besi sport mahal milik nya, yang berwarna biru kini tampak gagah di hadapan nya.
"Sudah aman Tuan!" ucap Arsandi, menepuk nepuk setang motor sport yang baru aja ia ke luarkan dari parkiran gedung.
"Aku jalan dulu! Aku tunggu kabar baik dari hasil meeting siang ini!" ucap Danie penuh harap.
Ngeeeng, ngeeeeng, ngeeeng.
Suara motor sport berbunyi kencanggg, saat Daniel menarikkk gas nya, dengan tangan lain menarikkk rem nya.
"Selamat bersenang senang Tuan Daniel!" seru Arsandi, dengan tangan kanan nya yang melambai ke atas.
Daniel melajukan motor sport berwarna biru metalik milik nya dengan kecepatan penuh, menyalip pengendara lain yang menghalangi jalan mulus nya. Bukan hal yang sulit untuk Daniel mengendarai kuda besi milik nya, terlebih dengan skill yang ia miliki dalam hal menyalip kendaraan lain nya.
Jarak bukan lagi menjadi penghalang untuk diri nya, menuju tempat di mana sang istri berada. Jiwa nya semakin terpanggil, setelah mendengar suara Elis yang mengadu dengan isakan tangis nya.
"Tunggu aku sayang!" gumam Daniel, di balik helm yang menutupi wajah rupawan nya.
Daniel berhenti sejenak dan menghubungi sang istri.
...Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif... atau sedang berada di luar area. Mohon hubungi beberapa saat lagi....
__ADS_1
"Sialll, kenapa operator yang menjawab!" umpat Daniel.
Ia menghubungi papa Brian, setelah percakapan singkat dengan papa nertua. Daniel melanjutkan kembali arah tujuan awal nya.
...----...
Mela yang masih sibuk dengan revisi laporan keuangan. Di kejutkan dengan suara pintu yang di buka dengan keras dari luar.
Brak.
"Mati lu!" ucap Mela dengan spontan, sambil beranjak dari duduk nya.
Arsandi menatap Mela dengan kening mengkerut. 'Gadis gila ini latah juga? Astagaaa mimpi apa aku, bisa bisa nya mengejar gadis gila sepaket dengan latah!'
"Bisa gak sih! Sehari aja gak buat aku naik darah!" umpat Mela dengan suara tinggi, mendudukan kembali bobot tubuh nya pada kursi yang ia duduki sebelom nya.
Arsandi mengayunkan langkah memasuki ruang kerja Mela, dengan pintu yang tertutup perlahan.
"Saya ini gak mungkin bisa membuat kamu naik darah, tapi saya akan membuat kamu berbunga bunga, menjadi wanita paling spesial dalam hidup saya!" ucap Arsandi datar dan kaku.
Mela menggrauk kepala nya frustasi. "Astagaaa bapaaaaak, jangan mimpi. Bapak sendiri kan yang bilang begitu! Sekarang lebih baik bapak ke luar dari ruangan saya!" ucap Mela tegas, dengan jari telunjuk tangan kanan nya yang menunjuk ke atah pintu.
"Saya memang akan ke luar dari ruangan ini, tapi tidak sendiri!" ucap Arsandi dengan menyeringai.
"Maksud nya?" tanya Mela dengan penuh tanya dengan kening mengkerut.
"Tentu saja, ke luar bersama dengan mu... kamu pikir, saya akan ke luar dari ruangan ini dengan siapa lagi hah?" ucap Arsandi setelah berada di dekat Mela.
"Maaf pak, pekerjaan saya masih banyak. Bapak bisa tinggalkan ruangan saya sekarang juga!" ucap Mela tegas.
Grap.
"Akkkhhh! Lepasss pak!"
Arsandi menarik pergelangan tangan Mela, hingga gadis itu beranjak dari duduk nya dan berdiri di hadapan Arsandi.
"Kamu lupa dengan apa yang aku katakan tadi, hem?" tanya Arsandi, mengingatkan Mela.
Bersambung...
...💖💖💖...
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan ke tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
Jangan lupa ⭐⭐⭐⭐⭐ biar rajin update 😭😭
__ADS_1