
...💖💖💖...
"Tapi Nona, kenapa bisa begitu?" tanya koki Adi yang mendengar permintaan Elis.
"Karena aku gak suka bau nya, itu bikin aku mual!" seru Elis dengan tatapan marah.
"Lakukan saja apa yang di minta Nona!" seru Daniel, dengan gerakan kepala pada koki Adi.
"Baik Tuan, akan saya singkirkan sup nya dari meja makan." ujar koki Adi.
"Ini Nona!" asisten koki menyodorkan secangkir teh hangat jahe pada Elis.
Elis meminum nya hingga tandas. Asisten koki meninggal kan ke dua nya, lalu melanjutkan pekerjaan nya.
"Kamu udah lebih baikan sayang?" tanya Daniel, tangan kanan nya terulur lalu menyeka sisa minuman yang ada di bibir bawah Elis dengan jari telunjuk nya.
"Udah." jawab Elis singkat.
"Kita kembali ya, ke meja makan! Kamu kan belum sarapan." bujuk Daniel, membimbing Elis menuju meja makan dengan tangan merangkul bahu sang istri.
"Kamu aja yang sarapan."
Daniel mengerut kan kening nya. "Sama kamu juga kan sayang, kita sarapan sama sama." ujar Daniel.
"Gak mau, pokok nya kamu aja yang sarapan. Aku lietin kamu sarapan juga udah kenyang." kilah Elis dengan alasan yang gak masuk akal.
Daniel menarik kursi ke belakang, membiarkan Elis duduk di sana.
"Apa Nona sedang sakit?" tanya Arsandi yang menatap prihatin pada Nona Muda nya.
"Maaf ya Ar, jadi mengganggu sarapan mu! Udah kalian lanjut sarapan nya." ujar Elis dengan perasaan gak enak nya.
"Gak apa kok Nona, jadi saya yang gak enak. Numpang sarapan di sini!" Arsandi menggaruk kepala nya yang gak gatal.
"Halah basi!" cibir Daniel, mengarahkan suapan ke depan bibir Elis.
"Aku gak mau, kamu aja!" tolak Elis dengan manja, tangan nya mendorong lengan Daniel, guna menjauhkan sendok dari hadapan nya.
"Gak sayang, kamu itu belum sarapan. Jadi biarkan aku menyuapi mu! Oke cantik ku!" bujuk Daniel.
"Rasa nya pasti gak enak hubby!" kilah Elis, menatap malas pada sendok yang di arahkan Daniel pada nya.
"Ini enak kok Nona, masakan koki Adi sungguh sangat lezat, gak ada dua nya Nona." ujar Arsandi, memuji masakan koki Adi yang terhidang di atas meja, dengan sup yang kini menghilang.
Elis menggeleng kan kepala nya dengan mantap.
"Aku mau sarapan bubur yang hubby masakkan untuk ku!" celetuk Elis, menatap Daniel dengan berbinar.
__ADS_1
"Apa? Bubur yang aku masak untuk mu?" tanya Daniel dengan terkejut.
"Iya, tadi kamu bilang sudah buatkan aku bubur. Aku mau sekarang!" rengek Elis dengan manja, bibir nya mengerucut bak anak kecil yang tengah merajuk.
"I- iya tapi aku harus masak lagi sayang, bubur yang aku buat kan untuk mu kan tumpah... karena aku gak sengaja jatuhkan." bohong Daniel, menatap tajam Arsandi.
'Lakukan sesuatu untuk ku Arsandi, jangan hanya diam saja menjadi penonton!' umpat Daniel, melihat Arsandi yang malah tampak berfikir.
'Sejak kapan Daniel bisa membuat bubur? Aku sejak tadi di sini tidak melihat Daniel menginjakkan dapur, ke dua nya malah turun bersama untuk sarapan. Ada yang di sembunyikan lagi dari ku!' pikir Arsandi yang malah larut dalam pemikiran nya.
"Hubby, gak semua bubur nya kamu jatuhkan bukan? Pasti masih ada sisa di panci nya. Panci yang kamu gunakan untuk memasak bubur." ujar Elis, menopang wajah nya dengan satu tangan nya yang ada di atas meja.
"Panci?" tanya Daniel dengan tampang bodohhh nya.
Prang.
Dari arah dapur, terdengar suara panci yang terjatuh ke lantai. Membuat Arsandi yang tengah melamun kini tersadar di sertai dengan ucapan spontan nya.
"Mati lu!" seru Arsandi dengan spontan dengan suara naik satu oktaf.
Elis dan Daniel, sama sama menoleh ke arah Arsandi dengan tatapan bingung.
'Sejak kapan Arsandi jadi latah?' pikir Daniel.
'Aku baru tau Arsandi ini latah!' batin Elis menahan tawa.
"Hehehe, maaf aku tidak sengaja." ujar Arsandi, dengan menggaruk kepala nya yang gak gatal.
Arsandi mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, membelah jalan menuju gedung milik keluarga Elis.
"Kamu yakin mau ke kantor papa Brian? Gak mau temenin aku di kantor gitu?" tanya Daniel, meyakinkan kembali Elis.
"Gak bisa, pokok nya aku mau ke kantor papa. Aku kan udah lama gak ke kantor papa, hubby!" rengek Elis, duduk bersandar di kursi belakang, dengan tangan memeluk Daniel, kepala nya menyandar pada lengan kekar Daniel.
"Tapi aku gak mau berjauhan dengan mu sayang!" Daniel mengerucut kan bibir nya, menatap Elis dengan tatapan memohon.
Krek.
Elis dengan gemasss mencubittt pinggang Daniel, membuat pria bertubuh atletis itu menggeliattt dengan pekikan suara yang terdengar menggoda di telinga Elis.
"A- a- awwhh sakit sayang!" pekik Daniel.
"Sakit mu mengada ada hubby! Poko nya untuk hari ini, kamu selesaikan pekerjaan mu, dan aku bantu papa di kantor. Kita bertemu di saat jam makan siang, oke sayang ku hubby!" ucap Elis yang kini mendongakkan kepala nya, menatap Daniel dengan meyakinkan.
Daniel menggelengkan kepala nya. 'Aku mana bisa jauh dari mu sayang! Apa lagi dengan melon kembar mu, itu sangat berat, itu adalah sumber tenaga ku di saat lelah ku, letih ku, pusing ku. Kamu itu obat untuk ku sayang!' Daniel menelan saliva nya, menatap melon kembar di balik pakaian kantor yang di kenakan Elis.
Plak.
__ADS_1
Tangan Elis mendarat di paha Daniel, membuat pria itu malu sendiri dengan pikiran nya yang sudah traveling.
Wajah Daniel bersemu, tangan nya mengelusss paha nya yang di geprak Elis dengan telapak tangan nya.
"Kenapa merah gitu? Kamu malu?" tanya Elis melihat wajah Daniel yang tampak merona.
"A- aku gak malu, cuma ini kenapa cuaca nya jadi panas gini ya!" ujar Daniel, dengan canggung menggaruk kepala nya yang gak gatal.
"Ahahhaha kau lihat itu Arsandi, Tuan mu bisa juga malu!" goda Elis dengan tergelak, bahkan sudut mata nya sampai mengeluarkan air mata.
"Iya Nona, saya juga bisa melihat nya. Pria dingin ini bisa malu dengan Nona." Arsandi ikut menggoda Daniel, sesekali melirik Daniel dan Elis lewat kaca spion.
"Hei kau, kerja saja. Itu fokus pada jalan." gerutu Daniel, dengan jemari nya yang bermain manja di ujung rambut Elis.
"Kau tunggu sini!" titah Daniel, saat Arsandi membuka kan pintu mobil untuk Elis.
Daniel langsung ikut turun dari mobil, menghampiri Elis berada.
"Aku akan mengantar mu sayang!" ujar Daniel, merekattt kan tangan nya di pinggang Elis.
"Selamat pagi Nona!" seru Nila, di belakang meja resepsionis, melihat Elis dan Daniel.
"Pagi juga, papa udah dateng, Nila?" tanya Elis dengan ramah, menghentikan langkah kaki nya.
"Sudah Nona."
"Aku ke atas dulu ya!" seru Elis.
"Kamu yakin sayang, gak mau ikut aku ke kantor?" tanya Daniel lagi, saat ke dua nya berada di dalam lift.
"Gak hubby! Mau kamu tanya lagi, aku tetap stay di sini!" kekeh Elis dengan manja, menggelayut di lengan Daniel.
"Kenapa baru sekarang menggelayut manja di lengan ku?" tanya Daniel dengan tatapan menyelidik.
Elis mendongakkan kepala nya, menatap Daniel yang kini tengah menuntut nya untuk menjawab pertanyaan nya itu.
"Karena saat ini kita sedang berdua hubby, di dalam lift. Dan gak ada yang melihat kita!" seru Elis dengan manja, jemari nya bergerak liarrr di dada Daniel yang berbalut dengan jas dan kemeja.
"Jadi harus ada beda nya? Kau tidak sedang menyembunyikan apa pun dari ku kan, sayang?" tuduh dan tebak Daniel dengan tatapan menyelidik.
Elis mengerut kening nya. "Kau pikir aku mmmmpppphh!"
Bersambung...
...💖💖💖...
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
__ADS_1
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...