
...💖💖💖...
Tiiiiiiin.
Elis membola, melihat kendaraan di belakang Daniel yang melaju kencang tidak terkendali.
Elis langsung turun dari mobil. "Daniel, menyingkir! Awas!"
Brak
Brak brak bugh duar.
Tabrakan bruntun tidak terhindarkan lagi, lalu bunyi ledakan keras dari mobil yang hilang kendali dan menabrak apa saja yang ada di depannya.
Jalan yang ramai dengan kendaraan kini nampak beberapa kendaraan yang rusak parah, ringsek, dan kobaran api dari beberapa titik. Banyak korban yang berjatuhan, dengan darah bercecer di mana mana, rintihan orang yang kesakitan pun kini terdengar lirih.
Elis duduk di tepian ranjang UGD, salah satu rumah sakit terdekat dari lokasi terjadinya kecelakaan beruntun. Sementara Daniel di depannya, berjongkok, meletakkan satu kaki Elis di atas pahanya, lalu mulai mengobati luka Elis.
"Dasar Daniel bodoh! Kau sungguh nekat! Gak sayang nyawa kamu apa?" sungut Elis dengan menatap jengkel Daniel.
"Kau yang bodoh, Elis! Kenapa kau melakukan ini? Hem? Ini pasti sakit kan?" Daniel menyapu luka pada kaki Elis dengan kapas yang sudah di beri alkohol.
"Awwwhhh sakit, pelan pelan! Kau mau mengobati luka ku, apa mau memperburuk luka ku sih!" sungit Elis dengan kesal, bibir mengerucut.
"Ini aku sudah pelan!" sesekali Daniel meniup pada bagian yang luka, sesekali menatap mata indah Elis.
Bugh.
Elis yang merasakan perih saat kapas di tekan pada lukanya, dengan sekuat tenaga menendang perut Daniel, hingga ia terjungkal.
"Elisssss! Kau gila! Dasar wanita tidak waras!" teriak Daniel dengan suara penuh penekanan.
Wajah Daniel merah padam, bokongnya terasa sakit dan malu tidak lagi terhindarkan dari tatapan para suster dan beberapa pasien, mereka bahkan menahan tawa yang sudah pasti akan pecah melihat tingkah konyol Elis dan Daniel.
"Kau ini apa apan sih!" sungut Daniel dengan bangkit dari posisinya, lalu beranjak meninggalkan Elis.
"Ihs mana aku tau kau akan jatuh! Siapa suruh mengobati luka ku malah kau tekan! Emang gak sakit apa! Dasar Daniel!" sungut Elis dengan bibir mengerucut, melihat punggung Daniel yang semakin menjauh dari pandangannya.
__ADS_1
Elis mengibas kibaskan tangannya di atas kakinya yang luka, berharap udara yang berhembus dapat meredakan rasa perihnya.
...----...
Hari yang di tunggu pun tiba, dekorasi indah dengan nuansa salju, dan bunga lili putih tampak bertabur menghiasi sudut ruang dengan warna gold dan putih yang mendominasi.
Daniel dan Elis bak raja dan ratu dalam sehari. Daniel namapk gagah dengan setelan yang membalut tubuh atletisnya, dengan wajahnya yang tampak cool.
Sementara Elis tampak cantik dengan balutan gaun putih yang bertabur intan dan berlian.
Sementara senyum bahagia terukir di wajah ke dua pria paruh baya yang kini resmi menjadi besan. Brian dan Devano, dengan senyum tulis dan bahagia menyapa dan mengajak ngobrol tamu undangan yang hadir, tamu yang sebagian besar adalah rekan bisnis mereka berdua.
"Wah beruntung sekali ya, Daniel bisa menikahi putri mu Brian!" ucap Nugroho.
"Bukan hanya Daniel yang beruntung, Elis juga beruntung mendapatkan pria setia seperti Daniel! Pria yang bertanggung jawab, pria yang dapat di andalkan." pujian terlontar dari bibir Brian, dengan senyum yang mengembang pada lawan bicaranya.
"Bukannya ku dengar Elis batal bertunangan dengan Wiliam? Bagaimana kabarnya sekarang pria itu? Pasti pria itu menyesal, sudah mencampakkan putri mu di malam pertunangan mereka!" ucap Baim dengan tatapan mengejek pria yang tidak berada jauh dari mereka.
"Sudah lah, aku tidak ingin membahas yang lalu. Lebih baik bahas yang sekarang dan masa depan. Aku harap Elis akan selamanya bahagia dengan Daniel." terang Brian.
"Ah kau kaya tidak tahu saja, putri ku sangat sibuk di dunia modelnya, paling yah tunggu beberapa kontraknya dengan beberapa produser selesai, baru Stefani memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius dengan kekasihnya." terang Baim dengan tangan mengepal, nampak buku buku jarinya yang terlihat menonjol.
"Oh ya? Terikat kontrak ya, bukannya karena putri mu yang belum menemukan pelabuhan hatinya?" sindir Devano.
"Apa maksud mu, Devano?" tanya Baim dengan tatapan menyelidik, gak mungkin kan Devano tau perasaan Stefani pada putranya Daniel?
Brian menatap ke dua sahabatnya itu secara bergantian. Jika aku biarkan seperti ini terus, bisa semakin buruk suasananya, yang ada bukan hanya putra putri kami yang berselisih, orang tua pun bisa berselisih.
"Sepertinya perut dan otak kalian sudah mulai kosong, lebih baik kita ke meja jamuan saja! Kita kenyangkan perut yang kosong, baru kita ngobrol lagi! Bagaimana, kalian mau kan? Dengan begitu otak kita akan fresh kembali!" ujar Brian panjang lebar pada ke dua sahabatnya.
Di atas pelaminan, sepasang pengantin yang tengah duduk dengan beberapa fotografer yang mengambil potret mereka berdua. Di buat baper dengan tingkah ke duanya.
Daniel mengecup punggung tangan kanan Elis. "Betapa beruntungnya aku menjadikan mu, ratu dalam hati ku!" ujar Daniel.
"Prit wit! Aiihs pak Daniel, liet tempat apa, saya masih jomblo pak. Belom nemu yang kaya bapak!" ucap Feli dengan wajah memelas dari kursi yang berada persis di depan pelaminan.
"Lo sama gue aja! Gue juga jomblo!" seru seorang pria yang berdiri di belakang kursi yang di duduki Feli.
__ADS_1
Feli membuang nafasnya dengan kasar, kalo dari suaranya... ini cowok pasti ganteng.
Tanpa ragu Feli menoleh ke belakang, untuk melihat siapa pria yang berbicara padanya.
"Kamu mau kan sama aku, cantik?" tanya pria itu setelah Feli dapat melihatnya dengan mata dan kepalanya.
"Aaaakkkkkk mending jadi jomblo seumur hidup deh, kalo dapet cowok kaya lo!" Feli menangkup ke dua wajahnya sendiri, dengan lengkingan keras dari bibirnya.
"Ahahahhah Feli, Feli, terima aja nasib lo! Masih mending ada yang mau sama lo!" Robi tergelak, tangan kanannya memegangi perutnya, menahan sakit karena mentertawan tingkah kocak rekan kerjanya.
"Apa kau mengundang Stefani, sayang?" tanya Daniel.
"Sebagai sahabat, aku mengundangnya, tapi sebagai rival, apa perlu aku mengatakannya pada mu? Hem?" ucap Elis dengan kerlingan matanya.
"Kau sedang menggoda ku?" tanya Daniel dengan sudut bibirnya yang mengembang.
"Tidak juga!" ucap Elis dengan acuk, memalingkan wajah dari Daniel.
Daniel berbisik di telinga Elis. "Kau sangat cantik hari ini, aku jadi tidak sabar menanti datangnya malam."
Elis mengerutkan keningnya, membuatnya menoleh.
Cup.
Bibir Elis berlabuh pada bibir Daniel, wajah ke duanya tanpa jarak.
"Apa rasanya manis?" tanya Daniel dengan memainkan alisnya naik turun.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...
__ADS_1