Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Rumah baru


__ADS_3

...💖💖💖...


Devano membuang nafas nya dengan kasar. "Tidak mungkin!" ucap nya dengan lemah, lalu menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi.


Brian tertawa lepas, melihat besan nya yang pura pura lemas tidak berdaya. "Ahahhahahha! Mampus kau Devano!"


...---...


Dalam satu ruang VVIP yang tampak mewah di salah satu restoran ternama, nampak lah kini Elis, Daniel, Devano dan Brian menikmati makan siang mereka.


Elis menatap ke dua pria paruh baya yang ada di hadapan nya dengan senyum mengembang.


"Aku pintar kan sayang, papa kita terlihat begitu menggemaskan!" ucap Elis dengan mulut yang mengunyah makanan nya.


"Siapa dulu dong, pilihan istri nya Daniel! Memang gak bisa di ragukan!" timpal Daniel, tangan kanan nya terulur, mengelap sisa saus yang terdapat di sudut bibir nya Elis dengan jempol nya lalu menjilat nya. "Manis juga rasa nya!"


"Dasar pria bucin!" sungut Devano, menatap jengkel putra semata wayang nya.


"Kau tidak ingat, buah tidak akan jatuh jauh dari pohon nya!" ledek Brian dengan ekor mata nya, meledek besan nya.


"Tapi aku tidak separah putra ku!" elak Devano.


"Ahahha, apa pun itu! Sama saja!" kekeh Brian, menyantap makan siang nya dengan kurang bersemangat.


"Ehem, sayang... ngomong ngomong, sampai kapan papa mengenakan switer ini? Papa gerah ini!" tanya Devano, sementara ruang yang mereka tempati kini di fasilitasi dengan pendingin ruangan.


"Emmmm sampai aku dan Daniel pergi, hehehe... iya kan sayang! Temani aku ke salon hari ini ya! Kaya nya enak jika melakukan perawatan." ucap Elis dengan bersemangat.


"Ide bagus. Aku hanya menemani mu kan? Salon mana?" cecar Daniel.


Devano membuang nafas lega, akhir nya aku bisa terbebas dari ini switer norak ini.


Devano dan Brian memilih menyibukkan diri mereka kembali ke kantor Brian. Membahas rencana apa yang akan mereka buat untuk masa depan Elis dan Daniel jika Elis mengandung nanti nya.

__ADS_1


"Pokok nya Elis tidak boleh terlalu cape, jangan kau sibuk kan putri mu itu dengan aktivitas di luar ruangan. Berikan Elis pekerjaan yang lebih santai aja, Bri!" Devano menyuarakan keinginan nya pada Brian.


"Aku sudah tau itu, jadi menurut mu... pekerjaan apa yang pantas untuk putri ku? Tapi jika Elis lebih di sibukkan dengan aktivitas di dalam ruangan, bagaimana dengan Daniel? Apa mereka bisa berjauhan hanya untuk beberapa jam?" ujar Brian, menimbang kembali Daniel dan Elis.


Sementara ke dua pria paruh baya ini saling bersitegang karena sesekali terjadi beda pendapat dan keinginan.


Ke dua pelaku nya sendiri tengah enak enakan menikmati perawatan salon. Elis dan Daniel akhir nya sama sama memilih perawatan yang bisa di lakukan bersama sama.


"Gimana, enak kan?" tanya Elis dengan menoleh ke arah Daniel yang sedang di massage spa, ke dua nya sama sama dalam posisi tengkurap, berada dalam satu ruang yang di khususkan untuk pasangan.


"Aku baru tau jika di massage bisa seenak ini, sayang!" jawab Daniel dengan menatap lekat wajah Elis.


"Maka nya kalo di ajakin perawatan itu harus mau, dulu aja... nolak mulu, pake alesan." Elis mencontoh kan kembali, kalimat kalimat yang pernah di ucapkan Daniel saat mengantar Elis ke salon.


~ Nona aja.


~ Sayang tunggu aja.


~ Saya sedang ada urusan.


"Menyebalkan bukan!" cibir Elis dengan bibir mengerucut.


"Maaf sayang, aku kan waktu itu benar benar ada pekerjaan yang tidak bisa aku hindari." ucap Daniel, dengan raut wajah tampak sedikit sesal terbit di wajah nya.


"Hai, ada apa dengan mu? Kenapa harus sedih? Toh sekarang kau menemani ku! Di sini! Memanjakan tubuh kita pasti nya!" Elis menyunggingkan senyum tulus di bibir nya.


Beberapa jam kemudian, Daniel membawa Elis pulang ke rumah baru mereka. Rumah hasil dari kerja keras Daniel yang berpura pura sebagai supir pribadi sekaligus bodyguard Elis, tanpa Elis sadari tentu nya. Dan sebagian lagi pasti nya uang dari beberapa kerajaan bisnis yang ia kelola.



"Apa kau tidak salah membawa ku pulang, Daniel? Ini rumah besar banget, lalu kau mau aku membersihkan ini seorang diri, gitu? Astagaaa ini gila Daniel!" gerutu Elis dengan tatapan takjub, pada rumah yang ia lihat berdiri kokoh di depan nya.


"Tentu tidak sayang, aku tidak akan sejahat itu membiarkan mu bersusah payah membersihkan rumah besar kita ini seorang diri! Kau hanya perlu duduk manis, memghabiskan yang yang aku berikan untuk mu!" Daniel menggenggammm jemari Elis dan kengecup nya.

__ADS_1


"Mulai sekarang, jadi lah ratu di rumah ku! Istana kita, tempat kita pulang setelah lelah seharian berjibaku, berkutat dengan sibuk nya realita." terang Daniel dengan tatapan hangat.


"Aaahhhh sweeet banget sih kamu, Daniel! Beruntung nya aku bisa menjadi istri mu!" ucap Elis dengan pipi merona.


"Iiiiyes, akhir nya kau mengakui nya sayang, kau memang beruntung memiliki ku, memilih ku sebagai teman hidup dan mati mu!" dengan bersemangat Daniel menarik lengan nya ke bawah, dengan kepalan tangan. Wajah berseri nampak di wajah nya.


Hap.


Daniel melingkarkan ke dua tangan nya di pinggang Elis, lalu mengangkat dan memutar tubuh mereka, sementara Elis langsung menekuk kan ke dua kaki nya ke atas, dengan ke dua tangan yang merekat di leher Daniel.


"Aku mencintai mu, Elisabeth!" ucap Daniel.


"Ihs jangan norak Daniel! Kau membuat ku malu!" wajah Elis semakin merona.


Entah sejak kapan, beberapa pelayan kini sudah berdiri di depan rumah dengan berjejer rapih, menatap ke dua nya dengan wajah senang.


Daniel mrmbawa Elis untuk mendekat ke arah para pelayan, setelah Daniel berhasil mendaratkan ke dua kaki Elis di atas lantai dengan selamat.


"Selamat datang Nona Elis, Tuan Daniel! Kami akan melayani anda dengan jiwa dan raga kami, bekerja dengan senang hati, membuat Nona dan Tuan selalu merasa nyaman saat berada di rumah." ucap para pelayan dengan kompak, seolah mereka sudah di latih sebelum nya.


"Apa ini kerjaan mu juga, sayang?" tanya Elis dengan tatapan menyelidik.


"Kau tau aku sayang, apa pun untuk menyenangkan hati mu, pasti akan aku lakukan. Meski nyawa menjadi taruhan nya. Atau nyawa ku pun rela aku berikan untuk mu!" Daniel menarik pinggang Elis agar lebih dekat lagi dengan nya. Hingga tubuh ke dua nya saling merekah.


"Aku mencintai mu, istri ku, belahan jiwa ku, kau lah nafas ku!" ucap Daniel di telinga Elis.


Daniel dan Elis saling menautkan ke dua bibir mereka. Membuat para pelayan dengan sadar nya membalikkan tubuh mereka.


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentarnya dong, 😅😅

__ADS_1


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...


__ADS_2