Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Menunggu perintah


__ADS_3

...💖💖💖...


Elis mengerut kening nya. "Kau pikir aku mmmmpppphh!"


'Dasar Daniel bodohhh, bagaimana jika pintu lift tiba tiba terbuka, lalu ada yang lihat kita berciumannn di dalam lift?' umpat Elis, dalam hati dengan tangan memukulll dada bidang Daniel.


Daniel menatap Elis dengan penuh kemenangan, bibir nya terus saja mencium Elis dengan lembut namun menuntut.


Tangan Daniel bergerak menyusurii punggung sang istri, sebelum akhir nya pintu lift terbuka dan Daniel sudah melepasakan tautannn bibir mereka berdua.


"Kau gila hubby!" omel Elis dengan tatapan jengkel.


"Aku gila karena mu, sayang!" Daniel mengecup berkali kali punggung tangan Elis.


Ke dua nya melangkah ke luar dari lift, tampak beberapa karyawan yang berpapasan dengan ke dua nya saat di depan lift memasang wajah kagum dan iri.


"Lain kali jagan di ulangi! Aku gak suka!" omel Elis yang memilih jalan tanpa memeluk lengan Daniel.


"Kenapa gak suka? Kita kan suami istri, wajah kan?" bantah Daniel.


Daniel menautkan jemari nya dengan jemari Elis, membuat nya melangkah beriringan.


"Jalan nya biasa aja, udah kaya mau ambil gaji aja sih!" goda Daniel.


"Nona Elis bikin iri aja!" seru seorang karyawan, yang baru aja di lewati kubikel nya oleh Elis dan Daniel.


"Iri?" Elis bertanya pada diri nya sendiri.


Elis menghentikan langkah kaki nya, membuat Daniel pun ikut berhenti, lalu menoleh ke arah Daniel. Mengamati apa yang salah dengan suami nya.


"Apa yang kamu lihat, sayang? Ruang papa udah di depan itu!" tanya Daniel, ikut mengamati diri nya sendiri, lalu menujuk di mana ruang kebesaran papa mertua nya berada.


"Kamu keren pake tas ku hehehe!" goda Elis, dengan melingkarkan tangan nya di lengan Daniel, di ikuti dengan kepala nya menyandar pada lengan Daniel.


"Aku makin cinta pada mu sayang!" goda Daniel dengan senyum merekah.


Elis dan Daniel kini mengayunkan langkah kaki nya dengan mantap, menuju ruang kebesaran papa Brian.


Ceklek.


"Papa!" seru Elis dengan tangan Daniel yang membika hendle pintu.


Papa Brian mendongak, menoleh ke arah pintu, dengan tatapan berbinar senang, ia beranjak dari duduk nya. Menyambut kedatangan putri tercinta dan menantu nya.


"Oowwwwhhh putri ku tersayang, papa pikir kamu melupakan kantor papa, hingga gak sudi lagi mampir ke ruang kerja papa ini yang sepi dan sunyi." ujar papa Brian panjang kali lebar, dengan tangan yang merentang.


"Ah papa mah, suka berlebihan gitu ihs!" sungut Elis dengan manja, berhambur ke dalam pelukan sang papa.

__ADS_1


"Hei kau menantu durhaka, pasti kau yang sudah melarang putri ku ini untuk ke sini heh!" tuduh papa Brian dengan tatapan tajam, menunjukkan kemarahan nya.


"Apa sih pah! Gak gitu deh!" Elis merajuk, dengan tangan nya yang mencubittt perut papa Brian yang masih aja bugar karena menjaga kebugaran tubuh nya.


"Iya sayang, papa tau. Daniel juga gak marah tuh! Toh papa hanya bergurau." ujar papa Brian, menggiring anak menantu nya untuk duduk di sofa yang ada di ruang kebesaran nya.


"Jadi kalian ke sini mau bawa kabar apa?" tanya papa Brian, dengan kaki kanan menyilang di atas kaki kiri nya. Punggung menyandar pada sandaran sofa.


"Daniel ke sini hanya untuk mengantar Elis aja pah." terang Daniel, menatap Elis penuh cinta.


"Mengantar mu, sayang? Kamu butuh bantuan papa? Bantuan apa? Katakan saja pada papa, kamu butuh uang berapa?" cecar papa Brian, sok tau dengan tatapan serius.


Daniel menggelengkan kepala nya. "Astagaaa pah, gak sekering itu juga kali pah isi dompet Daniel!" ujar Daniel dengan bibir mengerucut.


"Ahahhaha kamu ini Daniel, papa tau sedalam apa isi dompet mu! Gak usah di bawa serius gitu lah!" gurau papa Brian.


"Ihs papa mah, dari tadi bercanda terus. Pantesan gak ada tampang tua nya ahahaha!" ledek Elis yang duduk di samping Daniel.


"Hidup itu ada kala nya jangan terlalu di bawa serius sayang. Tapi jika sudah menyangkut pekerjaan, ya papa harus serius lah." ujar papa Brian, dengan wajah yang lebih rileks tanpa ada ketegangannn di wajah Daniel.


Dring dring dring.


Hape Daniel berdering, tanda ada panggilan masuk ke nomor telepon nya.


"Daniel jawab dulu ya pah, sayang!" Daniel mengenjawab panggilan telpon nya, dengan tatap pada duduk nya tanpa bergeming.


'Aku senang jika pada akhir nya perjodohan ini berjalan dengan lancar, meski aku tau Elis dan Daniel menjalani nikah kontrak di awal pernikahan mereka. Tapi aku yakin... suatu saat nanti. Elis akan membuka pintu hati nya untuk Daniel. Apa lagi saat ini Elis tengah mengandung benihhh Daniel.' batin papa Brian.


"Papa baik baik aja kan selama aku gak dateng ke kantor?" tanya Elis dengan penuh perhatian.


"Baik dong nak. Kamu lihat sendiri kan, oh iya. Nanti temani papa untuk menghadiri meeting di luar ya sayang!" pinta papa Brian dengan tatapan penuh harap.


"Pasti dong pah, pasti Elis akan temani papa meeting. Hari ini papa mau ke mana pun, pasti akan Elis temani." ucap Elis dengan bersemangat.


Daniel menatap Elis dengan penuh tanya. "Kamu mau ke mana sayang?" tanya Daniel, yang sudah selesai dengan panggilan telpon nya.


Elis menoleh ke arah sang papa. "Mau ke mana ya, pah?" Elis menggoda Daniel, dengan tatapan penuh tanya pada papa Brian.


"Kalian mulai lagi!" ledek papa Brian, saat melihat kilatan cemburu di mata Daniel untuk sang putri, Elis.


"Gak pah, bukan Daniel yang memulai. Tapi Elis yang mulai gak mau terus terang sama saya, pah." Daniel merajuk pada sang papa mertua.


"Ahahhaha hubby jangan merajuk, ini tuh papa kuh!" goda Elis.


"Tuh kan pah!" Daniel mengerucut kan bibir nya, dengan wajah sebal pada sang istri.


"Kalian berdua ini, belajar lah menjadi orang tua yang baik dan benar untuk anak anak kalian kelak." saran sang papa.

__ADS_1


"Iya pah." jawab Daniel.


"Tadi siapa yang menelpon mu, Daniel?" tanya papa Brian ingin tau.


"Oh iya, aku hampir aja lupa." Daniel menepuk kening nya sendiri, lalu mengecup bibir Elis dan menyesappp nya sejenak.


"Astagaaa kalian berdua ini, ada papa woy!" goda papa Brian, melihat Daniel dan Elis saling bertautannn bibir meski sekejap.


"Bukan Elis yang mulai pah!" bela Elis pada diri nya sendiri.


Daniel beranjak dari duduk nya, mencium punggung tanngan kanan papa mertua nya.


"Kamu buru buru sekali! Apa gak mau ikut dengan papa dan Elis meeting dulu?" tanya papa Brian.


"Gak pah, ada yang harus Daniel selesai kan malam ini juga. Daniel berangkat ya pah! Daniel titip Elis ya pah!" ujar Daniel, sebelum meninggalkan ruang kerja papa mertua nya.


"Hati hati ya hubby! Jaga mata mu untuk istri mu!" ujar Elis dengan kerlingan mata nya.


"Iya sayang! Kamu juga jaga mata, hati dan bicara kamu saat berhadapan dengan pria." pesan Daniel dengan tatapan posesif.


"Sudah sana jalan! Kalian berdua ini benar benar terlalu drama!" ujar papa Brian dengan gelengan kepala nya.


"Bos, kau ini mengantar Nona, atau gibah dulu dengan papa mertua?" goda Arsandi, yang sudah menunggu lama di dalam mobil.


"Kau meledek ku atau menyindir ku?" sungut Daniel, yang langsung mengeluarkan benda pipih nya setelah mengenakan sabuk pengamannn pada tubuh nya.


Arsandi menghembuskan nafas kasar nya. "Kita langsung ke kantor kan bos?" tanya Arsandi.


"Tidak, kita ke gudang!" ujar Daniel, lalu menempelkan benda pipih nya ke daun telinga nya, setelah mendiel nomor telepon seseorang.


'Siapa lagi yang di hubungi Tuan Daniel ya?' batin Arsandi penuh tanya.


[ "Kau sudah siapkan apa yang aku minta kan?" ] tanya Daniel, setelah sambungan telpon nya tersambung.


^^^"Sudah siap bos, kami hanya tinggal menunggu bos. Menunggu perintah bos untuk memulai nya!"^^^


[ "Sebentar lagi aku sampai, kalian persiapkan saja sisa nya. Aku sampai, kita langsung mulai bersenang senang melihat nya!" ] ujar Daniel dengan tatapan sinis.


'Aku pasti kan kamu lenyap dalam hati Elis, Wiliam!' batin Daniel penuh tekad.


Bersambung...


...💖💖💖...


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...

__ADS_1


__ADS_2