
...💖💖💖...
"Danieeeeeel!"
Teriakan Elis menggema di dalam kamar mandi, dengan mata melotot pada Daniel, menunjukkan betapa marahnya ia pada Daniel.
Byuurrrr.
Daniel menjatuhkan dirinya ke dalam buthab yang ukurannya cukup besar, setelah ia membuka bajunya dan celananya yang ia hempas begitu saja, menyisakan boxser yang masih melekat menutupi bagian bawahnya.
"Akkkhhh Daniel! Kenapa kau ikutan nyebur sih! Aku kan menyuruh mu untuk ke luar!" sungut Elis dengan tangannya yang ia hempaskan ke air.
"Sudah gak usah banyak bicara! Biar aku bersihkan punggung mu!" Daniel duduk di belakang Elis, tangannya dengan lihai dan perlahan mengelusss punggung sang istri.
Elis menoleh ke arah belakang, menatap Daniel dengan melotot, bibir mengerucut. "Daniel! Aku tidak membutuhkan mu untuk membersihkan punggung ku!"
"Selain manja, kau ini bawel juga ya... kau mau mandi atau aku akan melakukannya lagi!" Daniel mengerlingkan matanya, menaik turunkan alisnya.
Deg.
Elis memicingkan ke dua matanya, berbalik badan menatap Daniel lebih lekat lagi. Apa tadi dia bilang barusan? Aku gak salah mendengarkan?
Seakan tau apa yang di pertanyakan Elis dalam hatinya. Daniel menjawabnya dengan santai, seolah ia tidak melakukan kesalahan.
"Kita sudah melakukannya sayang! Melewati malam pertama. Kau dan aku! Kau bahkan menginginkan lagi! Apa kau mau aku perlihatkan buktinya!" Daniel menarik sudut bibirnya ke atas.
Jeger.
Apa yang ia jaga, kini terampas oleh Daniel.
Ke dua mata Elis memanas, seakan ada yang akan menerobos ke luar dari sana.
Jika kontrak pernikahan ku dengannya berakhir, tidak ada lagi yang bisa aku banggakan dari diri ku sekarang! Bulir bening meluncur dengan bebas di ke dua mata Elis, tanpa bisa terbendung lagi.
Daniel membuang nafasnya dengan kasar, melihat reaksi yang di berikan Elis.
"Apa salahnya kita melakukannya? Kita sudah sah Elis! Kau itu istri ku! Di mata hukum dan agama, kita pasangan." terang Daniel mengingatkan kembali status ke duanya.
Elie menyapu air matanya dengan kasar. Berkata dengan tegas pada Daniel. "Ingat Daniel, kita menikah atas dasar kontrak. Kau dan aku hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih. Jadi... jangan berharap lebih dari hubungan yang sudah ada!"
Daniel tertegun mendengar apa yang di katakan Elis. Ternyata dirinya belum mampu menggoyahkan pendirian Elis pada kontrk pernikahan yang ke duanya sepakati beberapa hari sebelum ikrar pernikahan berlangsung.
Elis melangkah ke luar dari dalam buthab, dengan tatapan yang penuh kecewa. Tidak memyangka jika Daniel bisa setega itu padanya.
Ternyata aku sudah salah menawarkan mu untuk melakukan pernikahan kontrak ini, Daniel! Elis menyapu bulir beningnya lagi dengan kasar.
Grap.
Daniel memeluk Elis dari belakang, dengan sama sama dalam keadaan polos.
"Maafkan aku. Aku bersalah pada mu, aku pikir kau tidak keberatan, karena semalam kau tidak melakukan penolakan Elis!" ucap Daniel dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
"Lupakan saja! Jika kau masih tetap ingin tinggal, tinggal lah! Aku akan pergi sekarang juga!" Elis melepaskan ke dua tangan Daniel dengan kasar.
...---...
Di dalam mobil tampak hening. Elis masih menunjukkan wajah marahnya pada Daniel, wajah masamnya masih tampak enggan menjauh dari wajah cantiknya.
Berkali kali Daniel melirik ke arah Elis, memohon maaf padanya, mengajak wanita yang tengah marah itu bicara, namun satu pun perkataan Daniel tidak ada yang di hiraukan Elis.
"Tolong Elis, bicara lah! Jangan kau diami aku terus! Setidaknya kau bisa memukulll ku, memaki ku! Memarahi ku! Asal jangan kau bungkam, diam seribu bahas." bujuk Daniel dengan wajah memohon.
Elis menoleh sesaat pada Daniel, lalu kembali lagi memandang lurus ke depan, dengan ke dua tangan yang menyilang di depan dada, punggung menyandar pada sandaran kursi mobil.
Ciiit.
Daniel menghentikan laju mobilnya, membuat ban berdecit.
"Aku sudah meminta maaf pada mu, Elis! Apa kau akan terus mendiami ku seperti ini? Mau sampai kapan?" tanya Daniel dengan kilatan marah di matanya.
"Harusnya aku yang marah pada mu!" ucap Elis dengan penuh penekanan.
Ceklek.
Elis berbalik badan, membuka pintu mobil setelah meraih tas selempangnya di bahu.
Grap.
Daniel memegangi pergelangan tangan Elis, mencegah wanita itu ke luar dari mobil.
"Jauhkan tangan mu dari ku, Daniel!" ucap Elis dengan datar.
"Tutup kembali pintunya! Aku tidak akan banyak bertanya lagi!" ucap Daniel dengan tatapan memohon.
Mobil melesat kembali, dengan Elis yang kembali pada posisi duduknya.
Elis kembali mengerutkan keningnya, menatap tajam Daniel. "Kau mau bawa aku kemana? Ini bukan jalan menuju rumah kan!"
"Apa kau tidak berfikir lagi, jika kita kembali sekarang. Apa yang akan di fikirkan orang tua kita? Kau mau membuat papa mu dan papa ku mengetahui anak anak mereka sedang tidak baik baik saja? Membuat kesehatan ke duanya menurun? Bukan hanya kesehatan mereka yang akan menurun, tapi harga saham perusahaan pasti juga akan berdampak buruk." ujar Daniel, setidaknya membuat Elis sedikit mengerti dan sedikit membuka matanya.
Elis menelan salivanya, membuang nafasnya dengan perlahan, benar juga apa yang di katakan Daniel.
"Untuk saat ini, aku dengarkan apa kata kata mu!" ucap Elis datar.
Daniel membawa Elis ke sebuah villa, villa keluarga yang cukup besar, namun berada di daerah pedesaan yang cukup tenang dan jauh dari keramaian ibu kota, dengan sejuknya udara dingin pegunungan.
"Ini rumah siapa, Daniel?" Elis menginjakkan ke dua kakinya di tanah berumput hijau.
Ke dua matanya mengedar, menikmati setiap hembusan angin yang tampak sejuk, membuat damai siapa saja dengan pemandangan yang sangat indah.
"Villa keluarga, villa ini penuh kenangan akan kebersamaan mama dan papa. Hingga papa memutuskan untuk meninggalkan villa ini... seminggu setelah mama menghembuskan nafas terakhirnya." awan mendung menyelimuti hati Daniel.
__ADS_1
Elis membuang pandangannya dari Daniel, menyeka air matanya dengan kasar, ingat Elis, kau ini lagi marah sama dia, jangan terbawa ceritanya yang mengharukan itu! Ingat itu hanya cerita almarhum mama mertua dan papa mertua mu. Bukan kisah mu dan kisah Daniel.
"Apa kau hanya akan berdiri di sana? Ayo masuk, nanti aku akan mengajak mu berkeliling." ucap Daniel dengan ke dua tangan menggeret koper besar milik Elis dan satu tas di punggungnya.
"Siapa bilang aku tidak ingin masuk, justru ke dua kaki ku sangat pegal, tubuh ku juga pegal setelah melewati perjalanan yang cukup jauh." Elis mengerucutkan bibirnya, mengikuti langkah kaki Daniel yang melangkah masuk.
Ting dong, ting dong.
"Apa di dalam ada orang?" Elis menatap Daniel penuh tanya.
"Tentu saja ada, orang yang bertugas untuk merawat rumah dan taman itu!" Daniel menunjuk sebuah taman kecil yang berisikan bunga mawar merah.
Elis berlari ke arah taman kecil itu dengan wajah senang, melupakan kekesalan dan kekecewaannya pada Daniel. Berputar seperti anak kecil di tengah taman dengan ke dua tangan yang merentang.
Daniel menarik sudut bibirnya ke atas, melihat tingkah Elis, aku membawa menantu mu mah. Sangat cantik kan! Sama seperti mama hanya bedanya Elis manja dan sedikit keras kepala.
Ceklek.
Seorang wanita tua renta, muncul di balik pintu yang kini terbuka lebar. Tangannya terus meneluk nepuk punggung Daniel dengan gemas karena sudah lama tidak bertemu.
Puk puk puk.
"Den Daniel? Eleh eleh kenapa gak kabarin si mbok dulu kalo mau ke sini! Atuh pan bisa di jemput sama aki. Aden teh makin kasep pisan nyak!" ucap si mbok.
"Maaf ya mbok, kalo saya kabarin si mbok, yang ada mbok sama aki bakal repot repot nyiapin ini dan itu." terang Daniel mengelusss punggung si mbok yang sudah seperti neneknya sendiri.
"Kang Daniel!" seru seorang wanita yang berada di bawah tangga dan langsung berlari dari dalam rumah, berhambur memeluk tubuh besar Daniel.
Grap.
"Ini teh beneran kang Daniel?" tanya wanita itu dengan mendongakkan wajahnya menatap wajah Daniel.
Daniel menganggukkan kepalanya. "Bisa kan tidak usah main peluk!" ucap Daniel dengan dingin.
Daniel menjauhkan wanita itu dari tubuhnya, merasa risih dengan perlakuan si wanita.
Sementara Elis menatap tajam dari taman, melihat pemandangan yang sedikit membuat gatalll matanya.
"Aihhs kenapa atuh? Apa akang gak kangen sama Cici?" Cici melingkarkan tangannya dan memeluk lengan kekar Daniel dengan erat.
"Ehem."
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...
__ADS_1