
...💖💖💖...
"Emmmmm, apa ya!" Elis masih berfikir, mengabaikan isyarat yang di berikan Daniel pada nya.
"Ibu punya kantong warna apa aja?" tanya Elis, dengan menopang wajah nya dengan telapak tangan nya, dengan siku menyanggah di atas meja.
"Ada warna merah, putih dan hijau neng." jawab si ibu dengan sabar.
"Ya udah, aku mau warna apa aja kecuali warna merah dan putih." jawab Elis dengan senyum merekah pada si ibu.
"Itu sama aja Nona gelis minta di bungkus dengan kantong berwarna putih neng gelis!" ujar si ibu.
"Maaf ya bu! Istri saya menyusahkan!" ucap Daniel dengan kepala yang masih menunduk, merasa gak enak hati dengan si ibu.
"Saya maklum kok mas. Biar saya ganti kantong nya dulu ya Nona gelis!" pamit si ibu pada Elis.
Grap.
"Jangan keterlakuan sayang!" rengek Daniel dengan menggenggammm jemari Elis.
"Aku gak keterlalun hubby! Ini bawaan baby utun mu!" rengek Elis dengan manja, bibir mengerucut, tatapan berbinar sedih.
'Tenang bu, akan aku bayar lebih. Buah dari kesabaran mu menghadapi permintaan ku yang sudah pasti aneh!' batin Elis.
Tangan kanan Elis mengadah ke depan Daniel. "Berikan dompet mu, hubby!" pinta Elis dengan kerlingan mata nya, menggoda Daniel.
"Malam ini aku minta jatah ya, menjenguk baby utun." timpal Daniel dengan tatapan menggoda, mengeluarkan apa yang di inginkan Elis.
"Gak apa ya, isi dompet mu terkuras oleh ku!" ujar Elis, mengerutkan kening nya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dari dompet Daniel.
"Aku rela hanya untuk kalian berdua, sayang!" seru Daniel, menyimpan kembali dompet nya ke dalam saku.
"Permisi aden, Nona gelis. Ini sudah ibu ganti kantong berwarna putih, apa ada lagi yang mau di tambah?" tawar si ibu, meletakkan ceker mercon dalam kantong di atas meja.
"Gak bu, udah itu aja. Ini untuk ibu, makasih ya!" seru Elis, menyerah kan uang yang tadi di ambil dari dompet Daniel.
"Astagfirullah neng gelis, ini banyak banget uang nya. Kelebihan banyak ini mah bayar nya!" ujar si ibu dengan kaget, tatapan nya gak percaya dengan uang yang di berikan pelanggan baru nya itu.
"Rejeki ibu!" seru Daniel, membawa kantong plastik berwarna putih, semua makanan yang di pesan Elis. Sementara Elis sudah meninggal kan warung lebih dulu.
"Ya ampun, baik baik itu orang. Makasih banyak atuh neng, mas. Biar lancar rejeki nya! Ya Allah gusti, mimpi apa ini semalam." puji syukur si ibu penjual dengan bukir bening yang gak bisa terbendung lagi.
"Kita langsung pulang kan, sayang?" tanya Daniel, memastikan kembali setelah menyimpan makanan nya di kursi belakang.
"Belum tau, udah jalan aja!" cicit Elis dengan santai.
Daniel melajukan kendaraan nya, melewati ruas jalan yang tampak lengang.
__ADS_1
"Hubby, aku mau itu! Ayo cepat menepi!" seru Elis dengan rengekan nya.
"Apa? Gak ada pedang yang menjual dagangan nya, sayang!" seru Daniel saat melihat kiri dan kanan, gak ada satu pun pedagang yang menjajakan jualan nya.
"Cepat, menepi! Aku mau itu!" rengek Elis, gak mau di bantah.
Ciiiii.
"Iya iya, aku menepi!" Daniel menepikan kendaraan nya di bahu jalan.
Elis langsung ke luar dari mobil, tanpa menunggu di buka kan pintu.
"Sayang tunggu! Kamu mau ke mana?" Daniel mengejar langkah kaki Elis yang berjalan cepat ke jalan yang baru aja mereka lalui.
"Permisi, apa ini boleh untuk ku?" tanya Elis, saat sudah berdiri di depan anak kecil yang memeluk boneka nya.
"Apa? Kaka cantik mau ini?" tanya bocah itu dengan polos nya.
Elis mengangguk kan kepala nya.
"Maaf nak, boneka nya gak di jual, ini boneka kesayangan putri saya!" ucap wanita paruh baya, yang berdiri di samping anak kecil itu.
"Tapi saya menyukai nya, tante. Saya akan membayar nya jika di perbolehkan." rengek Elis dengan tatapan berbinar. Elis menangkup kan ke dua tangan nya di depan wajah, setelah berjongkok, menyamakan tinggi tubuh anak kecil itu.
"Sayang! Maaf ya bu, istri saya sudah mengganggu kalian." ujar Daniel, dengan membungkuk gak enak hati.
'Kaka ini udah besar, tapi masih mau main boneka. Apa kaka ini sedang sedih? Apa aku harus berikan boneka ku pada nya? Nanti aku gak punya boneka lagi! Bagaimana ini?' batin si bocah kecil, menimang nimang keputusan nya.
"Aku suka dengan boneka nya hubby! Baby utun juga suka!" rengek Elis, menatap sedih Daniel dengan bibir mengerucut.
"Kita beli ya sayang, itu punya adik nya. Masih banyak boneka yang bisa kamu dapat di toko sayang! Ayo!" bujuk Daniel dengan lembut.
"Aku mau itu Nil, lucu! Menggemaskan seperti ku!" bujuk Elis.
"Kaka berikan uang yang banyak untuk mu sayang, tapi kaka mau boneka mu!" Elis mencoba memberikan penawaran pada bocah kecil, dengan rambut di kuncir 2 itu.
"Bagaimana bu? Apa ayah masih lama mendapat kan uang untuk ibu berobat? Aku bisa kan memberikan ibu uang, jika aku berikan boneka ini untuk kaka cantik?" tanya sang anak dengan celotehan nya pada sang ibu.
"Ayah masih lama nak, tapi itu boneka kesayangan mu. Apa kamu gak sedih, memberikan nya sama kaka cantik?" ujar si ibu, mencoba memberikan pengertian.
Elis dan Daniel, diam. Mendengarkan setiap perkataan ke dua nya.
"Aku gak apa bu, asal ibu bisa sembuh. Aku bisa ngumpulin uang lagi buat beli boneka." ucap bocah kecil itu lagi, tampak sudah yakin dengan keputusan nya.
"Kamu membutuhkan uang, adik kecil?" tanya Elis dengan mengelusss pipi chabi nya.
"Butuh non, untuk membeli obat saya." ujar si ibu yang tampak kurang enak badan.
__ADS_1
"Maaf, ibu sakit apa?" tanya Daniel.
"Sakit paru paru Tuan." jawab si ibu.
"Ibu dan adek ini di sini ngapain ya? Kenapa ibu gak pulang dan istirahat di rumah." tanya Daniel lagi ingin tau.
"Menunggu suami saya, sambil saya mengadahkan tangan, berharap ada orang baik yang memberikan uang pada kami berdua." ucap si ibu, membawa kantong kresek yang berisikan uang receh.
"Suami ibu sendiri, ke mana?" tanya Elis ingin tau.
'Kasian sekali ibu ini, malah sakit. Bawa anak kecil malam malam begini. Apa gak takut adek ini sakit?' batin Elis dengan rasa iba menggelayut dalam hati nya.
"Suami saya mulung barang bekas Tuan, Nona." jawab si ibu
"Bapak bapak!" seru si anak, saat seorang pria berpakaian kumuh, dengan karung di punggung menghampiri nya.
Daniel menahan nafas, saat bau menyengat tercium dari tubuh pria yang baru menghampiri mereka itu.
'Astagaaa bau sekali, apa Elis gak mencium aroma gak sedap ini? Ini sangat menyengat.' batin Daniel.
"Bapak suami nya ibu?" tebak Elis.
"Iya saya, kalian berdua siapa? Kenapa ada di sini?" tanya pria kumuh itu dengan tatapan gak suka.
"Bapak bapak jangan marah. Kaka cantik mau boneka adek, terus mau kasih uang. Boleh kan pak! Uang nya buat ibu beli obat pak!" celoteh anak kecil dengan polos.
"Beneran?" tanya si bapak dengan tatapan menyelidik.
Elis mengangguk dengan pasti.
"Ade yakin, mau kasih boneka kesayangan ade ke kaka cantik?" tanya si bapak pada putri kecil nya.
"Beneran pak. Yang penting ibu sembuh." ucap bocah itu dengan tulus.
"Huaaaaaaa huaaa!" Elis menangis dengan langsung memeluk Daniel.
"Kenapa sayang?" tanya Daniel dengan bingung, melihat perubahan pada diri Elis.
Begitu pun dengan keluarga kecil yang tengah mereka hadapi, bingung dengan orang asing yang menawar boneka usang si anak.
"Aku terharu hubby, apa nanti baby utun akan menyayangi ku seperti anak itu menyayangi ibu nya?" tanya Elis di tengah isak tangis nya.
Bersambung...
...💖💖💖...
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
__ADS_1
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...