
...💖💖💖...
Tatapan nya menelusuri pada aplikasi pencarian.
"Ini gak mungkin salah kan?" Elis menelan saliva nya dengan sulit.
Menatap tajam pada layar hape nya, setelah nampak apa yang ia cari.
Ceklek.
Daniel membuka pintu penumpang yang ada di belakang kemudi. Meletakkan tas kerja Elis.
Daniel menatap tajam Elis. Apa yang sedang di lihat Elis? Sikap nya aneh sekali pagi ini.
Elis yang terlalu terbuai dengan apa yang ia lihat pada layar hape nya, tidak membuat nya sadar akan kehadiran Daniel yang sudah duduk di belakang kemudi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Elis dengan setengah berteriak, saking terkejut nya dengan apa yang di lakukan Daniel.
Daniel mengerutkan kening nya. "Apa? Ya aku memakaikan mu sabuk pengaman, kau lupa memasang nya!"
"Ma- maaf, a- aku tidak..."
"Tidak apa." sanggah Daniel, menyela ucapan Elis yang belum ia selesai kan.
"Kita langsung ke kantor mu ya!" cicit Daniel, mulai melajukan mobil nya meninggalkan rumah megah nya.
"I- iya." Elis menelan saliva nya.
A- aku gak mungkin hamil, a- aku udah rutin minum obat dan vitamin itu setelah melakukan nya dengan Daniel. Perhitungan ku, pasti salah. Mudah mudahan saja a- aku cuma telat datang bulan. pikir Elis.
Elis mencoba menanamkan keyakinan pada diri nya, jika ia hanya telat datang bulan. Itu sering terjadi pada setiap wanita.
Daniel sendiri mencuri pandang pada Elis, sesekali melirik Elis dengan ekor mata nya.
Ada apa ya! Apa mungkin Elis sedang merindukan Wiliam. Apa ada hal lain yang di sembunyikan Elis dari ku? Tapi apa? Selama ini, aku dan Elis baik baik aja!
"Kamu gak lagi sakit kan sayang? Atau ada yang ingin kamu katakan?" tebak Daniel, mencoba mengajak Elis bicara.
"Aku baik baik aja ihs, kalo kamu tanya gitu lagi, aku bakal ke luar dari mobil mu ini!" ancam Elis.
"Iya maaf, aku tidak akan memaksa mu untuk bicara." Daniel mengalah.
Daniel mengambil tas Elis dan ke luar dari dalam mobil, jalan memutar lalu membuka kan pintu mobil penumpang untuk sang istri.
__ADS_1
Sreek.
Elis merebut tas nya dari tangan Daniel dengan kasar.
"Aku bisa membawa nya sendiri! Kau pergi lah dari sini!" ujar Elis, secara tidak langsung. Elis mengusir Daniel dari kantor nya.
Bukan Daniel, jika pria yang satu ini langsung menuruti apa yang di inginkan Elis.
Hap.
"Kyaaaa! Daniel! Apa yang kau lakukan!" pekik Elis, saat tubuh nya melayang dan berada dalam gendongan Daniel.
Daniel membawa Elis dengan ke dua tangan nya. Membawa sang istri meninggalkan parkiran, membawa nya masuk ke dalam gedung pencakar langit. Tempat sang istri mencari kesibukan, mengabdi kan diri pada perusahaan yang di diri kan oleh Brian.
"Tidur!" jawab Daniel dengan asal.
"Aku serius Daniel! Turunkan aku dari gendongan mu!" pinta Elis dengan nada merengek.
"Tidak akan, aku yang akan mengantar mu, sampai ke ruang kerja mu!" ucap Daniel dengan datar.
"I- iya tapi gak usah gini juga Daniel! A- aku masih bisa berjalan! Banyak pasang mata yang melihat kita Daniel, turunkan aku!" ujar Elis, mencoba mencari alasan, agar Daniel mau menurunkan nya.
"Aku tidak perduli!" jawab Daniel datar, tidak perduli dengan tatapan orang yang melihat nya.
"Selamat pagi, Tuan, Nona?" sapa pak satpam.
Langkah kaki Daniel semakin lebar, melangkah memasuki lobby utama. Dengan beberapa staf karyawan yang sudah nampak berlalu lalang di lobby. Ada pula yang sedang duduk, menyibukkan diri nya sendiri dengan harap harap cemas.
'Uwow, pagi pagi udah di kasih liet pemandangan yang nyegerin mata!' cicit Nami, melihat Daniel dan Elis dengan tatapan iri.
'Maka nya jangan kelamaan jomblo lo, ngenes kan lo lama lama. Tapi seru juga sih kalo lo punya cowok. Tinggal lo adu, mesraan lo apa bu bos hehehehe!' gelak Reina.
'Anjimmm banget gue punya temen kaya lo! Minta gue sumpel lo pake cabe!" sungut Nami dengan kesal, mata nya bahkan melotot tajam pada Reina.
Dito mengambil alih tas Elis yang melingkar di leher Daniel.
"Tumben Tuan, Nona di gendong. Apa Nona sakit?" tanya Dito yang mengekori ke dua nya.
"Apa kau pikir, setiap aku menggendong istri ku. Dia harus sakit dulu?" cicit Daniel dengan kesal.
"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud... saya hanya heran saja!" cicit Dito lagi, menggaruk kepala nya dengan frustasi.
"Kau membuat aku jengkel Daniel!" gerutu Elis.
__ADS_1
"Terserah, mau kau bilang aku menyebalkan sekali pun, aku tidak perduli. Aku hanya ingin mengantar mu sampai ruang kerja mu." ucap Daniel dengan acuh.
Dito membuka pintu lift, lalu membiarkan Tuan nya masuk lebih dulu.
Daniel menurunkan Elis di dalam ruang kerja nya. Dito meletakkan tas Elis di atas meja kerja nya.
"Saya permisi, Tuan, Nona!" pamit Dito pada Elis dan Daniel.
"Hem!" dehem Dito.
Ceklek.
"Aku perlu bicara dengan mu, Elis!" cicit Stefani, setelah berhasil masuk menerobosss pintu ruang kerja Elis.
Elis dan Daniel menatap ke arah pintu dengan kening mengkerut.
"Maaf Nona, saya sudah mencegah nya. Tapi Nona Stefani..."
Dito tidak lagi melanjutkan kata kata nya, setelah Elis memberikan perintah pada nya untuk meninggalkan ruang kerja nya dengan mengibaskan tangan nya.
"Apa gue bilang! Elis itu masih anggap gue sahabat nya! Pake berani ngelarang gue masuk lagi lo!" cibir Stefani, menatap rendah Dito.
"Dasar wanita gak punya urat malu!" sindir Dito yang langsung menutup kembali ruang kerja Elis.
Daniel menatap tajam Stefani. Mau apa lagi wanita ini ada di sini? Menemui istri ku? Jangan bilang jika Stefani ingin membongkar rahasia ku ini!
"Apa yang ingin kau katakan pada ku?" tanya Elis dengan mendudukan diri nya di kursi kebesaran nya.
"Cepat katakan, jangan kau buang buang waktu istri ku yang sangat berharga ini dengan apa yang akan kau sampai kan pada kami!" cicit Daniel dengan tegas, dengan tatapan mengejek.
"Cihs sombong sekali kau itu! Dasar pria bermulut besar!" ejek Stefani, mengayunkan langkah kaki nya dan duduk di kursi yang ada di depan Elis, alias duduk di samping Daniel.
"Dasar kau wanita tidak punya harga diri!" maki Daniel, memutar bola mata nya malas.
"Karena aku wanita tidak punya harga diri ini lah, kau patut berterima kasih pada ku!" ucap Stefani dengan bangga.
Brak.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
__ADS_1
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...