Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Membuat mu yakin


__ADS_3

...💖💖💖...


"Lalu kenapa di malam pertunangan ku, kau bersamanya?" tanya Elis.


"Owh itu, tentu saja aku ingin acara pertunangan mu berantakan. Satu sisi aku tidak suka melihat mu bahagia dengan Wiliam, sementara adik sepupu ku harus di rawat di rumah sakit jiwa karena perbuatan Wiliam. Jika saja dia mau bertanggung jawab, Saras tidak akan pernah merasa hidupnya hancur! Dan itu karena mu juga Elis!" kilatan marah tampak di mata Stefani untuk Elis, dengan jari telunjuk menunjuk pada Elis.


"Kenapa kau menyalahkan aku? Itu kan perbuatan Wiliam, minta saja pertanggung jawabannya dari dia!" sungut Elis yang tidak mau di salahkan.


"Karena kau pewaris tunggal Sadiki crop, kau akan mewarisi seluruh kekayaan keluarga Sadiki. Sementara Saras, hanya karyawan biasa, dan aku... aku lebih dulu mengenal Wiliam, tapi dia lebih memilih mu! Kau tidak berhak untuk bahagia Elis! Kau merebut Wiliam dari ku, dan kau juga harus bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi pada Saras!" ucap Stefani dengan tegas.


Deg.


Jantung Elis berdetak lebih cepat, kepalanya mulai terasa pusing, jadi selama ini, Stefani sudah lama menaruh rasa dengan Wiliam?


Ketegangan di antara ke tiganya semakin membuncah. Stefani tetap berfikir jika Elis merebut segalanya darinya. Stefani meluapkan apa yang selama ini ia pendam.


"Sudah cukup Stefani! Apa yang terjadi pada Saras, bukan lah salah Elis. Tapi ada andil kesalahan mu juga! Kau lupa siapa yang meminta Wiliam untuk mengantar Saras pulang?" ujar Daniel dengan merengkuh Elis yang hampir limbung.


"Kau tidak apa apa kan, Elis?" tanya Daniel dengan penuh khawatir.


Elis menggelengkan kepalanya. "Aku baik baik aja!"


Stefani mengerutkan keningnya menatap tajam Daniel yang semakin dekat dengan Elis, kurang ajar, kenapa setiap pria yang aku suka, selalu saja menempel pada Elis? Gue jelas lebih cantik, gue lebih pintar, gue model terkenal, jauh lebih baik gue di banding Elis! Tapi kenapa Wiliam dan Daniel sama sekali gak pernah anggap gue ada!


"Kau tidak usah membelanya, Daniel! " ucap Stefani dengan sinis.


"Harusnya kau malu Stefani, kau irikan sama Elis! Kau menyalahkan Elis yang jelas jelas tidak tahu apa yang terjadi pada Saras. Tapi kau melupakan jika kau sendiri yang sudah menjerumuskan adik sepupu mu ke lubang penderitaan, ke pria bejattt macam Wiliam!" sungut Daniel dengan rahang mengeras.


Saras menoleh ke arah ketiganya dengan kening mengkerut. Saras berkata dengan suara yang pelan, seakan takut boneka yang ia anggap bayi itu menangis.


"Ssst!" Saras meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibirnya, membuat Stefani, Elis dan Daniel menoleh ke arahnya.


"Kalian jangan bertengkar! Kalian bisa membuat Sari ku menangis! Kalian gak tau apa kalo Sari lagi tidur!" ucap Saras dengan tatapan polosnya, lalu menatap lekat wajah boneka yang ada dalam dekapannya.


Stefani membuang nafasnya kasar. Menatap Elis dan Daniel dengan datar. "Lebih baik kalian pergi dari sini! Sebelum kesabaran ku habis!"


"Kau pikir aku sangat senang bisa berada di tempat menyebalkan ini!" sungut Elis.


Daniel menggelengkan kepalanya. "Kalo begitu kami pergi, Stefani. Jika kau butuh bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi ku!"


"Daniel!" seru Elis dengan memperlihatkan ke tidak sukaannya saat Daniel mengatakannya pada Stefani.

__ADS_1


Sepanjang jalan Elis terus mengerucutkan bibirnya, tidak memperdulikan pertanyaan maupun perkataan yang terlontar dari Daniel. Elis sibuk sendiri dengan segudang asumsinya untuk Stefani, Wiliam dan Saras. Ke tiga orang itu sudah mengusik ketenangannya.


"Apa mungkin Saras jadi gila karena di lecehkan Wiliam? Apa Wiliam begitu bejattt pada wanita? Siapa saja korbannya? Tapi kenapa Wiliam selalu baik pada ku, selama aku dan dia menjalin hubungan, wiliam tidak pernah menunjukkan keanehan dari pria brengsek! Apa mungkin Stefani dan Daniel ini, mereka bersekokngkol untuk mempermainkan aku? monolog batin Elis.


Sementara Daniel sesekali menoleh, melirik Elis yang bungkam seakan tidak mendengar apa yang di katakan Daniel.


"Elis! Kau mau kita makan siang di mana?"


"Elis, kau pasti terpukul setelah mengetahui kenyataannya Wiliam!"


"Elis, buka mata mu, siapa itu Wiliam. Dia bukan pria yang pantas untuk kau pikirkan! Dia bahkan tidak pantas untuk mendampingi mu!"


Ciiit.


Merasa kesal di abaikan, Daniel menginjak pedal rem, membuat ban mobilnya berdecit di aspal. Sementara tubuh Elis ikut condong ke depan meski tidak sampai membentur kaca mobil, karena telapak tangan Daniel menghalau kening Elis.


"Kau sudah gila hah! Bisa bawa mobil gak sih! Atau kau lupa caranya mengemudi dengan baik!" cecar Elis dengan menatap marah Daniel.


"Harusnya aku yang marah! Dari tadi aku mengajak mu bicara, Elis! Kau tidak memperdulikan aku! Aku ini ada di samping mu, tapi seakan aku ini sangat lah jauh dari pandangan mu! Apa yang sebenarnya yang sedang kau pikirkan, hem?" Daniel menangkup wajah Elis dengan ke dua tangannya, membawanya hingga menatap wajahnya.


"Tidak ada, tidak ada yang aku pikirkan!" bohong Elis, menyingkirkan tangan Daniel dari wajahnya, menatap kembali lurus ke depan.


Elis menelan salivanya, merasakan detak jantung Daniel yang berdetak sangat keras karena kepalanya yang menempel pada dada bidang Daniel.


"Apa benar kau mencintai ku, Daniel?" tanya Elis.


"Tentu, apa kau meragukannya?"


"Entah lah, setelah aku mendengarnya dari Stefani, aku rasa sulit bagi ku untuk percaya pada laki laki." jelas Elis.


Daniel menjarak tubuhnya dengan Elis, berkata dengan memegang bahu Elis. Menatap mata indah Elis dalam dalam.


"Jangan menyamakan aku dengan Wiliam, aku dan dia berbeda. Jika dia mendekatkan mu hanya untuk memguasai harta mu... aku mendekati mu hanya untuk bersama dengan mu, menghabiskan sisa hidup ku bersama mu, hingga ajal memisahkan kuta berdua." ucap Daniel dengan sungguh sungguh.


Elis mengerutkan keningnya, lalu ia menyeringai. "Bisa aku menguji keseriusan kata kata mu?"


"Tentu saja, apa pun itu, aku akan lakukan. Kau minta aku untuk apa? Apa yang bisa membuat mu yakin jika aku serius dengan kata kata ku?" tanya Daniel dengan serius.


"Kau turun dari mobil, berteriak lah di tengah jalan, jika kau mencintai ku! Apa kau berani?" Elis menarik sudut bibirnya ke atas.


Elis memainkan alisnya naik turun, aku yakin Daniel tidak akan berani melakukannya, itu kan sangat sangat memalukan!

__ADS_1


Daniel mengerutkan keningnya, menatap Elis dengan tatapan menyelidik. "Hanya itu saja? Tidak ada yang lain?"


"Lakukan saja yang tadi itu, kau berani tidak!" tantang Elis.


Ceklek.


Tanpa ragu Daniel membuka pintu mobil, lalu menoleh ke belakang, memastikan pada Elis, sebelum ia benar benar turun dari mobil.


"Hanya itu saja?" tanya Daniel lagi, Elis menganggukkan kepalanya.


Daniel melangkah ke luar, berdiri di tengah jalan dengan ke dua tangan yang merentang. Beberapa kendaraan yang melaluinya sesekali membunyikan klakson, bahkan ada yang mengumpat.


Tin tin tin.


"Woy jangan gila!"


"Woy cari mati lu!"


"Woy jangan berdiri di tengah jalan!"


"Aku mencintai mu Elisssss! Sangat sangat mencintai mu!" teriak Daniel di tengah jalan, dengan bunyi klakson dari pengendara lainnya.


Tiiiiiiin.


Elis membola, melihat kendaraan di belakang Daniel yang melaju kencang tidak terkendali.


Elis langsung turun dari mobil. "Daniel, menyingkir! Awas!"


Brak


Brak brak bugh duar.


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentarnya dong, 😅😅


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...

__ADS_1


__ADS_2