
...💖💖💖...
Tok tok tok.
"Maaf Tuan, ini saya. Saya boleh langsung masuk kan!" ucap Bayu setelah mengetuk pintu ruang kerja atasan nya.
"Nah itu dia!" seru Elis, memutar kursi yang ia duduki, hingga membuat nya dapat melihat siapa yang masuk ke dalam ruang kerja papa nya.
Nampak seseorang kesulitan membawa banyak barang di tangan nya, hingga menghalangi pandangan nya.
Daniel beranjak dari duduk nya, membantu orang itu. Mengambil alis sebagian barang yang ia bawa, hingga nampak wajah pria yang membuang nafas lega.
"Terima kasih Tuan Muda, atas bantuan anda." ucap Bayu dengan senang.
"Kau kan bisa membawa nya sedikit sedikit, kenapa harus kau bawa sekaligus? Menyusahkan diri sendiri saja kau ini!" gerutu Daniel.
"Ihsss kalian, cepat bawa ke sini. Aku kan mau memperlihatkan apa yang aku beli pada papa! Malah sibuk sendiri kalian berdua ini!" Elis mengintruksikan ke dua nya untuk berjalan ke arah nya dengan lebih cepat, namun bibir nya mengerucut sebal.
Brian menggelengkan kepala nya, "Astaga sayang, apa saja yang kau beli? Pasti kau membeli banyak barang barang yang tidak berguna lagi! Bukan begitu Daniel?" tebak Brian, mengingat Elis yang akan langsung membeli barang yang ia lihat lucu, namun tidak di butuh kan untuk nya.
Elis melotot tajam pada Daniel, seolah mengisyaratkan pada suami nya itu, 'Jangan bilang ya! Awas aja kalo sampe bilang ya! Malam ini kamu harus tidur di luar!'
Daniel menelan saliva nya dengan sulit. "Nanti papa bisa melihat nya sendiri, barang apa saja yang Elis beli! Hehehe." Daniel meletakkan barang barang yang ia bawa, ke atas meja kerja papa mertua nya.
__ADS_1
Cari jalan aman aja lah, yang penting aku aman malam ini, masih bisa tidur di dalam kamar, memeluk istri manja ku! Daniel senyum senyum sendiri.
Bayu juga melakukan hal yang sama dengan Daniel, memindahkan barang barang yang ia bawa ke atas meja kerja atasan nya.
Elis meraih sebuah paper bag yang ada di dekat nya, lalu mengeluarkan isi nya dari dalam.
"Papa pasti menyukai ini, lihat pah! Ini cocok loh untuk papa! Lucu kan warna nya!" Elis memperlihatkan switer dari bahan rajut dengan warna cerah yang mendominasi.
"Iya, itu sangat lucu. Apa kau yakin akan mengenakan nya, sayang? Itu ukuran nya kan terlalu besar untuk kau kenakan." tanya Brian, karena mengira jika switer yang di perlihatkan Elis itu untuk Elis sendiri nanti nya.
Elis mengerucutkan bibir nya, menatap sedih sang papa, lalu berkata dengan merengek manja. "Papa kok gitu sih! Tega banget sama aku. Ini kan aku beli khusus untuk papa."
"Maaf Tuan, Nona, saya permisi!" Bayu berniat undur diri, meninggalkan ruang kerja Tuan nya, setelah tugas nya sudah selesai.
"Terima kasih ya! Ini untuk mu!" Daniel menyerahkan beberapa lembar uang kertas merah pada Bayu.
Brian yang semula menyandarkan punggung nya pada kursi kebesaran nya, langsung duduk dengan tegak saat mendengar apa yang di katakan Elis.
"A- apa? I- itu untuk papa? Kamu gak salah, sayang? Papa pasti salah dengar, bukan begitu Daniel?" Brian menatap Daniel dengan penuh ketidak percayaan di mata nya.
Daniel terkekeh. "Hehehe maaf pah, itu memang Elis beli untuk papa. Bagus kan pah? Warna nya yang cerah, bikin papa jadi terlihat semakiiiiiin muda, hehehe." ledek Daniel.
Seketika tubuh Brian langsung melorot, menyandar kembali pada sandaran kursi kebesaran nya, seolah tidak bertulang.
__ADS_1
"Ya gusti, mimpi apa aku semalam." cicit Brian dengan lirih.
Elis beranjak dari duduk nya, menghampiri Brian. "Ayo pah di coba!"
Elis membantu Brian beranjak dari duduk nya, mengenakan switer yang ia beli ke tubuh Brian.
"Aku kan sudah bilang sama kamu, sayang! Papa makin keran kan pake switer dari ku ini!" ucap Elis dengan bangga.
"Iya, itu keren, papa balik muda. Balik ke usia 25 tahun, pah!" ledek Daniel.
"Papa Devano pasti lebih keren lagi jika mengenakan switer ini sayang!" ucap Brian, merasakan ada angin segar, untuk membuat nya terlepas dari mengenakan switer rajut berwarna cerah.
"Papa tenang aja, aku udah pikirin itu. Jadi papa malah bisa kembaran sama papa Devano, hehehe." Elis meraih kembali paper bag lain nya yang ada di atas meja.
Daniel tersenyum penuh arti pada papa mertua nya. Pasti papa Brian berfikir untuk memberikan switer itu pada papa Devano, tapi sayang nya Elis jauh lebih pintar. Tidak akan membiarkan papa dan papa mertua nya saling bertengkar karena memperebutkan switer rajut.
Ceklek.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
__ADS_1
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...