
...💖💖💖...
"Dasar kau wanita tidak punya harga diri!" maki Daniel, memutar bola mata nya malas.
"Karena aku wanita tidak punya harga diri ini lah, kau patut berterima kasih pada ku!" ucap Stefani dengan bangga.
Brak.
Elis menggebrak meja dengan ke dua telapak tangan nya dengan cukup keras, Elis menatap Stefani dan Daniel dengan tatapan memburu. Dengan deru nafas yang tidak beraturan.
Daniel menatap Elis dengan penuh selidik, apa wanita yang ada di hadapan ku ini beneran Elis? Kenapa Elis tampak tidak bisa mengendalikan diri nya?
Stefani membola, namun sedetik kemudian ia menyeringai, dengan melihat perubahan sikap Elis, good Daniel. Kau benar benar berhasil membuat sahabat ku ini berubah.
"Kata nya ada yang ingin kau katakan pada ku, katakan sekarang juga!" ujar Elis dengan tatapan menuntut, setelah berhasil mengendalikan emosi nya.
Stefani menoleh ke arah Daniel dengan menyeringai. "Kau pasti akan sangat senang, saat mendengar apa yang akan aku katakan pada Elis!" cicit Stefani dengan datar.
Daniel mengerutkan kening nya. Sebenar nya apa yang akan Stefani sampaikan pada Elis! Apa ini masih ada hubungan nya dengan Wiliam?
"Benarkah begitu? Kalo begitu, ayo katakan... apa yang ingin kau sampaikan pada istri ku!" tantang Daniel dengan nada suara nya yang terdengar sinis, ia bahkan sampai menggeser duduk nya hingga miring dan menghadap Stefani.
Stefani kini menatap Elis dengan senyum penuh kemenangan, duduk dengan setenang mungkin.
"Aku pastikan, kau dan Wiliam... Tidak akan pernah bisa kembali bersama! Karena sekarang aku sedang mengandung janin Wiliam! Jadi, jangan coba coba untuk mendekati calon ayah dari cabang bayi ku ini!" Stefani mengelusss perut nya yang datar.
Elis mengerutkan kening nya, mencerna apa yang baru saja ia dengar, ke dua tangan nya bahkan kini saling bertautan di atas meja.
Apa maksud nya, aku dan Wiliam tidak bisa bersama? Owwwhh jangan jangan Stefani lupa, jika aku sudah menikah dengan Daniel. Lagi pula, siapa juga yang ingin kembali pada laki laki yang tidak bisa setia.
"Kalo begitu selamat ya, tapi apa kau yakin... jika anak itu adalah milik Wiliam? Dan perlu kau ingat Stefani, Elis sudah memiliki diri ku... Elis tidak membutuhkan lagi pria pecundang seperti Wiliam." Daniel beranjak dari duduk nya, mengayunkan langkah kaki nya dan berdiri di belakang kursi yang di duduki Elis.
"Aku sangat yakin jika ini adalah janin milik Wiliam, lalu kapan kau akan menyusul ku mengandung, sayang! Jangan bilang kau tidak bisa hamil! Karena yang aku tahu. Pernikahan tidak akan berjalan dengan langgeng, tanpa kehadiran buah hati, bukti dari tanda cinta sepasang suami istri." ujar Stefani, dengan tatapan meledek Elis.
__ADS_1
"Kau baik baik saja, sayang?" Daniel mengelusss puncak kepala Elis, apa kedatangan Stefani akan mempengaruhi hubungan ku dengan Elis?
Elis menatap Daniel, jemari nya kini menggenggammm tangan Daniel yang mendarat di bahu nya. Daniel menghawatirkan keadaan ku.
"Memang kenapa dengan ku? Aku baik baik saja sayang!" ucap Elis dengan manja, ia juga memainkan satu alis nya naik turun, seolah menepis Daniel yang menghawatirkan nya.
Elis membuang nafas nya dengan kasar, menatap kembali Stefani dengan tatapan mengejek.
"Aku ucapkan selamat ya atas kehamilan mu, tapi aku juga turut bersedih. Bagaimana dengan status anak itu, gak mungkin kan jika anak itu akan lahir dari hubungan di luar pernikahan?"
Stefani mengepalkan tangan nya, beranjak dari duduk nya dengan tatapan penuh kebencian pada Elis.
"Aku pastikan, aku akan menikah dengan Wiliam, dan kau..." Stefani menunjuk Elis dengan jari telunjuk kanan nya.
"Kau harus tau diri Elis! Sekarang bukan kau lah pemilik hati Wiliam, tapi hati nya kini milik ku!" ucap Stefani lagi dengan penuh kemarahan.
Sreek.
"Jangan pernah lupa, jika Elis sekarang adalah istri ku! Harus nya kau jaga baik baik, pria yang akan menjadi suami mu itu! Calon suami mu itu!" ucap Daniel dengan meralat perkataan nya sendiri.
Ketegangan di dalam ruang kerja Elis belum juga surut. Kini suara dering telepon yang ada di atas meja mengalihkan perhatian Elis.
Tring ting, tring ting, tring ting.
"Ada apa?" tanya Elis setelah menempelkan gagang telpon di daun telinga nya.
[ "Di bawah ada Tuan Wiliam yang memaksa masuk, Nona. Tuan Wiliam juga tampak kacau! Tuan Wiliam membuat keonaran di lobby kantor, Nona!" ]
Suara Nami tampak terdengar panik, setelah Elis menjawab panggilan nya.
"Suruh petugas keadaan yang berjaga, untuk mengantar nya ke ruangan ku!"
Elis langsung menutup panggilan telepon nya.
__ADS_1
"Aku rasa kau salah besar untuk memperingati seseorang, Stefani!" Elis beranjak dari duduk nya, berkata dengan sinis pada Stefani.
Sreek.
Daniel menarik pinggang Elis dengan posesif. Tatapan nya kini menyelidik.
"Pihak resepsionis mengatakan apa pada mu, sayang? Siapa yang kau perintah kan untuk ke sini?" cecar Daniel, menarik dagu Elis dan melumattt nya.
"Pasangan tidak tau malu!" maki Stefani, saat melihat Elis yang membalas ciuman hangat Daniel.
Tok tok tok.
Ketukan suara pintu, membuat Elis dan Daniel melepaskan tautan bibir nya.
"Boleh kami masuk, Nona!" suara Dito dari luar ruang kerja Elis.
"Masuk, Dit!"
Pintu di buka lebar, setelah Elis memperbolehkan nya untuk masuk.
Stefani menatap jengkel ke arah pintu, ingin melihat siapa orang yang sudah berani merusak pertunjukan nya untuk Elis.
Aku ingin lihat, siapa sih orang yang sudah dengan lancang berani merusak kesenangan ku, pertunjukan ku belum usai untuk mu Elis. tangan Stefani yang berada di atas meja mengepalll.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...
__ADS_1