
...💖💖💖...
Bukan nya mengambilkan, Daniel mengacungkan tangan kanan nya ke atas.
"Pelayan!" seru Daniel.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pelayan pria yang kini berdiri di samping Daniel.
Dengan santai nya Daniel tetap melanjutkan makan siang nya.
'Laki laki gak punya perasaan, gak tau apa aku ini lagi mencuriii perhatian nya!' umpat Icha, menatap Daniel gak senang.
"Maaf mas, bukan Tuan Daniel yang membutuhkan bantuan mu. Tapi pacar saya yang membutuh kan bantuan. Bisa tolong bawakan 1 garpu lagi, mas?" pinta Radi dengan wajah gak enak.
'Bisa bisa nya Radi mengacaukan permainan ku!' sungut Icha dalam hati.
"Bisa Tuan, ada lagi Tuan yang di butuhkan ... biar bisa saya bawakan sekalian." tawar pelayan dengan ramah.
"Untuk saat ini, hanya itu aja mas!" ucap Radi.
"Kalo begitu, biar saya ambilkan. Mohon di tunggu Tuan, Nona." ucap pelayan dengan ramah, lalu pergi menjauh menuju dapur restoran.
Dalam diam Elis menyipitkan mata nya pada Icha, 'Owhhh jadi kamu mau coba jadi uler keket, mau coba curiii perhatian Daniel ya? Gak bisa!' batin Elis penuh kemenangan dengan gelengan kepala nya.
"Sayang!" seru Elis dengan manja, menatap daging steak yang ada di piring Daniel.
"Iya? Buka mulut mu! Aaaaaaa!" Daniel langsung mengarahkan garpu yang sudah di tusukkk daging steak ke depan mulut Elis dengan berbaluttt saus barbeque.
"Emmmm! Steak punya kamu kok lebih enak dari punya ku? Mau lagi!" rengek Elis lagi, dengan mulut mengunyah daging steak dari suapan Daniel.
"Boleh!" Daniel pun membuka mulut nya, menerima suapan daging steak yang di arahkan Elis dari steak milik nya.
"Sama kok sayang, gak ada yang beda." ucap Daniel, dengan tatapan mata nya yang tertuju pada bibir Elis yang bergerak tengah mengunyah.
'Bibir mu jauh lebih menggoda Elis!' batin Daniel, menekannn perasaan nya untuk menerkammm Elis.
"Ihsss apaan sih, norak banger... mau pamer kemesraan gitu!" gerutu Icha, dengan tatapan gak suka melihat tingkah Daniel dan Elis.
"Sayang gak boleh gitu! Jaga bicara kamu! Apa kamu juga mau aku suapi? Ayo buka mulut mu, coba sosis grill milik ku!" seru Radi, mengarah kan potongan sosis grill ke depan mulut mungil Icha, dari garpu yang ada di tangan nya.
"Ini terlalu lebay, sayang! Aku gak suka!" dumel Icha, menahannn kesal dengan wajah memerah gak dapet pembelaan dari Radi sang pacar, namun tetap menerima suapan dari Radi.
"Maaf ya jika terlihat norak, istri saya sedang masa manja manja nya." Daniel menyapu saus yang ada di sudut bibir Elis dengan jempol nya, lalu menjilattt tangan nya yang ada saus.
"Makacih cayang ku, love sekebon pisang!" Elis menumpukan ke dua tangan nya di bahu Daniel, lalu memajukan kepala nya mendekat ke wajah Daniel, mendaratkan bibir nya ku pipi Daniel dengan cukup lama.
Cuuuuuup.
"Apa itu? Pasangan gak tau malu!" umpat Icha pelan, tapi masih di dengar Radi.
"Kamu yang terbaik sayang ku!" Daniel mengelusss kepala Elis dan Elis pun melanjutkan makan nya, dengan di suapi Daniel.
"Maaf lama Tuan, ini garpu yang Tuan minta!" ucap pelayan pria tadi, dengan membawa garpu di tangan nya.
"Santai aja Tuan Daniel. Dulu juga saya dan Icha begitu. Tampak mesra, dan gak mau jauh! Bukan begitu sayang?" ujar Radi, menatap dalam wajah Icha, yang makin ke sini makin bersikap dingin pada nya.
Kini Daniel dan Elis berada di dalam mobil. Melanjutkan kembali perjalanan menuju gedung menjulang tinggi milik Daniel.
"Boleh aku bertanya pada mu, Daniel!" tanya Elis, menatap serius wajah Daniel, dengan duduk miring bersandar menghadap ke arah Daniel yang tengah mengemudi.
"Tanyakan saja, aku pasti akan menjawab nya."Daniel menoleh sesaat ke arah Elis, kembali lagi fokus pada ruas jalan yang mereka lewati.
"Icha itu wanita yang cantik ya! Berbody seksiii lagi!" puji Elis dengan nada suara yang menjengkelkan di telinga yang mendengar nya, namun ekor mata nya menyelidik ke arah Daniel.
"Bukan aku yang mengatakan nya, sayang! Di mata ku yang cantik dan seksiii ya cuma kamu seorang!" ujar Daniel.
Seolah belum puas mendengar jawaban dari Daniel, Elis menyilangkan ke dua tangan nya di depan dada nya.
"Apa kalian pernah bertemu sebelum nya? Aku merasa Nona Icha itu sedang menyindir hubungan kita ini!" ujar Elis.
Dengan jari telunjuk Elis yang mengetuk ngetuk di bibir nya, dengan pikiran yang melalang buana, mencari jawaban atas pertanyaan nya sendiri.
"Harus kah aku memberi tahu mu, sayang?" tanya Daniel, sebelum menjawab pertanyaan yang ingin di dengar Elis.
"Harus lah! Jangan bilang, dia itu salah satu wanita yang mencoba mengejar mu, sama seperti Mela... lalu di mana kalian pernah bertemu?" tebak Elis dengan bibir yang kini mengerucut tajam.
"Dia salah satu korban dari tabrakan beruntun yang di sebabkan oleh mobil kita." ujar Daniel.
Elis menegakkan duduk nya, menatap gak percaya sama Daniel.
"Kamu serius? Jadi dari tadi dia terus ngoceh, ngomel, mengumpat, itu emang di tuju buat aku? Wanita itu tau, aku penyebab kecelakaan beruntun itu?" tanya Elis, dengan pandangan yang masih sulit percaya dengan apa yang ia dengar.
"Seperti yang kau lihat... tapi kamu gak boleh terpengaruh dengan perkataan nya!" jelas Daniel.
"Gimana gak mau terpengaruh, kamu lihat dong Daniel, Gimana cara wanita itu menatap mu! Icha itu menyukai mu!" sarkas Elis yang gak bisa terelakkan.
"Biar saja, toh aku gak akan membalas nya. Sudah cukup bagi ku untuk menghadapi mu seorang yang mengurasss emosi ku hehehe." cicit Daniel dengan terkekeh karena keceplosan.
Kreeek.
Elis mencubittt dengan gemasss pinggang Daniel, dengan bibir mengerucut.
"A- a- awwwhhh!" pekik Daniel.
"Jadi, selama ini aku mengurasss emosi mu hem? Benar begitu? Berani kau ya! awas aja, nanti malam tidur di luar! Aku gak mau tidur satu kamar dengan mu!" ancam Elis setelah puas mencubittt Daniel.
"Awwwwh sayang, aku hanya bercanda. Jangan hukum aku!" Daniel menunjuk kan wajah penuh penyesalan, dengan tubuh miring pada bagian pinggang yang di cubittt Elis.
Daniel menghentikan laju mobil nya di depan lobby, ia turun begitu pintu mobil nya langsung di buka oleh security kantor.
"Selamat siang Tuan!" sapa security.
"Siang! Apa kalian sudah makan siang?" tanya Daniel, dengan berjalan memutar ke arah kursi penumpang. Dengan sigap membuka kan pintu mobil untuk sang istri.
"Sudah Tuan." jawab security.
"Ayo turun sayang! Mau tunggu apa lagi?" tanya Daniel dengan kening mengkerut, menatap lekat Elis yang masih betah duduk di dalam mobil.
"Gendong!" seru Elis dengan suara yang manja.
"Kenapa gak bilang dari tadi!" Daniel langsung menggendong Elis.
"Begini baru keren, suami ku!" tas yang di bawa Elis, langsung menengger di leher Daniel, seiring dengan senyum yang terlukis di bibir Elis.
"Apa pun itu sayang! Aku akan selalu keren di mata mu!" ucap Daniel dengan senyum tersungging di bibir nya, dengan kaki melangkah lebar.
"Aku membeli banyak makanan, kamu ambil dan bagikan pada karyawan yang lain nya! Ada di bagasi mobil!" titah Daniel, dengan gerakan kepala ke arah bagasi mobil nya saat berdiri di depan security.
"Terima kasih Tuan, Nona!" ucap security dengan wajah berbinar senang.
"Sama sama!" jawab Elis dengan ramah.
"Selamat siang Nona, udah lama Nona gak ke sini!" sapan dan tanya Nami yang berada di belakang meja resepsionis.
"Iya nih Nami, saya duluan ke atas ya!" seru Elis, saat Daniel enggan menghentikan langkah kaki nya dan terus melangkah menuju lift.
"Selamat siang Nona!"
"Selamat siang Tuan!"
Silih berganti sapaan terlontar untuk Elis dan Daniel.
__ADS_1
Di dalam lift.
"Daniel!" seru Elis dengan manja, tapi tatapan nya kali ini serius.
"Hem? Apa ada yang kau inginkan?" tanya Daniel dengan satu alis yang naik ke atas.
"Apa kau itu beneran mencintai ku? Kau beneran tulus pada ku? Atau kau mencintai ku karena aku membayar mu untuk menikah kontrak dengan ku?" cecar Elis, menatap penuh selidik.
"Apa lagi yang membuat mu ragu untuk membatalkan kontrak pernikahan kita, hem?" tanya Daniel dengan tatapan tajam.
"Bukan ragu, cuma ak- ummppppp!"
Daniel langsung menyambar bibir tipis Elis yang namun, menyesappp nya dengan nafsuuu lalu melepasss kan tautannn di bibir nya, saat Elis dengan nakal nya menekannn dan meremasss rambut Daniel seakan diri nya menginginkan lebih.
"Lagi!" rengek Elis dengan tatapan menginginkan.
Daniel menyeringai, tanpa menjawab sepatah kata pun.
Ting.
Kotak besi terbuka, dengan langkah yang lebar, Daniel langsung membawa Elis ke ruang kebesaran nya.
Elis menundukkan kepala nya, menatap jengkel Daniel dengan ekor mata nya.
'Daniel gak menginginkan ku? Bisa bisa nya aku bersikap murahannn di depan Daniel! Di mana harga diri ku sebagai wanita?' umpat Elis pada diri nya sendiri, merasa gak terbalas oleh Daniel.
"Gak usah malu, kita bisa melakukan nya lebih dari sekedar cium di ruang pribadi ku!" ucap Daniel, di telinga Elis, membuat Elis seketika meremanggg.
Elis mengangkat kepala nya dengan pipi yang merona, tangan kiri nya terulur, mengapit hidung mancung Daniel di antar jari telunjuk dan jari tengah nya, lalu menarikkk nya hingga kepala Daniel condong mendekat wajah nya tanpa jarak.
"Aku suka itu!" ucap Elis dengan manja, menyeruak nafas hangat di wajah Daniel.
Mela sejak tadi bolak balik bak teriskaan di dalam ruang kerja nya.
"Apa Tuan Daniel sudah kembali ke ruang kerja nya? Kenapa pergi nya lama sekali sih! Gak tau apa, aku nih masih cemas dengan keadaan pak Arsandi. Mana tuh pak Arsandi belum juga bisa di hubungi. Udah itu orang dari tadi telpon aku terus. Aku harus gimana dong ini? Angkat aja, atau langsung transfer sejumlah uang? Atau aku langsung ke ruang kerja Tuan deh, kali aja Tuan udah balik." pikir Mela.
Daniel dan Elis, kini berada di kamar pribadi Daniel, kamar yang sengaja ia buat di dalam ruang kebesaran nya. Kamar yang tadi nya di peruntukan untuk istirahat Daniel di kala lelah. Kini beralih fungsi untuk membakar kalori dalam tubuh sepasang suami istri yang tengah di penuhi gelora cinta.
Ke dua nya benar benar melanjut kan ciuman yang menuntut saat di dalam lift tadi. Entah siapa yang memulai, ke dua nya kini sama sama polos. Melepasss hasrattt yang menyeruak di dalam dada, dengan suara suara nakal yang memenuhi isi ruang yang kedap akan suara itu
Setengah jam kemudian. Mela memberikan diri mengetuk pintu ruang kerja Daniel.
Tok tok tok.
"Tuan, ini aku Mela.. apa Tuan sudah kembali?" tanya Mela, setelah beberapa kali mengetuk pintu ruang atasan nya itu.
Ceklek.
Dengan langkah antisipasi, Mela memberanikan diri memasuki ruang kerja atasan nya itu.
"Gila, selera Tuan Daniel ini keren juga ya! Wiisshhh mantep banget, cinta banget ini Tuan Daniel sama Nona Elis! Kapan gue bisa ketemu jodoh yang seperti Tuan Daniel, daleeeeem banget perasaan nya buat pasangan nya." gumam Mela, menatap takjub isi dan interior ruang kerja Daniel, terdapat figura berukuran besar, dengan potret ke dua nya saat pesta pernikahan dulu.
Dring dring dring dring.
Lagi enak menelisik ruang kerja Daniel, benda pipih Mela yang ada dalam genggamannn tangan nya berdering.
...Calling...
...Pak galak...
Mela menatap layar hape nya dengan berbinar.
"Akhir nya yang aku tunggu, datang juga! Semoga aja pak Arsandi baik baik aja, sehat sehat ya Allah!" gumam Mela dengan perasaan senang.
[ "Pak Arsandi! Gimana keadaan bapak? Apa mereka mengurus bapak dengan baik? Pada hal aku baru mentransfer setengah dari yang bapak itu minta. Sekarang bapak di rawat di mana? Apa nya yang luka pak?" ] cecar Mela dengan tulus menaruh rasa prihatin pada asisten bos nya itu, dengan berbagai pertanyaan yang ke luar begitu aja.
^^^"Heh bodohhh! Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti apa maksud mu? Sudah jelas kau yang mengganggu ketenangan ku, coba lihat. Berapa banyak kau menghubungi ku? Kau ini, menguras daya baterai hape ku aja! Jangan ulangi lagi! Aku baru sampai di kantor cabang yang ada di Malang! Ingat ya, begitu aku kembali, pekerjaan harus kau urus dengan baik dan gak ada kata salah! Mengerti!" omel Arsandi lewat sambungan telpon nya, gak kasih kesempatan buat Mela untuk bicara.^^^
Sungguh malang, yang di dapat Mela dari rasa khawatir nya malah sebalik nya. Kata kata pedas yang ke luar dari bibir Arsandi, menusuk hati nya yang lembut.
^^^"Apa? Kau sebodohhh itu? Mempercayai orang yang belum kau kenal? Astagaaa kau ini! Dasar wanita gila!"^^^
[ "Apa kau bilang? Aku wanita gila? Aku ini menghawatirkan keadaan mu Tuan! Begitu cara mu bicara dengan orang yang menghawatir kan mu? Tau gitu, biar saja kau mati tanpa ada seorang pun yang merawat mu, Tuan!" ] umpat Mela dengan, bulir bening yang gak terasa menerobos dari pelupuk mata nya dengan suara bergetar.
Mela langsung memutuskan sambungan telepon nya.
"Dasar laki laki gak punya perasaan, bisa bisa nya aku menghawatirkan pria galak seperti pak Arsandi!" sungut Mela, dengan terisak menatap layar hape nya.
"Aku harus minta uang ku di kembali kan! Bisa bisa nya bapak tua itu menipu ku!" rutuk Mela, mengingat sudah mentransfer sejumlah uang pada pria yang mengaku menyelamatkan Arsandi dari kecelakaan.
Dring dring dring.
Hape Mela kembali berdering, kali ini dari nomor yang gak ia kenal.
^^^"Selamat siang Nona, kami mau memberitahukan. Jika suami Nona yang bernama Arsandi saat ini telah berada di Kapolsek, terlibat kasus penyelundupan narkoba. Untuk itu Nona di minta untuk memberikan sejumlah uang sebagai jam---"^^^
Belum selesai penipu bicara, Mela langsung memotong perkataan nya dengan suara lantang dan berapi api, dengan mata melotot gak bisa lagi nutupin kekesalan nya pada orang yang tengah menghubungi nya.
[ "Hei kalian tukang tipu! Kembali kan uang ku! Kali ini aku gak bisa di tipu kalian lagi! Aku minta kembalikan uang ku sekarang juga! Kalo gak, aku yang akan melaporkan kalian ke polisi, atas kasus penipuan!" ]
Tut tut tut tut tut.
"Aaakkkkhhh sialannn kalian! Aku kena tipu!" teriak Mela sekencang kencang nya, lupa jika ia masih berada di ruang kerja Daniel.
Bugh.
Mela melempar benda pipih nya itu ke depan tanpa melihat dulu. Tepat dengan pintu yang tersembunyi, di buka dari dalam kamar.
"Awwhhhh!" pekik Elis dengan suara yang nyaring.
Elis langsung memegangi kening nya yang berdenyuttt dengan ke dua tangan nya. Karena di timpuk dengan benda yang cukup keras mendarat di kening nya lalu jatuh tergeletak di bawah kaki nya.
Daniel yang mendengar teriakan sang istri, langsung menghampiri nya.
"Ada apa sayang?" tanya Daniel dengan kwartir, langsung menjauhkan tangan Elis dan melihat kening sang istri.
"No- No- Nona? Tu- Tuan? Sejak kapan kalian di sini? Ta- tadi saya gak liat kalian ada di dalam sini?" tanya Mela dengan tergugup, dengan ragu melangkah menghampiri Tuan nya.
"Astagaaa jadi ini perbuatan mu, Mela!" bentak Daniel yang melirik sekilas ke arah Mela dengan wajah penuh kesal.
"Ma- maaf Tu- Tuan, sa- saya gak sengaja hiks hiks." ucap Mela dengan tangis yang pecah.
'Kenapa nasib gue hari ini sialll banget sih! Baru juga kerja jadi sekretaris Tuan Daniel. Belum sehari, apesss mulu gue di mari. Udah kena tipu, duit tabungan melayang. Pak Arsandi, Tuan Daniel marah marah, Nona kena timpuk hape ku, astagaaa besok alamat di pecat ini mah gue.' batin Mela, menjabarkan segala kemalangan nya hari ini.
"Sakit!" rengek Elis, tapi mendengar suara tangisan Mela, membuat nya gak tega.
Grap.
Daniel membawa Elis dalam gendongan nya, dan mendudukan nya di kursi kebesaran nya.
"Apa lagi yang kau tunggu hah! Cepat ke luar dari ruang kerja ku!" bentak Daniel, melihat Mela yang meraung bak anak kecil dengan duduk di lantai, ke dua kaki nya menendang angin.
"Kalian para pria gak pada punya perasaan! Gak tau apa aku ini lagi ada masalah huaaaa!" Mela mengucek ke dua mata nya dengan tangan nya, masih dengan tangis yang bahkan semakin kenjarrr.
"Kau mau diam, atau mau ku pecat!" ancam Daniel, dengan melirik tajam Mela, memberi wanita itu 2 pilihan.
"Pelan pelan! Itu sakit sayang!" rengek Elis, mencoba menahannn tangan Daniel yang sedang memberikan obat pada kening nya yang memarrr.
"Nona! Huaaaa aku kena tipu! Uang yang aku tabungan selama ini, hilang begitu aja!" ucap Mela di tengah tangis nya, kini Mela duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Daniel.
"Kok bisa?" tanya Elis dengan terperangah gak percaya.
__ADS_1
"Huaaaa a- aku, aku tadi mentransfer ke orang yang ngaku nolongin pak Arsandi yang lagi kecelakaan." ucap Mela dengan terisak.
"Dasar bodohhh, sudah besar masih aja kena tipu. Kau itu sudah dewasa, harus nya menyelidiki dulu, baru mengambil keputusan." umpat Daniel, menyimpan kotak obat pada tempat nya.
"Aku kan tadi sudah bilang di telpon, jangan percaya, pikir Arsandi saat ini sedang ke mana!" sungut Daniel lagi.
"Sayang! Jangan begitu ihs, ambil kan aku minum! Aku haus." ujar Elis, dengan tatapan memohon, meminta Daniel mengerti.
Daniel membuang nafas nya dengan kasar, gak bisa nolak keinginan Elis. Apa lagi ia baru saja dapat jatah menjenguk goa Elis yang sempat.
Cup.
Daniel mengecup sekilas bibir Elis dengan tatapan penuh kasih sayang. Tapi perasaan jengkel seketika menyeruak, saat ke dua mata nya melihat Mela yang menyebalkan.
"Kau itu sudah dewasa, masih saja bisa di tipu orang!" umpat Daniel, berlalu meninggalkan ke dua nya menuju sudut ruang kerja nya yang terdapat lemari pendingin mini.
"Coba ceritakan pada ku? Kenapa bisa terjadi?" tanya Elis, dengan tatapan serius, mendengarkan cerita dari Mela.
"Jadi begini Nona, aku tuh ___"
Mela menceritakan pada Elis tanpa ada yang terlewat, dengan Elis yang memasang indra pendengaran nya dengan tajam, agar dapat mendengar nya dengan seksama.
...---...
Wiliam tampak uring uringan di ruang kebesaran nya.
"Ugghhhhh sialll, kenapa sampai detik ini aku belum bisa membuat mu menjauh dari kehidupan Elis!" umpat Wiliam, menggaruk kepala nya dengan frustasi.
Wiliam meraih benda pipih milik nya yang ada di atas meja, lalu mendeal nomor seseorang dan menempelll kan nya di daun telinga kanan nya.
[ "Kau di mana? Sudah sejauh mana kau menjalan kan rencana mu?" ] tanya Wiliam dengan suara tegas.
^^^"Di rumah Tuan, saya belum menjalan kan rencana saya Tuan. Dan untuk 3 hari ke depan, saya belum bisa menjalankan rencana saya itu." ucap Ella dengan suara lirih.^^^
[ "Kenapa bisa? Kau sudah bosan hidup?" ] tanya Wiliam dengan nada suara yang gak senang.
^^^"Saya habis kecelakaan Tuan. Saya bahkan sudah membuat Tuan Daniel menghabiskan banyak uang. Tidak sampa di situ, saya hampir membuat nyawa Nona Elis dalam bahaya."^^^
[ "Apa? Apa yang sudah kau lakukan pada Elis, Ella?" ]
Terdengar Ella menghembuskan nafas kasar nya sebelom menjawab pertanyaan Wiliam.
[ "Ella!" ] seru Wiliam dengan nada tinggi.
^^^"Kecelakaan Tuan, kecelakaan beruntun karena kecerobohan saya yang menginjak rem mendadak."^^^
[ "Ellaaaa, berani nya kamu! Lalu bagai mana dengan keadaan Elis sekarang? Apa nya yang luka? Seberapa parah luka yang ia alami? Bagaimana dengan kandungan nya? Apa kandungan nya baik baik aja atau sudah lenyap?" ] tanya Wiliam tanpa koma, begitu khawatir terhadap kondisi Elis dan kandungan Elis.
^^^"Astagaaa Tuan Wiliam! Bawel mu ini melebihi bawel nya nenek ku yang sudah bau tanah!" umpat Ella dengan kesal, lalu memutuskan sambungan telepon nya.^^^
Tut tut tut tut.
"Ella, Ella, halo Ella! Ah sialll... berani nya bocah itu memutuskan sambungan telepon ku!" maki Wiliam, menatap jengkel layar hape nya.
Wiliam yang kalang kabut, gak bisa mikir lagi dengan pikiran jernih, langsung meninggalkan ruang kebesaran nya menuju mobil yang terparkir di area parkir.
"Aku harus tau bagaimana keadaan Elis saat ini!" gumam Wiliam, mulai melajukan kendaraan nya melesat meninggalkan area parkir.
"Usaha ku ini gak boleh sia sia, sudah aku perjuangkan untuk bisa mengimbangi mu yang seorang anak orang kaya, anak seorang pengusaha. Dan sekarang aku gak bisa melihat mu bahagia dengan pria lain. Kamu akan jadi milik ku kembali Elis! Apa pun cara nya!" Wiliam memukulll mukulll setir kemudi, saat jalan yang ia lewati padat dengan kendaraan lain nya.
...---...
Ting dong, ting dong.
Zee menekan bel yang terdapat di pintu rumah Ella.
Ceklek.
Gak lama, pintu di buka dari dalam. Nampak Ella yang berdiri di depan pintu dengan wajah lesu.
Grap.
Zee langsung memeluk Ella dengan erat.
"Ya ampun Ella, kamu baik baik aja kan! Aku langsung ke sini saat kamu bilang habis kecelakaan. Pikiran aku udah jelak banget kamu kenapa kenapa!" ujar dokter Zee, mengelusss punggung Ella, dengan bulir bening yang gak terasa menerobosss di pelupuk mata nya.
"Aku gak apa apa dokter. Justru aku akan segera mati kalo kau itu terus memeluk ku dengan cara seperti ini!" seru Ella dengan senyum di bibir nya.
Dokter Zee langsung menjarak tubuh nya dari Ella, "Dasar bocah! Gak tau apa kalo aku ini khawatir banget sama kamu! Kamu tuh udah kaya adik aku! Bisa gak sih gak usah buat aku khawatir!" omel dokter Zee dengan bibir mengerucut.
"Iya maaf, aku juga gak mau bikin orang khawatir. Tapi emang udah begini, yah mau di apain lagi dong!" Ella melangkah masuk ke dalam rumah, di ikuti dokter Zee yang menyusul nya berjalan di belakang.
"Cerita kan pada ku, gimana bisa kamu kecelakaan? Kamu itu kan udah handal dalam mengemudi! Masa iya kamu biyang keladi dari tabrakan beruntun!" tanya dokter Zee dengan penuh penasaran.
Ella menghentikan langkah kaki nya, gak fokus dengan apa yang dokter Zee katakan, lalu berbalik menatap dokter Zee yang ikut berhenti.
Ella menatap lekat dokter Zee dengan penuh selidik. 'Apa yang dokter Zee bawa untuk ku? Aku lapar sekali!' Ella menatap paper bag yang ada dalam genggamannn tangan dokter Zee.
"Kenapa melihat ku begitu? Apa ada yang salah dengan penampilan ku?" tanya dokter Zee, menelisik ke arah tubuh nya sendiri.
'Gak ada yang aneh dengan tubuh ku, tapi kenapa Ella melihat ku seperti itu?' batin dokter Zee penuh tanya.
"Dokter bawa apa ke sini? Aku sangat lapar, aku belum makan nih!" rengek Ella dengan mengerucutkan bibir nya di depan dokter Elis, sementara tangan nya mengelusss perut nya yang rata.
Kruk kruk kruk.
"Hehehehe dokter bisa dengar sendiri kan, bunyi diskooo ala ala perut ku!" ujar Ella di serai dengan tawa canggung nya.
"Dasar kau ini, benar benar bocah. Di kasih hati minta jantung! Selalu aja begitu, saat kita bertemu!" umpat dokter Zee dengan gelengan kepala.
Dokter Zee melangkah memasuki rumah Ella yang tampak sederhana. Dokter Zee mendudukan diri nya di sofa, dengan meja di depan nya. Tangan nya terulur meletakkan paper bag yang ia bawa di atas meja.
"Dokter bawa apa? Kalo dari aroma nya, seperti nya ini sangat enak! Menggugah selera!" ujar Ella, duduk di sofa single, indra pencium nya mengendusss udara yang menyeruak mengeluarkan aroma masakan yang sangat wangi dengan rempah.
"Ayo di makan dulu! Semoga aja kamu suka ya dengan rasa masakan nya!" seru dokter Zee, meletakkan satu boxs berisikan masakan Padang di atas meja, dan menggeser nya ke depan Ella.
"Ihs aku suka banget ini nasi Padang, porsi nya juga cukup untuk ku!" ucap Ella dengan bersemangat membuka penutup nasi boxs milik nya.
"Apa? Porsi nya pas untuk mu?" dokter Zee di buat terperangah mendengar jawaban Ella.
Ella menganggukkan kepala nya dengan cepat. Mulai memakan nya dengan lahap.
"Hei! Cuci tangan dulu, kalo gak... gunain sendok!" omel dokter Zee.
"Aku tadi udah cuci tangan... astagaaa ini enak banget." Ella memuji makanan nya yang begitu lezat di lidah nya.
"Iya tapi makan nya pelan pelan, sambil makan, ayo ceritakan pada ku El!" pinta dokter Zee lagi yang ikut memakan nasi boxs milik nya.
Ella menceritakan apa yang terjadi, hingga mobil yang ia kemudikan mengalami tabrakan beruntun.
"Pasti ada yang di ingin kan Elis, maka nya dia meminta mu langsung berhenti saat itu juga!" pikir dokter Zee, dengan asumsi nya.
"Mungkin juga si Nona." ujar Ella membenarkan.
"Apa kau tau, apa yang di lihat Elis?" tanya dokter Zee dengan penasaran.
...💖💖💖...
Bersambung...
Pembaca yang budiman, yang paling anteng tanpa like dan tanpa komen. Ini beneran lo pada anteng bangat, ngapa kaga ada yang komen si? Author gabut nungguin tau ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...