Menikahi Nona Muda Manja

Menikahi Nona Muda Manja
Apa aku mulai terpesona


__ADS_3

...💖💖💖...


Cup.


Bibir Elis berlabuh pada bibir Daniel, wajah ke duanya tanpa jarak.


"Apa rasanya manis?" tanya Daniel dengan memainkan alisnya naik turun.


"Ehem kalian ini benar benar pasangan tidak tau malu ya! Liet sikon dong kalo mau saling cumbu!" cibir Stefani yang kini sudah berdiri di depan ke duanya.


Daniel dan Elis sama sama menoleh ke arah Stefani. Tatapan Daniel begitu dingin dengan wajah datar, berbeda saat ia memandang Elis dengan tatapan penuh cinta, hangat.


Sementara Elis menyunggingkan sudut bibirnya, menyembunyikan perasaan kecewa pada Stefani, perasaan merasa di khianati seseorang yang sangat ia percaya.


"Kau datang dengan siapa, Stef? Mana pasangan mu?" Daniel beranjak dari duduk, menjabat tangan Stefani dengan ke dua mata elang Daniel mencari ke sana dan ke mari.


Stefani menarik tangan Daniel, hingga tubuh depan ke duanya saling menempel tanpa jarak. "Siapa yang kau cari? Aku datang dengan pria yang tidak kalian izinkan masuk ke dalam pesta ini!" ucap Stefani dengan suara yang mendayu dayu, terdengar seperti merajuk di telinga Daniel.


Elis menatap tidak suka dengan apa yang di lakukan ke duanya. "Apanya yang cinta? Cinta, cinta, tapi berani memeluk wanita lain di depan ku! Dasar pria brengsekkk, semua pria sama saja!" omel Elis dengan suara yang pelan.


Daniel menarik dirinya dari pelukan Stefani, berkata dengan tegas. "Jaga sikap mu, Stef! Pemilik acara berhak bukan untuk memberikan aturan, siapa saja yang boleh dan tidak, untuk memasuki tempat acara berlangsung!" ucapnya dengan penuh penekanan.


Elis beranjak dari duduknya, menatap tajam Stefani. "Apa sebagai mantan sahabat, kau tidak ingin memberikan selamat pada ku? Tapi jika kau tidak mau memberikan selamat pada ku, aku tidak masalah! Kau bisa langsung menikmati hidangan yang kami sediakan untuk para tamu lainnya!"


Stefani melakukan hal yang sama pada Elis, menariknya ke dalam pelukannya dan menepuk nepukkan tangannya di punggung Elis.


"Jaga suami mu, jika kau tidak ingin aku merebutnya kembali! Sama seperti aku berhasil merebut Wiliam, di malam yang harusnya menjadi malam pertunangan kalian!" bisik Stefani di telinga Elis.


Stefani menarik tubuhnya, dengan tatapan dan senyum sinis, menantikan jawaban apa yang akan di ucapkan Elis padanya.


Kau pasti sangat marah, Elis! Ayo cakar wajah ku, biar tamu yang hadir akan mencap mu sebagai pewaris Sadiki crop yang tidak beretika, menyerang tamu di saat pesta pernikahannya sendiri.


Elis mengepalkan ke dua tangannya, kilatan api permusuhan semakin nampak di mata Elis untuk Stefani.


Kurang ajarrr ini Stefani, jadi benar kan dia yang sudah membuat pertunangan ku dengan Wiliam gagal. Kau pikir aku akan diam saja! Huh dasar wanita bermuka dua, kau belum tau aku rupanya!


Baru saja tangan kanan Elis mengudara, tangan Daniel lebih dulu menangkapnya dan membawanya dalam genggamannya.


Grap.

__ADS_1


Stefani dengan spontan langsung menutup ke dua matanya, mengira jika tangan mulus Elis akan mendarat sempurna di pipi mulus Stefani.


"Jaga sikap mu, sayang! Jangan sampai kau terpancing olehnya!" bisik Daniel dengan mendekatkan kepalanya ke telinga Elis.


Harusnya sakit kan! Kok ini gak sih! Apa Elis gak jadi nampar pipi aku? Batin Stefani, lalu membuka matanya perlahan, mengintip apa yang terjadi dengan Elis dan Daniel.


Elis mengerutkan keningnya. "Memang kau pikir aku ini mau apa? Menamparnya? Cihs aku masih sayang dengan tangan ku! Tangan ku ini jauh lebih berharga dari pada aku menamparnya!" gumam Elis.


"Itu baru istri ku!" Daniel dengan bangga mendaratkan tangannya pada lengan Elis dan menariknya ke dalam pelukannya.


"Ihs kalian berdua, pasangan yang menyebalkan!" sungut Stefani dengan tangan mengepak, menghentakkan ke dua kakinya lalu meninggalkan panggung pelaminan.


Bruk.


"Akhhh!"


Stefani yang tidak memperhatikan anak tangga pada panggung pelaminan, membuat langkah kakinya tidak berpijak pada tempatnya, hingga membuatnya jatuh terduduk.


Seketika tawa menjadi pecah, apa lagi untuk para tamu undangan yang duduk di depan panggung pelaminan, dan tamu undangan lainnya yang akan memberikan ucapan selamat pada mempelai.


"Ahahahhaha jalan tuh pake mata! Hadeeh model ibu kota gak pake mata buat lihat jalan!" ucap Robi setelah menghentikan tawanya.


"Sssttt, kok lo bisa ngomong gitu? Mereka berdua kan sahabatan!" Meli yang tidak tahu, menyenggol lengan Mela, kembarannya yang merupakan satu agensi dengan Stefani.


"Ah anak kecil mending diem aja!" celetuk Mela.


"Kita ini kembar Mela, lo sama gue itu lahir cuma beda 5 menit." Meli mengerucutkan bibirnya tidak terima di kata anak kecil.


"Perlu saya bantu gak bu?" tanya Feli yang kini berdiri di depan Stefani dengan mengulurkan tangan kanannya.


Stefani menatap marah pada orang orang yang mentertawakannya, sialll apes banget sih gue! Mau buat Elis malu malah gue yang di buat malu dengan kejadian ini!


Sreek.


Stefani menepis tangan Feli dengan kasar.


"Gue gak butuh bantuan lo! Gue bisa bangun sendiri!" ucap Stefani dengan ketus.


Stefani beranjak dari posisinya dan berlalu dengan berjalan pincang, karena satu sepatu healls nya patah.

__ADS_1


Feli menggeleng kepalanya, menatap punggung Stefani yang menjauh darinya. "Ihs kalo bukan lo anak rekan bisnis pak Brian, bukan sahabatnya Nona Elis dan Tuan Daniel, ogah amat gue juga nolongin lo!"


Tanpa terasa malam kini menjelang, sepasang pengantin itu langsung menempati sweet room yang terdapat di hotel itu dengan berbagai fasilitas mewah yang di sediakan pihak hotel.


Elis duduk di depan meja rias, melepasss aksesoris yang mekekat pada tubuhnya, dan beberapa aksesoris yang terdapat pada kepalanya.


Daniel yang baru saja ke luar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawahnya. Tangan kanannya mengeringkan rambutnya yang basahhh dengan handuk kecil, membuat air menetes dan turun membasahi perutnya yang kotak kotak bak roti sobek.


"Belum selesai?" tanya Daniel yang kini berdiri di belakang Elis.


Elis menggelengkan kepalanya. "Jika aku sudah selesai, aku tidak akan duduk di sini!" Elis mengerucutkan bibirnya.


Ke dua tangan Daniel merekat di lengan Elis, menggeser posisi duduknya Elis.


"Kau mau apa?" tanya Elis dengan sulit menelan salivanya.


"Sssttt, aku bantuin lepasss anting kamu!" Daniel mencondongkan tubuhnya, tangannya terulur melepaskan anting yang terpasang di telinga Elis.


Kini Daniel berdiri di depan Elis, membantu melepasss mahkota yang ada di kepala Elis.


Kenapa Daniel tampak segar ya, apa aku mulai terpesona, astaga roti sobek Daniel, boleh gak kalo aku memegangnya!


Grap.


Daniel menggapai tangan Elis, membawanya hingga menyentuh dadanya yang kini bertelanjang dada.


"Kalo mau sentuh, sentuh aja! Ini halal kok, punya kamu juga kan!" ucap Daniel dengan hangat.


Bugh.


"Awhhh Elissa!"


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentarnya dong, 😅😅


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...

__ADS_1


...Kehaluan semata, bukan sebuah kenyataan...


__ADS_2