Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 100. Menjadi Penurut


__ADS_3

Setelah selesai masak, dilanjutkan dengan berbincang bersama mengenai Nisa karena Widia ingin tahu lebih jauh lagi tentang menantunya itu walaupun jauh dari lubuk hatinya, ia belum yakin putranya bisa mencintai Nisa dengan sepenuh hati.


Tanpa mereka berdua sadari, waktu bergulir begitu cepat dan adzan tengah berkumandang di masjid terdekat. Dengan begitu, Nisa dan Widia segera mengambil wudhu dan salat dzuhur bersama. Setelah itu, Nisa kembali ke kamarnya, sedangkan Widia hanya duduk di depan televisi yang ada di ruang tengah.


"Mih, Nisa ke mana?" tanya Fahmi kerena ia tidak melihat keberadaan istrinya.


"Nisa pergi ke kamar sebentar," jawab Widia dan dia merasa heran kepada putranya yang sudah pulang ke rumah, biasanya juga enggak seperti ini.


"Fahmi ke kamar dulu, Mih," ucap Fahmi yang langsung ingin menemui istrinya.


"Tunggu! Kenapa sudah pulang? Biasanya juga pulang sore," tanya Widia kepada putranya yang hendak menemui Nisa.


"Ada yang ke tinggalan, Mih. Jadi, Fahmi pulang dulu ke rumah untuk mengambilnya." Tanpa menunggu Widia mengatakan sesuatu lagi, lantas Fahmi berjalan begitu saja meninggalkan Widia yang hanya menggelengkan kepalanya saja.


Sesampainya di kamar, Fahmi langsung saja masuk dan mencari istrinya yang katanya berada di dalam kamar. Dan benar saja, Nisa berada di kamar.


"Nis, tolong ambilkan map biru yang semalam aku simpan," pinta Fahmi sembari mendekati istrinya yang sedang duduk di sofa.


"Kalau baru pulang itu ucap dulu salam, bukannya langsung masuk dan menyuruh begitu saja," ujar Nisa di saat melihat suaminya yang baru pulang dari kantor.


Seketika Fahmi menghentikan langkahnya begitu saja. "Assalamualaikum," ucap Fahmi dan kembali mendekati Nisa.


"Wa'alaikumsalam, nah begitu lebih bagus," ucap Nisa kembali dan berjalan menuju meja yang ada di dekat lemari, sedangkan Fahmi hanya diam saja melihat istrinya.


"Ini Mas, map-nya." Nisa memberikan map biru yang diminta oleh suaminya.


"Terimakasih," ucap Fahmi dan mengambil map yang diberikan oleh istrinya—Nisa.


Nisa mengangguk dan kali ini, ia bertanya, "Mas akan kembali lagi ke kantor?"


"Iya karena masih banyak yang perlu di kerjakan," jawab Fahmi yang sedang memeriksa map tersebut.


"Sudah makan siang belum?" tanya Nisa kembali.


"Belum," jawab Fahmi singkat karena terlalu banyak pekerjaan di kantor sehingga membuat ia lupa untuk makan siang.


"Sebelum kembali ke kantor, Mas makan dulu saja di sini. Biar aku siapakan!" ujar Nisa yang membuat Fahmi menatapnya dengan sangat dalam.

__ADS_1


"Aku akan terlambat ke kantor jika aku makan dulu di sini, sedangkan pertemuan dengan klien akan segera dilakukan," ucap Fahmi sembari menatap Nisa tajam.


"Hanya sebenar, kok. Tidak akan membuang waktu yang lama," balas Nisa dengan santainya.


"Tetap, Nis! Aku bisa makan di luar saja," seru Fahmi yang tidak mau terlambat kembali ke kantor.


"Nanti Mas belum tentu bisa makan, sudah di sini saja!" tegas Nisa yang tetap membujuk suaminya untuk makan di rumah.


"Tapi, aku bisa terlambat," ucap Fahmi.


"Insya Allah enggak akan terlambat. Lagian cuman sebentar saja," ucap Nisa sembari mengajak suaminya untuk ke bawah dan pada akhirnya Fahmi mengalah, menuruti ucapan istrinya itu.


Sesampainya di dapur, Nisa segera menyiapkan makanannya dan Fahmi menyantapnya dengan sangat lahap karena sebenarnya, ia juga merasa sangat lapar.


"Masakannya sangat enak, pasti Mamih yang membuatnya," ucap Fahmi percaya diri sembari meminum air putih yang sudah disediakan oleh istrinya.


Nisa hanya tersenyum membalasnya dan pada saat itu juga, Widia datang menghampiri putra dan menantunya yang berada di dapur. Tanpa mereka berdua sadari, Widia sudah mendengar semua yang mereka ucapkan.


"Bukan Mamih yang membuatnya, Mi." Mendengar itu, membuat Fahmi menatap Widia heran.


"Istrimu—Nisa yang membuatnya," jawab Widia sembari melihat kepada menantunya yang hanya diam.


Fahmi tercengang mendengarnya, ia tidak percaya istrinya itu bisa memasak dan pasakannya pun sangat enak. "Apa?"


"Iya ... Nisa yang memasaknya," jelas Widia sekali lagi dan Fahmi hanya terdiam dan tidak bisa mengatakan apa pun lagi.


"A--aku harus pergi ke kantor, sekarang juga!" Fahmi terlihat begitu malu dan ingin segera pergi dari rumah. Namun, Nisa malah menghadangnya.


"Tunggu Mas!"


Fahmi berbalik dengan menatap istrinya. "Apa lagi?"


"Map-nya ketinggalan," ucap Nisa sembari mendekat kepada suaminya dan memberikan map tersebut.


Karena terburu-buru dan malu, membuat Fahmi lupa membawa map-nya, dengan segera Fahmi menerimanya dari tangan Nisa. Namun, Fahmi dibuat keheranan oleh istrinya yang tanpa ragu mencium punggung tangannya.


"Hati-hati di jalannya, Mas. Insya Allah, Mas tidak akan terlambat ke kantor," ucap Nisa setelah mencium punggung tangan suaminya.

__ADS_1


Fahmi yang merasakan hal aneh hanya bisa mengangguk saja dan kembali melanjutkan jalannya. Akan tetapi, Nisa kembali menghentikan langkahnya.


"Mas masih ingat dengan apa yang aku ucapkan tadi?" tanya Nisa.


Fahmi kembali mengingat semua perkataan istrinya dan akhirnya ia mengerti maksud dari ucapan Nisa. "Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarokatuh," jawab Nisa sembari tersenyum yang kemudian, Fahmi pergi dari rumahnya tanpa ditahan lagi.


Melihat itu, Widia hanya bisa membulatkan kedua matanya. Dia tidak percaya, putranya yang keras kepala itu bisa jadi penurut begitu saja setelah menikah dengan Nisa, sedangkan Widia saja sudah kehabisan kata untuk membuat putranya menurut.


***


Sesampainya Fahmi di kantor, ia terlihat begitu tenang dan tidak tegang seperti sebelumnya yang takut terlambat. Dan benar saja, apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Fahmi tidak sampai terlambat untuk memulai pertemuan dengan klien pentingnya.


Tanpa di sadari olehnya, Fahmi melengkungkan bibirnya sehingga menerbitkan senyuman yang begitu indah. Entah apa yang dipikirkan oleh Fahmi sehingga membuatnya begitu senang.


***


Di sisi lain, terdapat seorang laki-laki dengan jas putihnya, nampak melamun di dalam ruangan serba putih. Ia sedang merenungi semua ucapan Dokter Linda yang kali ini membuatnya berpikir dengan begitu jauh.


"Apa yang dikatakan oleh Dokter Linda itu benar dan aku harus bisa menerima semuanya dengan ikhlas, tapi itu sangat susah," gumam Aditya yang sedang kelut dengan pikirannya sendiri.


Aditya terlihat kebingungan, antara mengikhlaskan dan memperjuangkan. Namun, diperjuangkan juga tidak akan mungkin. Akan tetapi, mengikhlaskan itu sangat berat untuk Aditiya.


Oleh karena itu, Aditya hanya bisa memilih di antara kedua itu. Walaupun demikian, keputusan yang Aditya ambil akan sangat berat bagi dirinya. Semua itu cukup menggangu Aditya dan membuatnya bimbang.


"Dokter, ada pasien yang sedang menunggu anda di ruang operasi." Suara suster itu mengagetkan Aditya dan tanpa berlama-lama lagi, Aditya menghampiri pasiennya.


"Baik, saya akan segera ke sana!" jawab Aditya meskipun pikirannya sedang tidak baik, tapi jika menyangkut tentang pasien. Aditya akan lebih mengutamakannya dari urusan yang lain.


-


Alhamdulillah, pada saat ini novel Menikahi Wanita Muslimah sudah sampai episode 100. Bagaimana, apa ceritanya menarik?


Terlebih dari itu, saya ucapkan terimakasih kepada kalian semuanya yang telah setia menunggu cerita ini, bahkan sampai saat ini.


Maaf, bila masih ada kata yang belum sempurna dan Author juga masih belajar. Maka dari itu, mohon dimaklumi atas semua kesalahannya.

__ADS_1


__ADS_2