
Lain halnya dengan Fatimah yang mulai merasakan masa-masa menjadi seorang istri. Di mana hari-harinya akan jauh berbeda dengan hari bisanya, semua dijalani bersama sehingga tidak sendirian dalam hal apapun. Dari mulai menyiapkan perlengkapan suaminya, Fatimah juga belajar untuk mencintai suaminya.
"Adek, setelah kita menikah. Kakak akan membawa Adek ke rumah orang tua Kakak. Apa Adek tidak keberatan?" Reza mulai berbicara kepada Fatimah dengan meminta persetujuannya walaupun itu tidak perlu karena seorang istri akan ikut ke mana pun suaminya pergi.
"Aku tidak apa-apa jika Kakak ingin membawa Imah ke rumah kedua orang tua Kakak, tapi kita harus minta izin dulu kepada Abi," jawab Fatimah sembari tersenyum walaupun ia sangat berat untuk meninggalkan keluarganya.
"Kakak tidak akan memaksa Adek untuk tetap di sini, bagaimanapun Kakak tahu ini pasti berat untuk Adek," ujar Reza dan mengerti dengan apa yang istrinya pikirkan.
"Tidak apa, Imah akan berusaha menyesuaikan diri dengan orang baru. Kakak tidak perlu khawatir yah," ucap Fatimah yang kembali menyakinkan suaminya.
"Ya sudah, besok Kakak akan bawa Adek ke rumah. Nanti biar Kakak yang bicara sama Abi," ucap Reza dengan sedikit tenang.
Setelah perbincangan itu selesai, Reza menemui Abi Zaenal yang sedang berada di ruang tamu. Tanpa ragu lagi, Reza menghampirinya.
"Abi, Reza ingin mengatakan sesuatu," ucap Reza sembari menatap wajah Abi Zaenal yang kebetulan sedang sendirian.
"Iya, mau bicara apa, Nak Reza?" Abi Zaenal menatap wajah menantunya sembari menunggu apa yang akan dikatakan oleh Reza.
"Besok Reza ingin membawa Fatimah ke rumah, boleh kan, Abi?" tanya Reza lantas membuat Abi Zaenal tersenyum.
"Boleh, kan sekarang Fatimah sudah menjadi istrimu maka Nak Reza bisa membawa Fatimah, asalkan Nak Reza harus berada di sampingnya," tutur Abi Zaenal yang hanya tersenyum karena Reza masih saja sungkan ketika bersamanya.
"Iya, Bi. Insya Allah, Reza akan selalu ada bersama Fatimah," balas Reza sembari menampakkan senyuman manisnya.
Dengan begitu, tidak ada lagi yang dikhawatirkan karena Fatimah dan Abi Zaenal sudah mengijinkannya. Sebenarnya Reza bisa saja tinggal di sini bersama keluarga istrinya, tapi jaraknya terlalu jauh dengan Perusahaan Atmaja Putra sehingga Reza memutuskan untuk tinggal di rumah kedua orangtuanya dan jika ada rezeki, Reza akan mebuat rumah untuk keluarga kecilnya.
Beberapa saat dari situ, Ummi Siti datang dengan membawa kopi, cemilan, dan susu. Lantas Ummi Siti menaruhnya di meja depan Abi Zaenal dan Reza yang terlihat tengah berbincang.
"Reza, istri kamu di mana?" tanya Ummi Siti karena tidak memilhat Fatimah di sana.
__ADS_1
"Fatimah di kamar, Mi," jawab Reza. Sebelumnya Reza sudah mengajak Fatimah untuk menemui Abi Zaenal, tapi istrinya itu sedang merapikan pakaian sehingga hanya dirinya yang menemui Abi Zaenal.
"Ajak Fatimah ke sini, biar kita bisa ngumpul bareng," pinta Ummi Siti pada Reza yang mengangguk dan segera menemui istrinya.
Di saat memasuki kamar, Reza melihat istrinya yang tengah membaca buku. "Dek," panggil Reza sembari berjalan mendekati Fatimah.
"Iya, Kak. Ada apa?" tanya Fatimah sembari menutup bukunya yang tadi sempat ia baca.
"Ummi nyuruh Adek kumpul di ruang tengah, katanya mau kumpul bareng," jawab Reza sembari mendekati istrinya.
"Ya udah. Ayo kita temui Ummi, takutnya nyusul," ucap Fatimah yang tanpa sengaja membuat Reza tersenyum.
Keduanya pun berjalan ke luar untuk menghampiri Abi Zaenal dan saudaranya yang ingin berkumpul di sana. Tidak seperti biasanya karena terlalu sibuk, membuat Abi Zaenal jarang berbincang dengan anak-anaknya. Maka dari itu, ia ingin bersama berbincang kembali dengan anak-anaknya yang sudah tumbuh besar dan dewasa.
Di tambah lagi oleh Fatimah yang akan meninggalkan rumah, seperti Almaira yang mengikuti suaminya sehingga membuat Abi Zaenal akan sedikit kehilangan karena putrinya sudah tidak bersama lagi di rumahnya.
***
Di sisi lain, Almaira terlihat begitu di manja oleh suaminya, padahal ia masih hamil muda. Sepulang dari jalan-jalan, Alvian langsung saja menyuruh Almaira untuk beristirahat karena setahunya orang yang tengah mengandung akan rentan kecapean.
Almaira tidak mau tidur karena tidak mengantuk. Dengan begitu, Almaira langsung saja menemui Bi Sumi karena ingin memberikan sesuatu, sedangkan Alvian sudah tidak karuan, melihat istrinya yang sepulang dari jalan-jalan, tapi tidak mau tidur.
"Sayang tunggu! Kamu harus istirahat dulu." Alvian berteriak memanggil istrinya yang terus saja menjauh dari hadapannya.
"Enggak, Mas. Maira belum ngantuk," jawab Almaira dan kembali berjalan untuk menemui Bi Sumi.
Saat Almaira sampai di dapur, ia pun langsung saja menghampiri Bi Sumi yang sedang memotong wortel.
"Bi, ini Almaira bawakan makanan untuk Bibi. Jangan lupa di makan ya, Bi." Almaira memberikan kantong plastik yang dibawanya kepada Bi Sumi.
__ADS_1
"Eh, kok dikasih ke Bibi? Kenapa enggak Non makan saja?" Bi Sumi terlihat kebingungan karena majikannya malah memberikan makanan kepada dirinya.
"Enggak kok, ini Almaira sengaja beliin untuk Bibi. Tidak perlu khawatir, Bi. Almaira sudah minta ijin sama Mas Alvian dan Mas Alvian juga enggak apa-apa," balas Almaira sembari tersenyum.
"Non sangat baik, terimakasih yah," ucap Bi Sumi. Awalnya Bi Sumi tidak enak untuk menerimanya. Akan tetapi, bila Bi Sumi tidak menerimanya, ia akan lebih tidak enak sama Almaira.
"Enggak kok, ini tidak seberapa. Semoga Bibi suka yah," ucap Almaira yang kembali membuat Bi Sumi kagum.
"Suka kok, malahan Bibi suka banget," balas Bi Sumi sembari menampakkan senyumannya yang terlihat begitu indah.
"Alhamdulillah jika Bibi suka," ucap Almaira kembali.
Tanpa mereka sadari, Alvian mendengar semuanya. Namun, ia tidak langsung menghampari istrinya. Untuk itu, Alvian hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan istrinya.
Akan tetapi, karena sudah beres mendengar perbincangan istrinya. Dengan begitu, Alvian menghampiri Almaira dan membuat Almaira sedikit kaget.
"Istriku itu bukan cuma cantik, tapi baik juga," puji Alvian yang membuat Almaira kaget sekaligus malu.
"Mas, jangan gitu," ucap Almaira yang malu melihat suaminya dan tanpa disadari olehnya, Alvian mendengar ucapanya bersama Bi Sumi.
"Benar yang dikatakan oleh Den Alvian, Non Almaira udah cantik, baik lagi. Sekali lagi, terimakasih, Non Almaira." Bi Sumi juga ikut menyetujui perkataan Alvian yang memuji istrinya.
"Tuh kan, Bibi saja sependapat dengan Mas, tapi ...." Alvian menggantungkan ucapanya.
"Tapi apa, Mas?" Almaira terlihat begitu penasaran oleh kelanjutan ucapan suaminya yang tidak sempat dibereskan.
"Tidak ada tapinya, sebelum kamu keras kepala lagi. Mas akan menyuapi buah untuk kamu," ucap Alvian dengan mengambil buah di atas meja makan, dan segera mengupasnya yang nantinya akan diberikan kepada Almaira.
Almaira tidak bisa membantahnya lagi jika suaminya sudah begini, Almaira hanya bisa menurutinya. Ia tahu, semua yang dilakukan oleh Alvian itu untuk kebaikannya.
__ADS_1