Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 23. Handuk


__ADS_3

Almaira menatap Alvian yang tengah terdiam, dengan terus menatap wajahnya dan sambil menggenggeam kedua tangannya, Almaira mulai merasa keheranan, dengan apa yang di lakukan suaminya itu.


"Mas kenapa kita terus berdiri disini? Bukannya Mas tadi bilang mau mandi?" tanya Almaira dengan heran.


"Eh, iya. Maaf, Mas jadi lupa." Alvian tersenyum menampakan deretan giginya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya sudah Almaira siapkan dulu air hangatnya, tapi ...."


"Tapi apa?" Alvian mengikuti arah tatapan mata istrinya.


Alvian terlihat malu sendiri, melihat tangannyalah penyebab dari istrinya tidak kunjung melanjutkan ucapannya. Perlahan Alvian melepaskan genggaman tangannya dari kedua tangan Almaira.


"Sekarang kamu bisa pergi," ucap Alvian sambil menatap istrinya.


"Almaira siapkan dulu air hangatnya, ya. Mas tunggu saja di sini!" Almaira berjalan dengan langkahnya yang pelan, masuk ke dalam kamar mandi.


Alvian berdiri melihat punggung Almaira yang dengan perlahan menghilang dari penglihatannya. Sesaat kemudian, Almaira sudah datang kembali menghampiri suaminya.

__ADS_1


"Mas, itu airnya sudah Almaira siapkan," ucap Almaira dan Alvian mengangguk, dengan perlahan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah melihat suaminya masuk ke dalam kamar mandi. Almaira memilih duduk di tempat tidurnya sambil membawa sebuah buku novel di tangannya.


Beberapa saat kemudian tiba-tiba Alvian memanggilnya dari dalam kamar mandi.


"Almaira, tolong ambilkan handuk di dalam lemari Mas. Mas tadi lupa tidak membawa handuk." Alvian berteriak memanggil istrinya.


Almaira yang sedang menikmati membaca novelnya, teralihkan dengan teriakan suaminya yang tengah memanggil dirinya.


"Iya Mas, tunggu sebentar. Almaira ambilkan dulu." Almaira perlahan berjalan menghampiri lemari pakaian suaminya, hanya untuk mengambil sebuah handuk yang suaminya minta.


"Ini Mas handuknya." Almaira memberikan sebuah handuk kepada suaminya, sambil terus menunduk.


Dengan segera Alvian mengambilnya. "Terimakasih." Perlahan Alvian menutup kembali pintu kamar mandi tersebut.


Almaira merasa lega setelah suaminya kembali menutup pintunya, dengan begitu ia pun kembali berjalan menghampiri tempat tidurnya. Wajahnya pun terlihat merona karena malu.

__ADS_1


Pintu kamar mandi telah terbuka dengan memperlihatkan Alvian yang terlihat segar setalah selesai mandi. Almaira menatap suaminya yang perlahan berjalan maju menghampirinya. Dengan rambutnya yang basah menambah ketampanan yang Alvian miliki, dan tubuhnya yang kekar membuatnya terlihat semakin berkarisma.


Almaira yang merasa suaminya akan semakin mendekat kepadanya, dengan begitu Almaira langsung menundukkan kepalanya


"Almaira, apa baju Mas sudah kamu siapkan?" Alvian bertanya kepadanya.


Almaira mulai teringat dirinya telah lupa menyiapkan baju untuk suaminya. "Eh, Maaf Mas, Almaira lupa. Tunggu sebentar, Almaira ambilkan dulu."


Dengan buru-buru Almaira berjalan mengambil sebuah baju untuk suaminya, sedangkan Alvian tersenyum melihat tingkah istrinya yang sangat manis ketika melihatnya.


"Mas ini bajunya. Maaf bila tidak sama dengan selera yang Mas punya," ujar Almaira sembari memberikan baju kepada suaminya.


Lagi-lagi Alvian tersenyum melihat wajah istrinya yang terus saja menunduk.


"Kamu tidak salah kok, selera kamu bagus. Mas sangat suka dengan selera mu."


Tidak di pungkiri lagi, wajah Almaira sudah mulai terlihat merona dengan perkataan suaminya.

__ADS_1


Alvian yang tidak ingin melihat istrinya itu terus merasa malu dan serba salah, mulai berjalan meninggalkan Almaira dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Meskipun Alvian suka dengan tingkah istrinya yang sangat menggemaskan dan ingin menggodanya kembali. Namun, niatnya telah diurunkan karena kasihan kepada Almaira.


__ADS_2