
Setelah menyakinkan dirinya, Fahmi mulai berusaha untuk membuktikan ucapannya terhadap Nisa. Untuk itu, ia sangat berusaha dengan sedemikian rupa.
Kali ini Fahmi sedang berusaha membuat Nisa percaya bahwa ungkapan cintanya itu tidaklah main-main. Dengan begitu, Fahmi mulai mendekati istrinya dan bersikap perhatian yang di mana sifat itu sudah sangat jauh dari kebiasaannya selama ini.
"Nis, boleh aku bantu?" Fahmi menawarkan dirinya untuk membantu Nisa yang sedang berada di dapur.
"Apa Mas bisa?" tanya Nisa karena ia tidak begitu yakin kepada suaminya.
"Bisa," jawab Fahmi dengan begitu yakin, padahal dirinya tidak bisa memasak. Namun, karena ingin mendapatkan hati istrinya itu, Fahmi rela melakukan apa pun.
"Kalau bisa, silahkan Mas bantu mengiris bawang merah, biar aku menyiapkan dulu bahan-bahan untuk memasaknya," ujar Nisa sembari memberikan bawang merah beserta pisaunya kepada sang suami.
Fahmi terperangah dengan ucapan istrinya, dan Nisa hanya bersikap santai, seakan-akan sudah mempercayai ucapannya saja. Untuk itu, Fahmi tidak bisa melakukan apa pun lagi selain menuruti ucapan istrinya itu.
Dengan begitu, Fahmi menerima bawang merah yang sudah istrinya itu siapkan dan memegang pisaunya, dengan perlahan Fahmi menggerakkan tangannya untuk mengiris bawang merah. Akan tetapi, Fahmi tidak tahu cara mengirisnya sehingga membuatnya sedikit bingung.
"Nis, ini cara mengiris bawanya bagaimana?" tanya Fahmi dengan polosnya.
"Tunggal iris kecil-kecil saja, katanya sudah bisa, kok masih tanya? Seharusnya kalau sudah bisa tidak perlu bertanya lagi," jawab Nisa yang hanya fokus dengan pekerjaannya.
Fahmi hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saja dan menerima saran dari istrinya, kemudian ia mengirisnya dengan hati-hati. Namun, tiba-tiba saja mata Fahmi terasa perih dan menggeseknya dengan tangan. Akan tetapi, bukanya mereda perihnya, malahan perihnya semakin menjadi karena tangannya juga sempat memegang bawang merah tersebut.
"Nisa, kok mata aku perih banget? Ini kenapa? Sudah aku usap-usap supaya hilang perihnya, tapi malah makin perih saja ini," kata Fahmi sembari meletakan kembali pisau yang ia gunakan.
Mendengar perkataan suaminya itu, dengan segera Nisa melihat kepada Fahmi yang sedang memejamkan kedua belah matanya. Ingin sekali Nisa tertawa, pada saat ini.
"Haha, Mas ini apa-apaan? Sudah tahu bawang merah itu bisa bikin perih, Mas malah mengusapnya lagi dengan tangan yang sudah terkena bawang merah juga. Ya, iya itu akan membuatnya semakin perih," jelas Nisa sembari mendekati suaminya.
"Jangan dulu katakan apa pun, ini tolong dulu Mas, rasanya semakin perih saja," ujar Fahmi dengan segera menarik tangan Nisa yang sudah hampir mendekatinya.
"Iya, tapi sabar Mas," ujar Nisa karena kaget dengan perlakuan suaminya.
Nisa melihat wajah suaminya dengan seksama dan sedikit mendongakkan kepalanya ke atas, karena tubuh suaminya lebih tinggi darinya.
__ADS_1
"Buka dulu tangannya, Mas!" pinta Nisa yang berusaha menolong suaminya.
"Perih, Nis."
"Iya, makanya buka dulu, biar aku lihat matanya," ujar Nisa dan Fahmi pun mau tidak mau harus menuruti permintaan istrinya, karena semua itu dilakukan untuk menyembuhkan rasa perihnya.
Setelah itu, Nisa mencoba meniup mata suaminya dan membuat Fahmi keheranan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Fahmi karena tiba-tiba saja istrinya itu meniup-niup matanya.
"Katanya perih? Makanya diam saja, jangan banyak bertanya!" tegas Nisa yang kembali meniup mata suaminya.
Dengan begitu, Fahmi hanya diam saja dan menerima semua yang sedang istrinya itu lakukan kepadanya.
"Masih perih enggak, Mas?" tanya Nisa karena telah selesai meniup-niup mata suaminya.
"Enggak terlalu perih, tapi masih terasa," jawab Fahmi yang akan kembali menyentuh matanya dengan tangan.
"Iya, maaf. Mas lupa," ujar Fahmi yang kembali tersenyum.
"Lain kali, kalau enggak bisa masak jangan dipaksakan karena akan berakibat yang seperti ini. Mas bisa mengatakan masakan yang Mas mau kepadaku, insya allah aku bisa buatkan," ucap Nisa karena sudah dari awal ia tidak begitu percaya bahwa suaminya bisa masak.
"Kan, aku tadi niatnya baik. Mau bantuin kamu," kata Fahmi yang kini wajahnya sudah terlihat murung.
"Untuk apa?" tanya Nisa menelisik.
"Katanya kalau cinta itu perlu pembuktian? Maka dari itu, aku mencoba membantu kamu supaya pekerjaan kamu menjadi sedikit ringan."
"Bukan begitu maksudnya, Mas. Pembuktian yang aku katakan itu, bukanya seperti ini."
"Lalu yang gimana?"
Nisa menghela napasnya pelan. "Mas tidak perlu melakukan sesuatu yang Mas saja tidak bisa melakukannya, lakukanlah saja suatu hal yang Mas juga mampu dan bisa untuk mengerjakannya."
__ADS_1
Fahmi terdiam, dengan perkataan Nisa barusan, ia menyadari bahwa tidak harus melakukan semua yang di mana kita juga tidak bisa mengerjakannya.
"Sekarang Mas duduk saja di meja makan, ini biar aku yang bereskan. Kalau masakannya sudah jadi, nanti akan aku hidangan di meja makan dan Mas tidak perlu susah lagi untuk membuat makanan," ucap Nisa dan Fahmi pun mengangguk sembari menuruti ucapan dari istrinya itu.
Di sela-sela kesibukan Nisa dalam memasak, Fahmi diam-diam memerhatikannya dengan sangat dalam. Dari gerakan Nisa memasak, tidak ada yang Fahmi lewatkan.
"Kalau dilihat sedekat tadi, wajah istriku itu ternyata sangat cantik. Kenapa tidak dari dulu saja aku menyukainya, padahal ia sudah terbilang sempurna," gumam Fahmi di saat ia kembali mengingat kejadian tadi yang membuatnya bisa berdekatan dengan Nisa.
"Mas, kamu kenapa? Mas! Kok diam saja," tegur Nisa yang kini sudah berada di hadapannya.
"Eh, Nis. Dari sejak kapan ada di sini?" tanya Fahmi.
"Baru saja, tapi Mas dari tadi hanya diam saja dan tidak menyahutku saat aku panggil," jawab Nisa dan kini wajahnya juga sudah terlihat sedikit murung.
"Maaf, Nis. Aku kira belum beres masaknya," ucap Fahmi yang kembali membuat Nisa heran.
"Ya sudah tidak apa-apa, sekarang Mas makan dulu saja. Aku sudah buatkan makanan kesukaan Mas," ujar Nisa yang kini mulai melayani suaminya dengan sangat baik.
Tatapan mata Fahmi beralih kepada meja makan yang terlihat sudah dipenuhi oleh pasakan buatan istrinya. Di sana sudah tersaji banyak makanan yang menurut Fahmi terbilang sangat banyak, dan dalam waktu yang sangat singkat istrinya itu bisa memasak semua ini.
"Ini, Mas silakan dimakan. Insya allah rasanya enak," ucap Nisa percaya diri karena kalau tidak begitu, pasti suaminya akan mengatakan berbagai tanggapan.
Fahmi menatap makanan yang diberikan oleh istrinya itu, awalnya Fahmi ragu. Akan tetapi, ia teringat sesuatu di saat pertama kali Nisa membuatkan masakan untuknya, rasanya itu sangat enak. Jadi, tidak ada yang perlu diragukan lagi.
Maka dari itu, Fahmi langsung saja menikmati makanan buatan istrinya dan bersama dengan Nisa yang juga ikut menyantap hasil masakannya sendiri. Tidak lupa juga, Fahmi diajarkan doa sebelum makan dulu oleh istrinya dan, kemudian mereka pun saling menyantap makanannya dengan sangat bahagia.
.
.
.
Maafkan Author, yah. Updatenya pada hari ini terlambat.
__ADS_1