Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 70. Menjadi Istri Sempurna


__ADS_3

Pada subuhnya Alvian lebih dulu bangun dari Almaira dan di liriknya wanita yang ada di sampingnya, tanpa sadar Alvian tersenyum kepada istrinya yang masih terlelap.


Karena sudah masuk waktu sholat subuh, Alvian berinisiatif membangunkan istrinya "Sayang bangun, sudah subuh!" ucap Alvian sembari mengusap lembut wajah istrinya.


"Emm," Almaira menggeliat, setelah merasakan usapan lembut yang di berikan oleh suaminya.


"Mas, sudah subuh yah?" tanya Almaira dengan suara parau, khas orang bangun tidur.


"Iya sayang" jawab Alvian singkat dengan arah mata yang terus menatap lekat wajah istrinya.


Mendapatkan jawaban singkat dari suaminya, lantas membuat Almaira terbangun dengan menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur. Namun, Almaira terkejut melihat dirinya yang tanpa mengenakan gamis seperti biasanya dan tubuhnya terasa begitu lemas.


Tiba-tiba Almaira kembali teringat kejadian semalam yang masih membekas di memori ingatannya, wajahnya menjadi bersemu merah mengingat kembali kejadian semalam.


"Sayang, kenapa kok diam?" tanya Alvian, soraya tersenyum melihat istrinya yang malu-malu.


"Emm, enggak papa mas" jawab Almaira, sembari menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.


"Kalau enggak papa, kenapa masih disini? Kita kan harus sholat subuh, Sayang!" tanya Alvian yang sebenarnya ia hanya ingin menggoda istrinya.


"Iya, ta--tapi Maira malu mas" ucapan Almaira terhenti karena Alvian langsung menggendong tubuhnya. Dengan spontan Almaira mengalungkan tangannya di leher suaminya.


"Kyak! Mas jangan gendong Maira! Malu mas" Almaira kaget dan langsung memarahi suaminya.


"Kenapa harus malu?" tanya Alvian dengan seringai di bibirnya.


"Maira bisa jalan sendiri mas, enggak usah di gendong!" sangkal Almaira dengan tertunduk malu.


"Yakin bisa sendiri?" tanya Alvian dengan serius.


Hening, tidak ada jawaban dari Almaira dan Alvian sudah menduganya. Dengan langkahnya yang lebar, Alvian berjalan dengan mengendong tubuh Almaira masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian mereka berdua terlihat sedang bersiap untuk menjalankan ibadahnya, dengan Alvian yang menjadi imamnya dan disaat Alvian memanjatkan do'a, Almaira yang mengaminkannya.

__ADS_1


Setelah itu Alvian berbalik, menghadap kepada istrinya "Terimakasih karena telah menyempurnakan agamaku" ucap Alvian sembari mencium sekilas kening Almaira.


"Maira juga mau ucapin terimakasih kepada mas, mas sudah menjadikan Almaira istri yang sempurna" gumam Almaira dengan tersenyum lembut kepada suaminya.


"Kamu sudah lebih dari sempurna untukku sayang" ujar Alvian dengan memeluk tubuh istrinya.


Akhirnya keinginan Almaira untuk mendapatkan hati suaminya itu telah tercapai, sampai Almaira mengucapkan syukur di dalam hatinya berulang kali.


"Alhamdulillah ya Allah, engkau telah menghadirkan rasa cinta di dalam hati suamiku" batin Almaira mengucapkan syukur, atas nikmat cinta yang luar biasa.


"Mas mencintaimu! Wahai bidadari surgaku" ucap Alvian dengan penuh kesungguhan.


Deg, tiba-tiba jantung Almaira berdebar dengan begitu cepat. Seiring dengan ungkapan cinta yang terlontar dari mulut suaminya.


"Maira juga sangat mencintaimu! Wahai pangeran surgaku" balas Almaira dengan mata yang sudah berembun.


"Jangan menangis bidadari surgaku! Setetes air mata yang keluar dari sudut mata indahmu, sesungguhnya mas sangat tidak rela!" ujar Alvian, sembari mengusap air mata yang mulai jatuh dari pipi Almaira dengan kedua jempol tangannya.


"Ini air mata kebahagiaan mas, bukan air mata kesedihan" tutur Almaira dengan menatap sendu wajah suaminya.


"Jangan sedih mas! Maira tahu, mencintai itu bukanlah hal yang mudah dan itu membutuhkan waktu. Mas tidak terlambat, Maira juga sama, baru menyadari perasaan Maira salama ini terhadap mas" gumam Almaira yang menyadari perasaannya selama ini.


"Sungguh mas sangat beruntung mendapatkan istri sepertimu yang bisa menerima suami seperti mas" ujar Alvian dengan penuh kebanggaan.


"Jangan bicara begitu mas! Kita di persatukan untuk saling melengkapi, menasehati, dan membimbing satu sama lain, ke jalan yang diridhoi Allah SWT" ucap Almaira mencoba menjelaskan.


Sejenak Alvian terdiam, mencoba mencerna semua ucapan dari istrinya "Terimakasih sayang, atas penjelasannya" ujar Alvian dengan tersenyum.


Almaira hanya mengangguk dan membuat Alvian langsung memeluknya dengan sangat mesra, Almaira juga membalasnya dengan penuh kasih sayang.


...****************...


Di bandara, terlihat Ayah Ahlan yang tengah berjalan bersama dengan Reza. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dengan setelan yang terhormat.

__ADS_1


Di dalam mobil, Reza mulai bertanya-tanya kepada atasannya "Pak, apa bapak tidak mau memberitahu dulu Bos Alvian? Bahwa kita pulang lebih awal dari jadwal kepulangan kita ke Indonesia?"


"Biarlah, biarkan ini jadi kejutan untuk Alvian" ucap Ayah Ahlan yang berniat memberikan kejutan kepulangannya kepada putranya.


"Reza, nanti kita pergi dulu ke pasar. Saya ingin beli sesuatu dulu untuk menantuku" pinta Ayah Ahlan pada Reza.


"Baik bos!" ucap Reza siap.


Sesampainya di pasar Ayah Ahlan pergi sendiri, membeli oleh-oleh untuk anak menantunya. Sedangkan Reza yang jenuh menunggu di dalam mobil, akhirnya keluar, berniat mencari Ayah Ahlan.


Namun di tengah jalan, seorang wanita berpakaian sar'i dan mengenakan hijab seperti Almaira, berjalan sambil melamun dan tidak memerhatikan langkahnya.


"Bugh" gadis itu menubruk Reza yang berada di sisi jalan dan tidak menghalangi jalan lewat.


"Eh, maaf saya tidak sengaja!" ucap gadis itu yang ternyata Fatimah.


Barang belanjaan Fatimah jatuh ke tanah tapi tidak berserakan karena menggunakan kantong plastik. Reza berdiri, karena sempat terjatuh ke tanah dan ikut membantu Fatimah dengan memberikan barang belanjaannya.


"Ini barang belanjaanmu?"


"I--iya ini punyaku, terimakasih dan maaf tadi saya tidak sengaja menabrak anda" ucap Fatimah, menerima kantong belanjaannya tanpa menatap wajah Reza.


"Lain kali hati-hati ya, jangan melamun kalau lagi jalan!" tutur Reza memberikan penegasan.


Fatimah hanya menunduk "iya saya akan lebih hati-hati lagi ke depannya. Terimakasih karena sudah mengingatkan saya"


"Saya permisi tuan!" lanjut Fatimah dengan pergi meninggalkan Reza yang mematung menatap kepergiannya.


"Wanita yang sangat aneh, masa jalan sambil melamun?" gerutu Reza yang terlihat tidak suka, dengan cara berbicara Fatimah yang tanpa melihat lawan bicaranya.


Di belakang, Ayah Ahlan sudah kembali dengan membawa belanjaanya "Reza, kenapa ngomong sendiri?" tanya Ayah Ahlan yang penasaran.


"Itu tadi ada yang nabrak Reza, tapi orangnya aneh. Udah tahu Reza itu jalan disisi tapi dia main nabrak aja gitu, tapi ngemalum juga sih karena dia tadi jalannya sambil ngelamun" ucap Reza panjang lebar, menjelaskannya kepada Ayah Ahlan.

__ADS_1


"Haha, lucu juga yah. Kirain apaan sampai ngomong sendiri" ujar Ayah Ahlan tertawa terbahak-bahak menanggapinya.


Reza merasa kesal kepada bosnya yang hanya tertawa melihat dirinya yang sedang kesal ini "Sudahlah! Sini biar Reza saja yang bawa belanjaannya" ucap Reza yang tidak mau di tertawaan lagi oleh Ayah Ahlan.


__ADS_2