
Satu minggu talah belalu, kini Nisa tengah duduk di samping calon suaminya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Fahmi nampak terdiam dan tidak menyangka akan jadi seperti ini, tapi harus bagaimana lagi karena salah ia juga yang memutuskan sesuatu tanpa dipikirkan terlebih dahulu.
"Bagaimana, bisa kita mulai?" tanya penghulu yang sudah siap.
Fahmi tersadar dari lamunannya. "Iya, saya siap!"
"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai," ucap Pak Penghulu yang langsung memulai akad pernikahan.
Dirga menjabat tangan Fahmi. "Saya nikahkan dan saya kawinkan eugkau, Ananda Fahmi Wirahmana bin Ayra Wirahmana dengan putri kandung saya yang bernama Nisa Khaerunnisa binti Dirga Prasetyo dengan mas kawin ( dirahasiakan ) dan seperangkat alat salat dibanyar tunai."
Sejenak Fahmi terdiam, kemudian ia menjawab. "Saya terima nikahnya Nisa Khaerunnisa binti Dirga Prasetyo dengan mahar yang telah disebutkan dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah."
"Gimana para saksi?" tanya penghulu kepada para saksi yang menyaksikan akad pernikahan ini.
"SAH." Serempak para saksi mengucapkan kata sah yang dimana, pernikahan ini telah resmi dimata hukum dan agama.
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ
Bârakallâhu laka wa bâraka ‘alaika wa jama‘a bainakumâ fî khairin
Artinya : semoga Allah memberkahimu dalam suka dan duka dan semoga Allah mengumpulkan kembali kalian berdua di dalam kebaikan.
Setelah akad pernikahan, semua orang mendoakannya, kemudian Fahmi mencium sekilas kening Nisa dan begitu pula dengan Nisa yang mencium punggung tangan suaminya.
Hari berlalu begitu cepat, para tamu juga mulai pada pergi. Begitupun dengan pengantin baru yang masuk ke dalam kamarnya.
Fahmi langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Nisa duduk di kursi rias dan menghapus riasan wajahnya yang begitu tebal. Beberapa menit kemudian Fahmi ke luar dari kamar mandi dengan keadaan yang begitu rapih dan segar.
"Sekarang giliran kamu, aku sudah." Dengan santainya Fahmi berjalan ke arah sofa dan duduk bersandar di sana.
Nisa tidak menjawab dan melenggang pergi, masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa baju ganti. Lima belas menit kemudian, Nisa ke luar dari kamar mandi dengan pakaian yang tertutup. Dan Nisa masih melihat suaminya yang tengah duduk di sofa sembari memainkan hendphoonenya.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Fahmi saat menyadari Nisa sudah ke luar dari kamar mandi.
Nisa hanya mengangguk saja. "Mas, ayo kita salat isya dulu," ajak Nisa pada sang suami.
"Kamu duluan saja, biar nanti aku menyusul," jawab Fahmi dengan santainya sembari kembali memainkan ponselnya.
"Tidak baik menunda-nunda waktu salat, Mas." Nisa mulai berjalan maju ke arah suaminya, semakin dekat dan sangat dekat.
"Aku tahu. Jadi, jangan beri tahu aku karena aku bukan anak kecil lagi!" tegas Fahmi yang merasa tidak terima diberi tahu oleh istrinya sendiri.
"Maka dari itu, Mas harus salat sekarang. Katanya sudah tahu? Kalau begitu, kenapa masih saja menunda-nunda waktu salat?" cerca Nisa yang semakin membuat Fahmi tersudutkan.
Fahmi hanya diam dan langsung berdiri dari tempat duduknya, dengan berjalan ke arah tempat tidur yang sudah tersedia sarung, peci dan baju koko yang sempat Nisa siapkan sewaktu ia berada di kamar mandi.
Tanpa rasa malu, Fahmi berjalan melewati Nisa dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya dengan baju koko yang Nisa siapkan.
Setelah pintu kamar mandi tertutup dengan rapat, lantas Nisa pun tersenyum melihatnya. Sikap Fahmi yang begitu keras kepala, bisa luluh begitu saja dengan perkataan Nisa yang seakan meremehkannya.
Tidak disangka meskipun Fahmi keras kepala, tapi lihatlah dia bisa melaksanakan salat isya bersama istrinya dengan begitu baik dan bacaannya juga lancar.
Setelah selesai melaksanakan salat isya berjamaah bersama Nisa, lantas Nisa pun mencium punggung tangan suaminya untuk yang kedua kalinya, selepas akad pernikahan. Namun, berbeda dengan Fahmi yang hanya diam menerima perlakuan istrinya.
Lantas Nisa pun bergegas membereskan alat salat yang ia kenakan dan menyimpannya kembali kepada tempatnya. Setelah melihat istrinya selesai dengan pekerjaannya, lantas Fahmi pun memanggilnya. "Nisa,"
"Iya Mas," jawab Nisa yang berjalan mendekat ke arah suaminya.
"Kamu tidurlah di sini, biar aku yang akan tidur di sofa itu." Tunjuk Fahmi ke arah sofa yang sempat ia duduki tadi.
"Kenapa begitu?" tanya Nisa dengan kening yang berkerut.
"Aku tidak mau membuatmu tidak nyaman tidur di sofa. Maka dari itu, biar aku yang tidur di sofa sana," jawab Fahmi dengan santainya, seakan menghiraukan apa yang Nisa tanyakan.
__ADS_1
"Kenapa tidurnya terpisah? Lagian kita berdua sudah menjadi suami istri, wajar kan jika tidur satu tempat dengan suaminya sendiri?" protes Nisa yang tidak terima dengan apa yang Fahmi putuskan.
"Apa? Untuk apa kita tidur bersama yang di mana, tidak ada cinta di antara kita berdua." Fahmi tidak menyangka bahwa Nisa akan seperti ini.
"Bukan tidak ada cinta, tapi belum ada cinta," ucap Nisa yang hanya tersenyum dan langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Fahmi terdiam dan ia terlihat sangat bingung dengan semua yang Nisa katakan. Hingga seketika, Nisa kembali berucap.
"Mas, jangan tidur di sofa jika itu terjadi, punggung dan tubuh Mas akan sangat sakit dan akan membuat semua orang cemas."
Fahmi membulatkan kedua matanya, seakan tidak percaya dengan apa yang Nisa katakan. Nisa selalu membuatnya emosi dan kalah saat berdebat.
Tidak ada pilihan lain selain tidur satu tempat dengan Nisa karena benar juga yang dikatakan olehnya. Bila nanti Fahmi bersikeras untuk tidur di sofa, pasti badannya akan sakit semua karena tidak terbiasa tidur di sofa.
Lantas, Fahmi pun mengikuti istrinya dan berbaring di samping Nisa, dengan posisi membelakangi sang istri.
Untuk itu, Nisa hanya tersenyum melihatnya. Ternyata Fahmi tidak sedingin yang ia tahu, baru saja beberapa jam bersamanya, Nisa sudah berhasil membuatnya patuh dan tunduk kepadanya. Padahal Nisa tidak melakukan hal apapun.
Mungkin pada dasarnya Nisa takut karena dari yang ia tahu tentang suaminya itu, sikapnya sangat dingin dan tegas. Akan tetapi, lihatlah apa yang terjadi sekarang ini. Begitu di luar dugaan.
"Jangan lupa baca do'a sebelum tidur, biar tidak ada yang menganggu tidur nyenyak Mas," ucap Nisa yang kembali membuat Fahmi sangat kesal.
Lantas Fahmi berbalik, menghadap kepada istrinya. "Jangan diberi tahu karena aku sudah tahu!" tegas Fahmi pada istrinya dan Nisa hanya tersenyum dengan sikapnya.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Mas sudah pintar," ujar Nisa sembari mengacungkan jempol tangannya.
Merasa kesal, lantas Fahmi pun kembali memunggungi istrinya.
"Ingat yah, Mas! Do'a sebelum tidur bukan do'a sebelum makan," lanjut Nisa dengan sedikit tertawa.
Untuk kali ini, Fahmi tidak meladeni istrinya lagi karena sudah sangat kesal dan berusaha memejamkan kedua matanya, berharap tidur nyenyak supaya istrinya tidak lagi menganggunya.
__ADS_1