
Semua orang terlihat sangat bahagia dengan pernikahan Fatimah yang berjalan lancar meskipun ada sedikit kendala. Abi Zaenal juga tersenyum sembari menatap putrinya yang sudah ia serahkan kepada Reza. Untuk saat ini, Fatimah dan Reza tidak saling mengenal. Akan tetapi, mereka akan mencoba memulainya dari sini.
Ummi Siti sampai meneteskan air mata, mana kala melihat putrinya yang sudah resmi menikah. Tadinya semua orang mengira bahwa pernikahan Fatimah akan batal, tapi lihatlah sekarang. Takdir mempertemukan Fatimah dengan seorang pemuda yang begitu berani. Sungguh menakjubkan bukan? Ya, inilah yang Reza rasakan.
Reza menatap lekat wajah cantik Fatimah yang kini telah resmi menjadi istrinya. Semua ini seakan mimipi bagi Reza untuk bisa bersanding di pelaminan bersama wanita pembawa rindunya. Bahkan berulang kali Reza memastikannya bahwa ini bukanlah mimpi, sampai ia yakin ini nyata dan bukanlah mimpi.
Waktu itu, Reza sudah sangat putus asa. Seakan semua harapannya sudah musnah, dikala ia mendatangi pernikahan seorang wanita yang berhasil mengisi ruang di dalam hatinya. Sakit rasanya mendengar kabar pernikahan gadis yang ia cintai, tetapi harus bagaimana lagi kalau ia tidak mendatanginya, pasti Abi Zaenal akan menanyakannya karena beliau sudah sangat baik terhadapnya.
Saat itu Reza memaksakan dirinya untuk tetap hadir ke pernikahan Fatimah. Walaupun demikian, hatinya sudah sangat sakit. Sekedar membayangkannya saja sudah sangat menusuk hatinya.
Mungkin semua ini salah, bagi Reza untuk bisa memiliki Fatimah karena ia jauh dari kriteria laki-laki idaman gadis itu. Bahkan untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim saja, Reza masih bolong-bolong. Mau bagaimana lagi, ia bisa mengimbangi perbedaan yang bagaikan bumi dan langit ini?
Akan tetapi, dengan kehendak Allah SWT. Semua yang menurut Reza tidak akan mungkin, tetapi menjadi mungkin jika Allah SWT telah menyatukannya. Mau dekat atau jauh, jodoh tidak akan tertukar. Itulah kata pepatah.
Setelah mendengar kabar dari calon pengantin pria yang ingin menikahi Fatimah, membatalkan pernikahan secara tiba-tiba. Di sanalah terbersit sebuah rasa ingin maju lebih langkah lagi untuk mendapatkan gadis pujaan hatinya. Reza dengan keberaniannya meminta persetujuan dari keluarga Fatimah untuk bisa menerimanya sebagai pengganti Fahmi untuk menikahi Fatimah. Walaupun demikian, sangat diragukan.
Lihatlah sekarang, Reza telah membuktikan keberaniannya untuk mendapatkan Fatimah. Sebuah kebanggaan bagi Reza untuk bisa mendapatkan Fatimah. Bagaimanapun semua yang dimilikinya tidak sebanding dengan apa yang Fatimah miliki. Salihah, itulah tanggapannya mengenai gadis pembawa rindunya yang kini berganti menjadi istri sahnya.
__ADS_1
Lama saling diam, membuatnya sadar bahwa ini masih awal dan Reza masih saja mengagumi wajah cantik istrinya. Sesekali Reza mencuri pandang dari istrinya yang setia menyambut tamu undangan. Bahkan ia tidak bisa beralih sedetik pun dari Fatimah ... gadis yang baru beberapa jam yang lalu, telah resmi menjadi istrinya.
"Mas," panggil Almaira pada suaminya yang kini tengah berada di kursi tamu.
Alvian barih menatap istrinya yang amat, ia cintai. "Iya sayang, ada apa?"
"Lihatlah Mas, mereka berdua nampak sangat serasi. Maira sampai tidak bisa menyangka ini semua bisa terjadi." Almaira menyuruh suaminya untuk melihat kepada pengantin baru yang tengah sibuk menyalami tamu undangan.
Lantas Alvian pun melihat kepada Reza dan Fatimah." Ya, mereka berdua sangat serasi. Mas juga sempat tidak bisa mempercayainya. Baru kali ini Mas melihat keseriusan dari diri Reza, ternyata dia begitu luar biasa," lontar Alvian yang masih setia, di samping istrinya.
Almaira tersenyum mendengar penuturan dari suaminya. Alangkah baiknya, ia sangat gembira karena adiknya tidak batal menikah, melainkan Fatimah mendapatkan pria yang tepat. Entahlah itu benar atau salah, pastinya ini adalah jalan terbaik untuk Fatimah.
"Ada apa sayang? Mas lihat tadi kamu sempat menatap wajah Mas dengan sangat lama," ujar Alvian yang sengaja membuat istrinya merasa tersudutkan.
"Enggak apa-apa, Mas. Tadi Maira hanya sedang memikirkan, emm ...." Almaira tidak melanjutkan ucapannya karena ia bingung untuk menjawabnya.
"Memikirkan apa?" Sengaja Alvian bertanya kembali karena ia tahu, istrinya tidak akan pernah bisa berbohong kepadanya.
__ADS_1
Almaira tidak menjawab, melainkan memainkan tangannya dengan sedikit gugup. Namun, kemudian Almaira memberanikan diri untuk mengucapkan sesuatu. "Jangan di sini, nanti Maira jelaskan di rumah."
Alvian tersenyum. Bagaimana bisa ia menahan senyumnya jika melihat sikap istrinya yang seperti ini. "Baiklah, Mas akan menunggunya."
Mendengar jawaban dari suaminya, sedikit membuat Almaira tenang. Banyaknya tamu yang datang, membuatnya tidak bisa mengatakannya saat ini. Bagaimanapun, Almaira sudah sangat malu karena terciduk mengagumi suaminya.
Hari ini bagaikan hari yang sangat berharga bagi pengantin baru itu, tidak hanya mereka berdua yang merasakannya, tetapi Almaira dan Alvian juga ikut bahagia melihat Fatimah yang berhasil menemukan kebahagiaannya.
Lantas Almaira bersama Alvian pun melangkah menghampiri pengantin baru yang tengah berbincang dengan Ummi Siti.
"Nak Reza, Ummi titip Fatimah sama kamu. Jaga baik-baik yah, perlakukan dia sebaik mungkin." Tidak kuasa akan kesayangannya, Ummi Siti sampai menitipkan pesan seperti itu kepada Reza yang kini menjadi menantunya.
"Iya Ummi," jawab Reza yang ikut terharu dengan kasih sayang Ummi Siti yang begitu besar terhadap anak-anaknya.
Dikarenakan acaranya yang mendadak, Reza juga tidak lupa menelpon orang tuanya untuk hadir waktu ia mengucapkan ijab qobul. Maka dari itu, kedua orangtuanya ada di sini dan tengah tersenyum lembut kepada Fatimah yang memang terlihat mengagumi istri dari anaknya itu.
Meskipun awalnya mereka tidak percaya akan ucapan putranya yang ingin menikah, tetapi mereka percaya karena mendengar penjelasan dari Alvian yang merupakan teman dekatnya Reza, bahkan bisa dibilang sahabat.
__ADS_1
Abi Zaenal juga tidak hanya diam, ia pun sama mengucapakan sesuatu kepada menantunya. "Abi titip pesan sama Nak Reza. Kelak tolong jaga putri Abi dengan sangat baik, jangan pernah sakiti dia apalagi sampai membentaknya meskipun putri Abi melakukan kesalahan. Sejatinya kami mendidik Fatimah dengan penuh kasih sayang, begitu pula Abi menyerahkan tanggung jawab seorang Ayah kepada Nak Reza dengan penuh keyakinan. Untuk itu, Abi minta untuk memperlakukan putri Abi dengan penuh kasih sayang juga. Namun, kalau nantinya Nak Reza sudah tidak menyukai putri Abi lagi, tolong kembalikanya kepada Abi dengan sangat baik karena Abi juga menyerahkannya dengan cara baik-baik."
Mendengar penuturan Abi Zaenal yang begitu panjang, tetapi bermakna. Reza sampai dibuat tertegun dengan kata-katanya, sekaligus menyentuh hatinya seakan Reza tersindir atas apa yang dikatakan oleh Abi Zaenal. Ya, Reza tidak ada niatan untuk menyakiti hati istrinya, apalagi meninggalkannya karena ia sudah sangat mencintai Fatimah. Akan tetapi, hatinya seakan tercabik-cabik dengan semua itu sehingga Reza menjadi lebih menyakinkan diri untuk menjadi pemimpin sekaligus imam yang baik bagi Fatimah, istrinya.