Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 36. Mencoba Menjelaskan


__ADS_3

Alvian nampak terdiam, mendengarkan setiap ucapan yang istrinya tengah lontarkan.


"Masa-masa yang sangat indah di kala itu, semua impian sudah di depan mata. Akan tetapi, adakala ujian-ujian yang harus di hadapi di saat itu. Tidak semua orang bisa mencapai impiannya seperti Almaira, karena pemikiran dan tujuan orang itu pasti berbeda-beda, tidaklah selalu sama. Untuk soal pasangan ataupun pacar, Maira tidak pernah memikirkannya karena itu akan berdampak pada pendidikan Maira. Tertarik pernah, tapi ketertarikan itu lebih besar dari ketakutanku kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Sama halnya manusia, pasti memiliki ketertarikan kepada lawan jenis karena itu suatu hal yang normal, begitu pula sama dengan aku."


Almaira terdiam sejenak dan kembali melanjutkan ucapanmu. "Laki-laki tadi yang telah Mas lihat itu, dia Dokter Aditya yang semasa kuliah dulu satu pakultas dengan Maira, hanya satu yang membuat dia bisa mengenal Maira"


"Apa itu?" tanya Alvian yang terlihat sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya.


Almaira menghembuskan nafasnya. "Hah ... Dia dulu Kakak kelas Almaira saat masih kuliah di universitas yang sama dengannya, karena seringnya bertemu, cuma sekedar menanyakan tugas atau apalah yang perlu di kerjakan. Tanpa Maira sadari, dokter Aditya diam-diam menyukai Almaira, dan sudah beberapa kali, ia mengungkapkan perasaannya."


Alvian terlihat membulatkan kedua matanya,, mendengarkan semua ucapan yang telah istrinya lontarkan. "Terus kamu terima dia?"

__ADS_1


"Enggak, Maira tidak sama sekali menerimanya karena Maira tidak mau menyakiti hati orang lain dengan memberikan harapan yang palsu."


"Tapi kenapa dia nampak masih mengharapkan, kamu? Dan tadi itu sudah jelas, aku melihat kamu berpelukan dengannya." Alvian terlihat sangat marah.


"Tidak Mas, tadi itu hanya salah paham. Maira jelaskan sekarang! Tolong dengarkan penjelasan Maira yah," pintanya.


"Yasudah cepat kamu jelaskan!"


"Tadi itu Maira sempat menunggu Mas di kursi tunggu yang dekat dengan pintu masuk Rumah Sakit Surya Jaya. Lama Maira nunggu Mas hingga para dokter lain sudah mulai pulang dan hanya menyisakan Maira di sana. Maira tidak tahu di sana masih ada dokter Aditya, dia menghampiri Maira. Maira sudah coba menghindar, tapi dia telah lancang me–"


"Dia memegang tangan Maira dan dia telah lancang me–"

__ADS_1


"Memeluk kamu gitu, terus sekarang apa yang mesti kamu jelasin lagi?"


"Tidak Mas, dia yang meluk Maira. Bukan Maira yang melakukannya, Maira masih sadar dengan status Maira. Mas juga tadi lihat, kan Maira melawannya? Tolong percaya kepada Maira yah, Mas." Air mata mulai keluar dari pelupuk mata cantik Almaira.


Alvian sadar apa yang dilakukannya itu sangatlah berlebihan, bukan sekali Alvian membuat istrinya menangis. Jadi, kali ini tidak akan ada air mata yang keluar lagi dari wajah cantik istrinya itu.


Alvian nampak mengusap air mata yang mulai mengalir keluar dari kedua mata indah istrinya.


"Sudah kamu jangan menangis, Mas percaya kok sama kamu. Sudah ya, nanti cantiknya hilang loh." Alvian mulai menggoda istrinya itu.


Almaira tersenyum. "Ih Mas, suka enggak tahu waktu saja, bicara begitu."

__ADS_1


"Kan, Mas mencoba hibur kamu, biar senyum yang di rindukan Mas bisa terpancar lagi di wajah kamu, sayang."


Blus guratan merah mulai terlihat dari wajah cantik Almaira yang terlihat tersipu malu, dengan panggilan baru yang suaminya ucapan barusan.


__ADS_2