
Setelah bersiap Fatimah langsung menghampiri Nisa yang berada di pondok perempuan. Sebelumnya Fatimah sudah lebih dulu meminta ijin kepada Ummi Siti dengan tujuan ingin keluar sebentar dan ditemani oleh Nisa. Dengan begitu, Ummi Siti langsung memberikan ijinnya karena putrinya itu tidak pergi sendirian.
"Nisa, tolong bantu aku untuk mencari gelang tanganku yang hilang." Mohon Fatimah kepada Nisa yang merupakan sahabat dekatnya.
"Baiklah, tapi kita mulai mencarinya dari mana?" tanya Nisa dengan serius.
"Emm, Imah bingung Nis," balas Fatimah yang melemas.
"Gimana kalau kita cari di luar pesantren ini, tadi pagi kamu kan keseringan di luar tidak di sini," ujar Nisa dengan mencoba mengingat kembali kejadian sebelum hilangnya gelang tangan Fatimah.
"Iya, kita coba saja cari di luar pesantren," ucap Fatimah yang baru menyadari kalau ia tidak hanya berada di dalam pesantren saja.
Lantas mereka berdua pun bergegas pergi dan mulai mencari gelang tangan milik Fatimah. Sudah beberapa kali Fatimah dan Nisa mondar mandir di luar pesantren, namun tidak ada tanda-tanda akan ketemunya gelang itu.
"Fatimah, di sini kayaknya tidak ada deh. Mungkin jatuh saat perjalanan ke pasar. Kita tadi buru-buru, ada kemungkinan gelangnya jatuh di jalan." Nisa menyarankan untuk mencarinya di jalanan yang tadi pagi mereka lewati.
"Iya, mungkin jatuh di jalan. Ya sudah, kita cari lagi Nis," balas Fatimah dengan penuh semangat.
Keduanya segera melanjutkan kembali pencariannya, sampai sudah sepanjang jalan mereka lewati. Namun, tidak menemukan gelang tangan Fatimah. Harapan Fatimah sudah musnah, tidak bisa dipungkiri lagi kalau gelang tangan itu sudah menggilang.
"Nis, sudahlah Imah ikhlas. Bila memang gelang itu tidak ketemu, Imah tidak apa-apa," ucap Fatimah dengan wajah yang melemas.
"Tapi ...." Nisa tidak melanjutkan kembali ucapannya karena ia juga tidak bisa membantu Fatimah lagi. Sudah sepanjang jalan ia mencari, tapi tidak membuatkan hasil.
"Percayalah, insya allah. Imah ikhlas," ujar Fatimah soraya tersenyum manis.
"Baiklah, kita pulang saja. Sekarang sudah mulai sore, takutnya Ummi Siti nyariin kamu," ucap Nisa karena mendengar suara adzan ashar.
"Iya Nis, kita mampir dulu ke masjid depan sana. Mari salat ashar dulu," ajak Fatimah karena melihat masjid yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berada. Dan Nisa langsung mengangguk setuju dengan ajakan sahabatnya.
__ADS_1
Mereka berdua langsung melaksanakan salat ashar setelah menghampiri masjid tersebut. Fatimah sengaja pergi ke masjid untuk melaksanakan kewajibannya soraya menenangkan pikiran yang masih tidak tenang karena kegelisahannya kerap menghantui pikirannya.
Entah apa yang akan terjadi setelah Abi Zaenal mengetahui gelang pemberiannya yang hilang, dan Fatimah sudah siap dengan semua yang akan terjadi karena kesalahannya.
***
Sedangkan Reza terlihat kelelahan karena pekerjaannya di kantor terlalu banyak dan sekarang waktunya untuk ia beristirahat. Tanpa memikirkan apapun, Reza menyimpan celananya disembarang arah dan sebuah gelang terjatuh dari sana.
Dengan begitu, Reza langsung saja mengambilnya dan melihatnya. "Aku sampai lupa sama gelang ini. Untung saja masih ada," gumamnya soraya tersenyum manis menatap gelang berinisial F itu.
Reza berjalan menghampiri meja yang terdapat laci dibawahnya, lantas ia menyimpan gelang itu di dalam laci tersebut. Lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket, sepulangnya dari kantor.
***
"Assalamualaikum," ucap Alvian setelah memasuki rumah dan tidak terlihat siapapun di ruang tamu. Lantas Alvian berjalan menghampiri dapur dan ternyata dugaannya benar, istrinya sedang berada di dapur.
Mendengar suara bariton itu, lantas membuat Almaira membalikkan tubuhnya karena mengenali pemilik suara tersebut.
"Mas, maaf Maira enggak denger suara mas tadi," ucap Almaira saat berbalik menghadap kepada suaminya.
"Enggak papa, mas juga ngerti. Lagian istri mas sibuk di dapur," balas Alvian dengan tersenyum lembut menatap wajah istrinya.
"Iya, maafkan Maira yah," ucap Almaira sembari sedikit berjalan untuk menghampiri suaminya.
Alvian mengangguk dan Almaira menyambut hangat kedatangan suaminya. Walaupun, sudah terlambat. Lantas Almaira mencium punggung tangan suaminya yang baru saja pulang dari kantor, wajahnya tersenyum. Namun, di balik senyumannya itu ada lelah yang tidak diperlihatkan dan diungkapkan oleh Alvian.
"Mas mau apa dulu? Makan dulu atau mandi dulu?" tanya Almaira perhatian.
Alvian tersenyum. "Mas mau mandi dulu sayang," jawab Alvian sembari mengelus lembut wajah istrinya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi tunggu mas! Maira siapkan dulu airnya." Bergegas Almaira mengandeng tangan suaminya dan berjalan berdampingan menuju kamar mereka.
Diam-diam Bi Sumi tersenyum setelah melihat majikannya yang mulai mesra bagaikan pasangan pengantin baru.
Pertama kali Almaira masuk ke rumah ini dengan status sebagai seorang istri, tidak sekalipun Almaira mendapatkan perhatian seperti ini. Bahkan untuk menyapa saja Alvian jarang melakukannya, tapi lihatlah sekarang. Almaira sangat disayangi oleh suaminya, bahkan hubungan mereka mulai membaik dan semakin romantis saja setiap harinya.
Alvian yang ceria dan perhatian kini kembali lagi setelah mengenal Almaira, dan Almaira mampu membangun kembali sosok Alvian yang dulu. Bahkan sekarang lebih dari kata ceria itu sendiri, bukan hanya kebahagiaan yang Alvian dapatkan. Melainkan ia juga mendapatkan cinta yang semestinya dan berlabuh pada orang yang tepat.
Di dalam kamar, sepasang suami-istri itu terlihat saling menatap dengan penuh cinta dan Alvian sudah terlihat segar dengan pakaian tidurnya.
"Sayang, gimana operasi yang dilakukan tadi lancar?" tanya Alvian sembari menatap wajah istrinya.
"Alhamdulillah, lancar mas. Terimakasih mas, udah bantu mendo'akan operasi jantung yang tadi Almaira lakukan menjadi berjalan dengan lancar," tutur Almaira dan tidak lupa ia tersenyum manis kepada suaminya.
"Alhamdulillah. Hebat sayang, semoga kedepannya tetap begitu dan bisa membantu orang yang sangat membutuhkan bantuan darimu," ucap Alvian dengan memperhatikan kesedihannya.
"Maaf mas, maafkan Maira karena telah membuat mas bersedih lagi," tutur Almaira dengan menatap sendu wajah suaminya.
"Tidak kok, mas tidak sedih. Almarhumah ibu sudah mendapatkan tempat yang nyaman dan lebih indah dari apapun di dunia ini jadi untuk apa mas bersedih," balas Alvian soraya menumbuhkan semangat di dalam dirinya yang rapuh seketika, jika menyangkut almarhumah Ibu Hilma.
"Iya mas, mas jangan sedih dengan mas sedih tidak akan membuat Ibu Hilma bahagia. Ketika mas kangen kepada Ibu Hilma, mas berdoalah kepada Allah karena do'a anak saleh akan mudah dikabulkan," ucap Almaira sembari membuka hati suaminya yang masih belum terbuka sempurna.
"Benarkah itu sayang? Apakah ibu akan senang jika mas mendo'akannya?" tanya Alvian dengan wajah yang berbinar.
Almaira mengangguk. "Iya mas, cobalah dulu. Pasti Ibu Hilma akan senang dengan do'a yang mas berikan."
"Baiklah, mas akan mendo'akan ibu, setiap selesai melaksanan salat," ucap Alvian dengan penuh kesungguhan.
"Alhamdulillah," ucap Almaira soraya tersenyum manis. Akhirnya Alvian mulai menunjukkan kesungguhannya untuk menjadi seorang imam yang baik bagi Almaira karena akhir-akhir ini, Alvian selalu melaksanakan salat lima waktu dan tidak pernah bolong.
__ADS_1