
"Wa'alaikumsalam, Mas." Nisa menyambut kepulangan Fahmi dengan sangat bahagia.
Fahmi pun hanya tersenyum dan segera mencium pucuk kening istrinya dengan sangat mesra.
Untuk itu, Nisa hanya tersenyum dan mengajak suaminya untuk segera masuk ke dalam rumahnya.
"Mas, ayo masuk," ajak Nisa sembari berjalan bareng dengan langkah suaminya yang memasuki rumah.
"Mas mau apa dulu?" tanya Nisa dan Fahmi hanya menatapnya dengan penuh kerinduan.
"Mas mau istirahat dulu di kamar," jawab Fahmi singkat dan Nisa pun menemaninya.
Sesampainya mereka berdua di dalam kamar, Nisa pun menutup pintunya dengan rapat. Namun, tanpa aba-aba Fahmi sudah memeluknya dari belakang.
"Mas," pekik Nisa kerena merasa kaget dengan perbuatan suaminya.
"Mas kangen sama kamu, Nis." Fahmi malah mendekapnya dengan sangat erat.
Nisa pun tersenyum dengan penuturan Fahmi dan segera membalikkan tubuhnya, menghadap kepada suaminya.
"Nisa juga, Mas. Namun, untuk saat ini Mas harus membersihkan dulu tubuh, Mas. Lihatlah, hari sudah mulai sore. Mas belum salat ashar, kan?" Nisa memegang kedua tangan suaminya.
"Iya, Mas baru ingat. Kalau begitu, Mas pergi bersih-bersih dulu yah," ujar Fahmi dan pergi meninggalkan Nisa sembari berjalan menuju kamar mandi.
Melihat perubahan besar di dalam diri Fahmi, Nisa pun tersenyum bahagia karena pada akhirnya suaminya bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan menyayangi istrinya dengan penuh cinta. Meskipun begitu, Nisa tidak pernah menduganya.
Tidak lama dari itu, Fahmi pun keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang sudah terlihat begutu segar.
"Ceklek." Suara pintu kamar mandi dibuka, lantas Nisa pun menoleh ke arah suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Mas, itu bajunya sudah aku siapkan," ucap Nisa dan Fahmi pun segera membawanya dan menggunakannya.
"Nis, kamu sudah salat ashar belum?" tanya Fahmi kepada istrinya.
"Sudah, Mas."
"Oh, kalau begitu Mas salat dulu, kamu jangan ke mana-mana. Tetaplah di sini," pinta Fahmi dan ia pun segera melakukan salat ashar-nya.
Dengan begitu, Nisa hanya diam saja di sofa yang terdapat di dalam kamarnya sembari melihat suaminya yang sedang melaksanakan salat. Sungguh sebuah kebahagiaan bagi Nisa karena pada akhirnya Fahmi bisa membiasakan diri untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, tanpa meninggalkan salat lima waktu.
Oleh karena itu, Nisa sangat bersyukur atas semua karunia dan hidayah yang diberikan Allah kepada suaminya, sehingga Fahmi bisa menjadi imam yang baik baginya.
"Nisa," panggil Fahmi yang kini sudah berada di sampingnya dan Nisa tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Iya, Mas. Eh, bukanya tadi di sana, kok bisa tiba-tiba saja ada di sini?" Nisa nampak begitu bingung.
"Bukan tiba-tiba, tapi kamu yang tidak menyadari kedatangan Mas ke sini," jawab Fahmi sembari tersenyum.
Nisa pun terlihat begitu malu dan tidak tahu harus melakukan apa. Namun, di saat seperti itu, Fahmi sangat menyukainya karena biasanya istrinya itu selalu mengatakan kata-kata, tetapi sekarang keberaniannya menghilang karena rasa malunya.
Dengan begitu, Fahmi pun mendekati Nisa sehingga istrinya merasakan ketegangan yang amat sangat menyiksanya. Walaupun demikian, Nisa sudah sering berdekatan dengan Fahmi, tapi kali ini rasanya itu berbeda.
"Mas," ucap Nisa yang ingin mengalihkan perhatian suaminya yang terus menatap wajahnya.
"Iya, Mas ada di sini, bahkan sudah sangat dekat denganmu," balas Fahmi sembari tersenyum.
"Iya, aku tahu," ujar Nisa dengan datarnya.
"Loh, kok malah ngambek? Bukanya tadi kamu panggil, Mas?"
"Iya, tapi bukan itu maksudnya."
"Lalu, apa?" tanya Fahmi dengan menaikkan satu alisnya ke atas.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Nisa dengan serius.
"Katakanlah, Mas akan mendengakan semuanya," balas Fahmi sembari menyandarkan kepala Nisa di pundaknya.
"Kak Aditya bilang apa sama kamu, sayang?" tanya Fahmi dengan begitu penasaran.
"Katanya hari jumat nanti Kak Aditya akan segera menikah," jawab Nisa dengan wajah gembiranya.
"Benarkah itu?"
"Iya, Mas." Nisa pun kembali menatap wajah suaminya yang tampan.
"Sayang, kenapa terus menatapku seperti itu?" tanya Fahmi karena mendapatkan tatapan yang tidak biasa dari istrinya.
"Adem saja lihatnya," jawab Nisa singkat.
Fahmi nampak mengerutkan keningnya dengan heran. "Apanya yang adem?"
"Melihat Mas, dengan menggunakan pakaian yang rapih seperti ini, Nisa suka. Apalagi pecinya menambah kesan menarik dari wajah, Mas." Nisa terlihat mengagumi penampilan suaminya itu.
"Suka sama penampilannya saja, enggak sama orangnya?" goda Fahmi dengan tampang seriusnya.
"Jika penampilannya saja menarik, apalagi dengan orangnya. Yang pasti, telihat jauh mempesona sehingga membuatku jatuh cinta."
__ADS_1
Mendengar perkataan Nisa yang sangat menarik itu, Fahmi pun tersenyum dan sedikit tidak menyangka bahwa istrinya itu bisa mengatakan kata romantis seperti tadi.
"Oh, sekarang selain pintar, istriku juga jago menggombal ternyata," ucap Fahmi dengan sedikit tersenyum lebar kepada istrinya.
"Tuntu saja, kalau tidak bisa begitu. Suamiku ini tidak akan pernah mau percaya," ujar Nisa sembari menangkup kedua pipi Fahmi.
"Kalau begitu, Mas juga bisa membuat dirimu bahagia."
"Bagaimana coba?" Nisa menantang suaminya dengan dalih bercanda.
Fahmi pun tersenyum dan mulai mendekati wajah Nisa, kemudian mengecup pucuk kepala istrinya dengan begitu mesra.
Perbuatannya itu berhasil membuat Nisa tersenyum bahagia dan Fahmi pun sudah mengetahuinya, dari sejak awal Nisa selalu menginginkan perhatian penuh darinya. Apalagi untuk sekedar perhatian kecil saja, seperti ini, istrinya sudah sangat bahagia.
"Mas sangat mencintaimu, Nisa Khaerunnisa," ucap Fahmi setelah mengecup kening istrinya.
Dengan perkataan suaminya itu, Nisa seakan mendapatkan sebuah kebahagiaan yang sangat dinantikan. Bahkan, bukan hanya cinta, tetapi Fahmi sudah sangat menyayanginya dan tidak mau kehilangannya. Begitu pula sebaliknya, ia juga sudah mencintai suaminya walaupun pernikahannya dulu tidak dilandasi oleh cinta.
"Aku juga mencintaimu, suamiku. Fahmi Wirahmana," balas Nisa yang diakhiri dengan pelukan hangat dari suaminya.
***
Di sebuah toko emas, Aditya terlihat sedang memilih perhiasan yang nantinya akan melengkapi maharnya. Meskipun begitu, Linda tidak pernah meminta sesuatu yang aneh-aneh sehingga, ia pun tidak pusing lagi karena calon istrinya itu sangatlah sederhana.
"Tuan, bagaimana kalau yang ini? Sepasang cincin ini terlihat bagus dan cantik," ucap penjaga toko emas itu sembari menunjukkan cincin yang indah kepada Aditya.
Lantas, Aditya pun melihatnya. Akan tetapi, ia terlihat tidak begitu menyukai modelnya. Oleh karena itu, ia pun kembali memilih perhiasannya. Seketika saja, kedua mata Aditya tertuju kepada satu set perhiasan dan dua buah cincin yang sangat indah.
"Aku mau beli yang itu," tunjuk Aditya kepada perhiasan yang dipilihnya.
"Tunggu sebentar, Tuan. Namun, maaf kalau yang itu harganya cukup tinggi, Tuan."
Mendengar itu, Aditya pun tidak mempermasalahkan harganya dan ia sudah memilih itu.
"Tidak papa, aku mau yang itu," ujar Aditya dan petugas itu pun mengangguk.
Untuk pakaian dan riasan, Linda sudah mendapatkannya dengan mudah, entah kenapa sewaktu Linda dan Aditya pergi untuk fitting baju pengantin. Dengan mudah bajunya ada dan semua yang dibutuhkan sudah sedia. Maka dari itu, Aditya dan Linda sangat bahagia karena semuanya seakan dilancarkan dan tinggal menunggu acara pernikahannya saja.
.
.
.
__ADS_1
Assalamualaikum.