
"Bismillahirrahmanirrahim"
Dengan mengucap kan bismillah bersama-sama, mereka pun mulai melangkah kan kakinya ke luar dengan berjalan memasuki mobil yang sudah siap berangkat.
Mobil pun mulai berjalan melewati gerbang rumah mewah milik keluarga Alvian, dengan kecepatan sedang Reza melajukan mobilnya yang di sampingnya terdapat Ayah Ahlan, sedangkan kursi belakangnya di tempati oleh Alvian dan Almaira yang nampak saling pandang dengan malu-malu.
Butuh waktu tempuh setengah jam untuk bisa sampai ke bandara, dan akhirnya mereka bersama-sama keluar untuk menunggu pesawat yang akan Ayah Ahlan tumpangi.
"Alvian, Ayah titip Almaira. Kamu harus ingat pesan Almarhumah Ibu kamu untuk selalu menjaga rumah tangga kalian, dan kamu jangan pernah berbuat kasar kepada istrimu selagi Ayah berada di luar negeri!" tegas Ayah Ahlan.
"Iya Ayah, Alvian tidak akan pernah lupa untuk selalu menemani Almaira." Alvian melirik Almaira yang berada di sampingnya.
"Ayah berangkat sekarang ya," ucap Ayah Ahlan dan Alvian menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati Ayah. Jangan lupa jaga kesehatan Ayah selagi di sana," ucap Alvian mengingatkan.
Ayah Ahlan hanya mengangguk dan berjalan mendahului Reza.
"Selamat bersenang-senang ya Bos, dengan pekerjaan yang akan Bos kerjakan di Perusahaan Atmaja Putra," ujar Reza sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Sialan kamu Reza, kamu harus ingat! Aku masih atasan kamu." Alvian nampak kesal kepada asistennya.
Reza hanya tertawa melihat kekesalan Bosnya, sedangkan Alvian semakin nampak kesal kepada asistennya yang mulai berani menertawainya.
"Mas sudah jangan diladeni lagi, itu tidak ada gunanya bagi kamu, Mas." Almaira mengusap tangan suaminya dengan lembut guna memenangkannya.
__ADS_1
Akhirnya Alvian menuruti permintaan istrinya dengan tidak meladeni asistennya lagi.
"Sana pergi, nanti kamu ketinggalan pesawat, gak jadi deh ke luar negrinya." Dengan tawa receh, Alvian meledek asistennya.
Reza tidak menanggapi ucapan dari Alvian, dan langsung berlari menghampiri Ayah Ahlan yang sedari tadi berjalan mendahuluinya.
Pesawat pun mulai meluncur terbang meninggalkan daratan yang luas.
"Sayang ayo kita pulang," ajak Alvian dengan merangkul pinggang Almaira.
"Eh, maaf Mas Almaira sekarang sudah mulai kembali bekerja di Rumah Sakit Surya Jaya," ucap Almaira dengan ragu.
"Kalau begitu, Mas yang akan mengantarkan kamu ke tempat bekerjamu, sayang," ujar Alvian.
"Apa Mas tidak keberatan Almaira kembali bekerja?"
Almaira tersenyum. "Terima kasih Mas, kamu sudah mau mengerti aku."
Alvian mengangguk dan berjalan bersama Almaira masuk ke dalam mobil yang tadi Reza kendarai. Dan setelah Almaira sampai di Rumah Sakit tempatnya bekerja, dengan begitu, ia keluar dari dalam mobil bersama dengan Alvian.
"Mas, Almaira pergi bekerja dulu ya," ucap Almaira.
"Iya sayang, tapi tunggu itu di kening kamu ada noda." Alvian melihat kepada hijab yang istrinya kenakan.
"Mana Mas? Masa iya ada noda, padahal Maira tidak pakai apa pun, Mas." Almaira meraba keningnya dengan lugu.
__ADS_1
"Sebentar, biar Mas hilangkan." Alvian mendekati kening Almaira, dan ... cup, Alvian mencium kening Almaira. Membuat Almaira membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.
"Mas ..."
"Mas bohongin Almaira ya? Dasar tukang modus." Almaira mencubit pinggang Alvian yang tegap.
"Aw! Sakit sayang!"
"Maaf! Mas. Almaira tidak menyangka cubitan tadi bisa membuat Mas kesakitan!" lirih Almaira yang seketika merasa bersalah.
"Tidak sayang! Mas tidak merasa sakit kok, ini juga salah Mas karena telah membohongi kamu," ujar Alvian sembari tersenyum.
"Habisnya Mas ngeselin deh," cibir Almaira dengan mulut yang di monyongkan ke depan.
"Iya-iya, Mas minta maaf deh. Dosa loh kalau seorang istri tidak maafin suaminya sendiri," goda Alvian.
Almaira nampak terdiam, dan kemudian ia mencium tangan suaminya.
"Di maafin gak nih?" tanya Alvian kembali.
"Iya, Almaira sudah maafin Mas kok," jawab Almaira sembari menunjukan senyuman indahnya.
"Nah gitu dong, ini baru istri Mas yang Mas kenal," ucap Alvian dengan mengelus pelan kepala Almaira yang tertutup kerudung berwarna biru langit.
Tanpa mereka berdua sadari, kemesraan mereka di lihat oleh sepasang mata yang tengah memperhatikannya dari kejauhan.
__ADS_1
"Siapa laki-laki itu? Dia terlihat sangat dekat dengan Almaira. Apa jangan-jangan dia suaminya?" tebak laki-laki itu.