
Aditya yang merasa penasaran, langsung mengajak orang yang mengirimkan pesan itu untuk bertemu di suatu tempat.
"Kita bisa bicara soal ini di tempat lain, kan?" tanya Aditya.
"Ternyata dugaan saya benar. Anda akan dengan mudah tertarik."
"Jangan banyak bicara lagi! Kita bisa bertemu di restoran dekat Rumah Sakit Surya Jaya, nanti aku kirim tempatnya."
Aditya langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana miliknya, setelah mengirimkan lokasinya kepada orang yang tidak dikenal itu.
Sudah lima menit Aditya menunggu orang itu, dan akhirnya seorang perempuan cantik dengan pakaian minim berjalan menghampirinya dan duduk di bangku yang sudah Aditya tempati lebih dulu.
"Halo Tuan, senang bertemu dengan anda." Perempuan itu mengulurkan tangannya kepada Aditya.
Aditya malah cuek, dengan tidak menyambut tangan perempuan itu, sehingga membuatnya menjadi malu dan menurunkan kembali tangannya.
"Oke, sekarang kita sudah berada di sini. Langsung pada intinya saja ya. Sekarang apa yang kamu mau tanyakan kepada saya?"
"Katakan siapa kamu sebenarnya? Dan apa hubungan kamu dengan Almaira serta suaminya?"
__ADS_1
"Aku Sintia, perempuan yang amat dicintai oleh Alvian, hubungan kami kandas begitu saja karena Alvian menikahi wanita itu."
"Lalu apa yang kamu maksud dari pesan singkat yang kamu kirimkan kepada saya?"
"Sudah saya jelaskan, mereka berdua menikah itu tanpa cinta, Alvian menikahinya hanya untuk memenuhi permintaan Ibu Hilma untuk yang terakhir kalinya sebelum ia meninggal dunia," jelas Sintia.
"Yang aku lihat mereka berdua pasangan yang saling mencintai, tidak sama seperti perkataanmu," imbuh Aditya merasa aneh.
"Tidak percaya? Ya udah, saya akan pergi!" ancam gadis itu.
"Eitt, tunggu dulu! Urusan kita belum selesai." Aditya menghentikan langkah Sintia yang hendak pergi.
"Tujuan kamu menemui aku untuk apa?"
"Aku hanya ingin menawarkan kerja sama untuk memisahkan Alvian dari cewek kampungan itu."
"Maaf Nona, aku tidak sekejam itu!"
"Tapi ini tawaran yang bagus untuk kita berdua, Tuan. Nanti anda akan mendapatkan gadis itu, dan saya akan mendapatkan cintaku kembali," ucap Sintia tersenyum bangga.
__ADS_1
"Saya tidak akan menerima tawaran seperti itu! Saya juga tidak mau menyakiti hati orang lain hanya untuk kebahagiaanku sendiri."
"Bila memang sudah takdirnya, Allah SWT juga akan mendekatkannya, tapi bila ia tidak ditakdirkan untuk bersama dengan kita, berarti dia bukanlah yang terbaik untuk kita," timpal Aditya kembali.
"Perkataanmu memang ada benarnya Tuan, tapi kita juga perlu usaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan." Sintia masih tetep dengan pendiriannya.
"Mau sebesar apa pun usahamu, tidak akan bisa merubah segalanya. Semua akan sia-sia!"
"Ternyata anda tidak mudah diajak kerjasama, anda juga sangat pandai bicara sehingga sulit untuk mengajak berdamai."
"Ya udah Nona, saya tidak ada waktu lagi untuk membahas hal yang tidak penting." Aditya berjalan pergi meninggalkan Sintia.
Sintia yang melihatnya menjadi sangat kesal dan marah. "Berani-beraninya dia menolak tawaran dariku! Tidak dengan bantuan kamu, aku pasti bisa memisahkan mereka berdua dengan caraku sendiri."
Di dalam mobilnya, Aditya terdiam dengan memikirkan semua perkataan Sintia yang kemungkinan benar.
"Apa semua perkataannya tadi soal Almaira dan suaminya itu benar?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Sudahlah jangan di pikirkan lagi. Lagi pula, tawaran semacam itu tidak pantas untuk di terima."
__ADS_1
Aditya melajukan mobilnya kembali menuju ke Rumah Sakit Surya Jaya. Sesampainya Aditya di sana, seorang suster menghampiri dirinya dan memberitahunya bahwa ada operasi yang akan segera dilakukan.