
Almaira hanya tersenyum simpul kepada suaminya dan berkata. "Sudahlah, jangan di ingat-ingat lagi jika itu menyakiti hati mas. Maafkan Maira karena sudah mengorek luka lama yang sedang berusaha mas sembuhkan."
"Setidaknya mas sudah merasa lega karena telah terbuka kepadamu sayang," ucap Alvian dengan menampakkan ketenangan dalam dirinya.
"Terbuka lebih baik mas, dari pada terus menyembunyikan sesuatu yang akan membuat hati tidak tenang." tutur Almaira dangan mencoba memberikan pengertian.
Lantas Alvian merenung. "Iya, ini gara-gara mas yang takut kamu marah, setelah mengetahui kenyataan ini," lirih Alvian yang merasa bersalah.
"Jangan takut di marahi, sebelum mencobanya," ucap Almaira dengan memberikan penjelasan dan itu berhasil membuat Alvian mengerti, maksud dari ucapanya itu.
"Mas, sudah makan siang belum?" tanya Almaira setelah mengingat kembali niat awalnya untuk menemui suaminya.
Alvian tersenyum. "Belum, pasti kamu bawakan makanan untuk mas kan?" Alvian mencoba menebak, apa maksud kedatangan istrinya.
Lantas itu membuat Almaira tertegun, suaminya sudah lebih dulu tahu maksud dari kedatangannya. "I--iya mas, maaf Maira tidak memberi tahu mas terlebih dahulu." lirih Almaira dengan tertunduk.
"Tidak apa-apa, mas juga senang dengan kedatangan mu sayang," ucap Alvian, tetap dengan senyuman manisnya yang tidak pernah pudar di kala bersama istrinya.
Kini Alvian mengajak istrinya untuk duduk di sofa dan makan bersamanya. Setelah mereka berdua menyelesaikan sarapan paginya, Almaira mengajak suaminya untuk berbincang sebentar.
"Mas, besok Maira mau melakukan operasi bersama Kak Aditya. Mas tolong do'akan Maira, supaya operasi besok lancar." Almaira meminta suaminya untuk mendo'akannya, supaya di lancarnya operasi yang akan Almaira lakukan besok.
Namun, di luar dugaan. Alvian terlihat tidak baik-baik saja, wajahnya menjadi merah padam dan memancarkan kecemburuan pada diri Alvian.
Almaira yang melihat wajah suaminya yang seperti itu, malah bertanya-tanya bukannya mengerti akan keadaannya. "Mas, kok enggak di jawab sih? Apa mas marah yah sama Maira?" Pertanyaan bertubi-tubi sudah Almaira lontarkan kepada sang suami.
"Mas enggak marah. Akan tetapi, mas cemburu," ujar Alvian dengan wajah yang cemberut.
"Cemburu sama siapa, sih mas?" tanya Almaira sambari menetap lekat wajah suaminya.
__ADS_1
"Ya, mau sama siapa lagi kalau di tempat kerjamu sayang," tutur Alvian soraya memperlihatkan ketidak sukanya kepada seseorang.
Setelah ucapan Alvian yang ini, barulah Almaira mengerti. Ingin sekali Almaira tertawa di saat Alvian merajuk seperti anak kecil yang tidak dikasih permen.
"Oh, lucunya suamiku ini. Ternyata lagi cemburu? Makanya ekspresinya seperti ini," ucap Almaira sembari merengkuh kedua pipi sang suami dengan gemesnya.
"Wajar dong kalau mas seperti ini," ucap Alvian yang masih menampakan wajah murungnya.
"Iya-iya, Maira minta maaf deh, sekarang mas mau kan, mendo'akan pekerjaan Maira sepaya tetap lancar?" pinta Maira dengan penuh harapan.
"Apapun keinginannya, insya allah mas bisa penuhi." tutur Alvian soraya memperlihatkan senyuman manisnya yang jarang ia perlihatkan kepada orang lain.
Almaira juga ikut tersenyum, dikala melihat suaminya yang tersenyum manis kepada dirinya. Di kedua bola mata indah pasangan halal itu sudah terpancar butiran cinta yang menghiasi rumah tangga mereka.
Lain halnya dengan Reza, asisten Alvian yang kini berada di Bandung dan tidak salah lagi ini adalah permintaan Alvian yang ingin memberikan sumbangan untuk Pesantren Ar-Rasyid, dengan niat membantu pasilitas santri yang masih belum lengkap.
Abi Zainal juga tidak keberatan dengan semua itu karena Alvian sudah memintanya agar tidak menolak pemberiannya. Alvian menyuruh Reza untuk mengurus urusan itu karena memang pekerjaannya saat ini cukup banyak, sehingga Alvian tidak bisa turun tangan langsung.
Lama mencari tidak ketemu dan pada akhirnya Reza menanyakannya kepada seorang wanita yang kebetulan lewat. Namun, sepertinya Reza mengenali wanita itu.
"Maaf nona, mau tanya. Kalau rumah Ustaz Zaenal dimana yah?" tanya Reza dengan kening berkerut, memperlihatkan ekspresi yang tidak biasanya.
Sejenak Fatimah terdiam dan pada akhirnya ia buka suara. "Anda bisa lihat ke arah kanan dan lihatlah bacaan di atasnya," ucap Fatimah sembari menunuduk karena memang ia selalu begitu kalau sedang bersama seorang laki-laki.
Suara itu, Reza mulai mengenalinya. Ya, dia wanita yang bertabrakan dengannya kemaren saat dipasar yang di duga berjalan dengan melamun. "Kamu, ya wanita yang kemaren?" Bukanya berterimakasih, Reza malah bertanya.
Fatimah hanya mengangguk pelan, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Reza.
"Sudahlah jangan di ingat kembali." ucap Reza sedikit malu-malu untuk menutupi kesalahannya yang ternyata Pesantren Ar-Rasyid itu sudah ada di dekat sana.
__ADS_1
Mungkin kalau bukan laki-laki, Fatimah sudah tertawa sekarang ini, di saat melihat tingkah Reza yang seperti ini.
"Maaf, aku tidak menyadarinya," ucap Reza meminta maaf sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Fatimah?" Seseorang memanggil Fatimah dari ke jauhan.
Lantas Fatimah menoleh ke arah sumber suara. "Iya kak, ada apa?" tanya Fatimah tidak tenang karena melihat raut wajah Nisa yang tidak konsisten.
"Fatimah, udah beli bahan makanannya belum? Soalnya para santri sudah pada lapar dan kami tidak sanggup menanganinya, lalu aku mencarimu untuk memastikan bahan makanan yang katanya mau kamu beli karena persediaan bahan pangan sudah hampir habis." jelas Nisa dengan nafas yang terengah-engah karena sempat berlari saat menghadapi Fatimah.
"Astaghfirullahaladzim, Imah lupa. Bagaimana ini Nis?" Fatimah terlihat kebingungan, bagaimana bisa ia lupa berbelanja.
"Aduh, padahal aku udah nunggu dari tadi. Ya sudah, sekarang kita beli dulu sayurannya sekarang. Takutnya Ummi Siti marah." saran Nisa untuk meringankan beban pikiran Fatimah.
"Ta--tapi," ucapan Fatimah terpotong karena Nisa sudah lebih dulu menarik tangannya.
"Jangan banyak tapi-tapian karena waktu kita sudah sedikit." ujar Bisa dengan terus menarik tangan Fatimah.
Sekilas Fatimah menatap Reza. "Maaf, saya harus segera pergi karena ada keperluan mendadak. Assalamualaikum," ucap Fatimah sembari mengetukkan kedua tangannya di dada.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati." balas Reza dengan tersenyum.
Buru-buru Fatimah memalingkan wajahnya dan mengikuti Nisa yang sudah tidak sabaran.
"Namanya Fatimah, cantik seperti orangnya." gumam Reza sembari memandang kepergian Fatimah yang perlahan menjauh dari hadapannya.
Namun, sesaat kemudian Reza kembali teringat dengan tugas dari Alvian. Tanpa banyak pikir, Reza langsung masuk ke dalam Pondok Pesantren Ar-Rasyid. Akan tetapi, apa yang dilihatnya sungguh di luar ekspresi.
"Indahnya kawasan pesantren ini, terlihat bersih, terjaga dan terawat." Reza dibuat terpukau dengan keindahan kawasan dan lingkungan Pesantren Ar-Rasyid.
__ADS_1
Baru pintu masuk yang Reza lihat, belum dalamnya. Meskipun pesantrennya tidak terlalu besar, tapi cukup membuat Reza kagum, bahkan saat pertama memasukinya.