Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 22. Tidak Menyadarinya


__ADS_3

Tidak terasa hari sudah mulai larut, Alvian tengah bersiap-siap untuk segera pulang ke rumah untuk menemui istri cantiknya itu. Dengan langkah yang lebar, Alvian berjalan ke luar dari kawasan perusahaan, dengan segera memasuki mobil mewahnya.


Beberapa saat kemudian, Alvian sudah sampai rumah dengan memarkirkan mobilnya, memasuki kawasan rumah mewah keluarganya.


Senyum yang lebar selalu terpancar dari wajah Alvian, menunjukkan bertapa gembiranya dirinya saat ini.


Suara ketukan pintu yang terdengar oleh Almaira, dengan segera ia pun membukakan pintu tersebut. Dan di saat Almaira membukakan pintunya, sudah terlihat Alvian yang sedang berdiri di ambang pintu sambil memegang tasnya


"Assalamualaikum," ucap Alvian dengan tersenyum.


"Wa'alaikumsalam, Mas sudah pulang ya? Sini, biar Almaira saja yang bawa tasnya," sahut Almaira dengan penuh semangat.


Rasa rindu yang di rasakan Alvian perlahan pudar setelah melihat istrinya—Almaira yang menyambut kepulangannya, sesuai dengan keinginannya.


Alvian memberikan tasnya kepada Almaira dengan hati yang sangat gembira. Perlahan tanpa di minta, Alvian sudah lebih dulu mencium kening Almaira dengan lembut.

__ADS_1


Jangan di tanyakan lagi bagaimana perasaan Almaira sekarang, pasti sekarang hatinya sedang berbunga-bunga.


Rasa syukur tidak pernah Almaira hiraukan lagi, bertapa manisnya suaminya kali ini. Tanpa henti-hentinya, Almaira mengucapkan syukur di dalam hati, atas nikmat dan do'a yang ia panjatkan telah menjadi nyata, tanpa sepengetahuannya.


Sebuah senyuman mulai mengembang dari sudut wajah Almaira, di saat suaminya menatapnya.


"inilah yang aku tunggu sejak tadi. Sebuah senyuman manis yang aku rindukan dari wajah manis Almaira," batin Alvian berucap.


Perlahan Almaira mengambil tangan Alvian dan menciumnya dengan sangat lembut. Ingin sekali Alvian memeluk segera istrinya itu, masuk ke dalam dekapannya dan mencium seluruh wajah cantiknya. Akan tetapi, itu tidak mampu Alvian lakukan karena egonya sangat besar.


"Sekarang Alvian mulai menerima kehadiran Almaira di dalam hidupnya, perlahan kamu akan menemukan kebahagiaanmu bersama dengan Almaira, istri yang telah Ibumu pilihkan." Ayah Ahlan tersenyum senang memperhatikan perkembangan Alvian dalam beberapa hari ini.


Perlahan Ayah Ahlan pergi meninggalkan anak dan menantunya yang tengah berduaan, dengan tanpa sedikit pun mengganggu dan menemui mereka.


"Mas, mau Almaira siapkan air hangat dulu atau Mas mau makan sekarang? Biar Almaira siapkan," ucap Almaira yang mulai kembali penuh perhatian.

__ADS_1


Alvian tersenyum menatap istrinya. "Mas mau mandi dulu. Tubuh Mas sudah sangat lengket," jawab Alvian sembari menatap lembut wajah istrinya.


"Ya sudah, Almaira siapkan dulu air hangatnya."


Almaira hendak berjalan meninggalkan suaminya. Namun, perlahan Almaira berbalik kembali karena tangannya tengah di pegang oleh suaminya.


"Tunggu! Kita bersama masuk ke dalam kamar, ya," ucap Alvian dengan tersenyum.


Almaira mengangguk, mengikuti apa yang suaminya inginkan, kemudian Alvian dengan perlahan menyentuh tangan Almaira dan menggenggamnya sangat erat. Masih dengan senyuman yang selalu Alvian pancarkan, berjalan bergandengan bersama dengan istrinya masuk ke dalam kamar mereka.


Sungguh tidak bisa di gambarkan, perubahan Alvian saat ini. Alvian menjadi sangat lembut kepada Almaira. Dengan hati yang sangat gembira, Alvian terus menatap lekat wajah istrinya di saat mereka telah sampai di kamar mereka berdua.


"Aku kira kamu menjadi penyebab Ibuku meninggalkanku. Namun, dugaanku ternyata sangatlah salah. Kamu membawa cahaya dalam kehidupanku yang indah dengan selalu memberikan senyuman dikehidupan baruku." Alvian terus berkata di dalam hatinya.


Alvian terus saja memuji Almaira, di dalam hatinya dan mengerutuki kesalahan pahamannya terhadap Almaira.

__ADS_1


__ADS_2