
Almaira mulai menyiapkan sajadah dan alat beribadah lainnya. Alvian hanya terdiam, sembari melihat istrinya yang sibuk dengan mukenanya.
"Mas itu pakai baju dan pecinya, kita salat subuh dulu," kata Almaira.
"Iya, sayang." Alvian langsung mengenakan baju dan pecinya.
"Sekarang Mas ikutin gerakan Maira ya, nanti Maira ajarin doanya," ujar Almaira.
Alvian mengangguk mengerti, dengan mengikuti setiap gerakan salat yang Almaira lakukan, sampai pada salam akhir dari salat.
Dengan lembut, Almaira meraih tangan Alvian dan menciumnya dilanjutkan dengan Alvian yang mencium kening Almaira.
"Sekarang Mas mau mendengarkan suaramu mengaji," cicit Alvian dan Almaira mengangguk, menyetujuinya.
"Baiklah, tapi setelahnya, Mas juga harus belajar membaca Al-Qur'an supaya Mas juga bisa membacanya."
"Oke, sayang." Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Alvian sudah membaringkan kepalanya di atas pangkuan sang istri.
Dengan suara yang lembut dan merdu, Almaira melentunkan ayat suci Al-Qur'an yang didengarkan oleh suaminya sampai selesai.
"Sudah?" tanya Alvian karena Almaira berhenti membacanya.
"Iya sudah Mas, sekarang giliran Mas yang belajar mengaji. Tunggu sebentar ya." Almaira berjalan menghampiri meja, dan kembali membawa sebuah buku kecil di tangannya.
"Sayang apa itu?" tunjuk Alvian pada benda yang dibawa oleh istrinya.
__ADS_1
"Ini namanya iqra, alat untuk mempermudah kita membaca Al Qur'an."
"Oh itu namanya iqra, terus gimana cara menggunakannya, sayang?"
Almaira tersenyum melihat semangat Alvian untuk belajar membaca Al-Qur'an. "Mas pake dulu pecinya!"
"Eh iya lupa, tadi Mas sempat lepas pecinya," jawab Alvian cengengesan.
Alvian kembali menggunakan pecinya.
"Masya Allah, Mas jadi makin tampan kalau pakai peci," puji Almaira terkagum, setelah melihat wajah suaminya yang menggunakan peci di kepalanya.
"Iyalah, kan Mas sudah tampan dari lahir," kata Alvian dengan bangga.
"Udah ah, sekarang Mas coba pegang iqranya." Almaira segera memfokuskan dirinya.
"Sayang, kalau yang ini Mas bisa," kata Alvian dengan wajah polosnya.
Almaira tersenyum lucu, melihat ekspresi wajah suaminya. "Ya udah, Maira pindah ke iqra lima ya." Almaira segera membuka lembaran lagi sampai ke iqra lima.
"Nah itu baru lebih baik." Barulah Alvian tersenyum lebar setelahnya.
"Coba Mas baca!"
Alvian langsung membacanya dengan benar. "Loh itu Mas sudah bisa membacanya?" tanya Almaira heran.
__ADS_1
"Hehe, Mas memang sudah bisa baca ini sayang karena dulu Ibu mengajarkan Mas, tapi Mas belum sepat bisa baca Al Qur'an." Alvian tertunduk.
"Sekarang kita coba baca Al Qur'annya, Mas pasti bisa." Almaira menyemangati suaminya.
"Yang ini dibacanya harus jelas ya Mas, namanya Izhar," tunjuk Almaira pada salah satu ayat Al Qur'an.
"Izhar artinya jelas seperti cinta Mas yang terlihat jelas kepadamu, sayang," kata Alvian dengan menatap wajah istrinya yang cantik.
"Ih, Mas jangan mulai deh. Tunda dulu sebentar, kita kan lagi belajar mengaji, bukan tentang cinta-cintaan," tegur Almaira dan Alvian tersenyum lucu melihat istrinya yang malu-malu.
"Oke, siap Bu Ustazah cantiknya aku."
Almaira hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Alvian yang seperti anak kecil.
"Alhamdulillah, Mas bacaannya sudah mulai benar, jika Mas rajin membaca dan belajar, pasti Mas akan bisa membacanya dengan lebih baik lagi."
"Aaminn. Demi menjadi imam yang baik untukmu, Mas harus belajar mengaji seperti ini."
Alvian menarik tubuh Almaira ke dalam pelukannya. "Tetaplah berada di samping Mas seperti ini, menemani hari-hari Mas yang sebelumnya sunyi tampa kehadiranmu di samping Mas," lirih Alvian yang tidak mau kehilangan Almaira.
Sesaat Almaira terdiam, dilihat dari wajah dan cara bicara Alvian, tidak seperti orang yang sedang bohong, Almaira yakin itu.
"Insya Allah, Maira akan selalu menemani hari-hari Mas, dengan menjadi penenang di kala api menghadang rumah tangga kita. Membuat benteng terkuat supaya tidak ada yang berani mengusik keharmonisan rumah tangga kita," jawab Almaira sembari tersenyum.
"Aaminn, semoga doamu dapat dikabulkan oleh Allah SWT."
__ADS_1
Almaira mengeratkan pelukannya kepada tubuh suaminya, seakan tidak mau kehilangan sosok Alvian di samping dirinya kala itu.