Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 38. Sikap Manja Alvian


__ADS_3

Ayah Ahlan sudah menyakini bahwa anaknya Alvian pasti tidak akan pernah bisa meninggalkan istrinya begitu saja, karena sekarang cinta sudah mulai tumbuh dari hati kedua sepasang suami istri itu.


Untuk saat ini, Almaira nampak menatap wajah suaminya yang kini tengah terdiam. Dengan sangat tidak sabar, Almaira ingin mengetahui jawaban suaminya yang ternyata ingin pergi ke luar negeri menggantikan ayah mertuanya.


"Ayah memang benar, Alvian sudah mempunyai kewajiban sebagai seorang suami yang sudah mempunyai istri. Alvian tidak mungkin bisa meninggalkan Almaira sendirian di rumah, pasti dia akan kesepian," ucap Alvian dengan tatapan mata yang mengarah kepada istrinya.


Hati Almaira tersentuh dengan perkataan suaminya yang begitu perhatian kepada dirinya, sedangkan Almaira masih tidak menyangka bahwa suaminya—Alvian bisa berubah secepat ini.


"Ya sudah tidak apa-apa, besok Ayah akan berangkat pukul delapan pagi. Kamu dan Almaira harus mengantarkan Ayah ke bandara besok, ya."


Mendengar itu Alvian langsung mengangguk patuh kepada Ayahnya.


"Sekarang kalian berdua bisa kembali ke kamar kalian, lanjutkan malam kalian yang sempat tertunda karena Ayah menganggunya tadi," kata Ayah Ahlan sembari tersenyum.


Perkataan Ayah Ahlan berhasil membuat Almaira malu, padahal tadi mereka berdua tidak melakukan apa pun.


"Ah, sudahlah. Almaira kita kembali ke kamar yuk," ujar Alvian mengedipkan sebelah matanya guna menggoda sang istri.

__ADS_1


"Tapi Mas, kita belum—"


Ucapan Almaira sempat terpotong, begitu Alvian menarik tangannya.


"Tenang, Ayah sudah meminta kita kembali ke kamar. Jadi, apalagi yang kita tunggu?"


Alvian menggandeng tangan Almaira, dengan beranjak pergi menuju kamar mereka berdua, sedangkan Ayah Ahlan hanya tersenyum melihat tingkah suami istri itu yang dengan terang-terangan bermain mesra di hadapannya.


***


Di dalam kamar, Almaira nampak terdiam menatap langit malam yang indah disertai dengan taburan bintang cantik di atasnya. Alvian malah mengajaknya kembali ke balkon, dengan menatap langit yang indah.


Nampak Almaira sedang berpikir mencari jawaban dari pertanyaan suaminya. "Maira tidak bisa jawab, Mas."


"Karena bintang sama seperti sayang aku yang tidak pernah bisa kamu hitung seberapa besarnya sayangku kepadamu," ucap Alvian sembari tersenyum kepada Almaira.


"Sayang nih, bukan cinta?" goda Almaira.

__ADS_1


Alvian memeluk tubuh Almaira dari belakang. "Karena cinta belum tentu sayang, sedangkan sayang sudah pasti cinta."


Deg, Almaira nampak terdiam setelah mendengarkan semua perkataan suaminya, hembusan nafas Alvian juga sudah mulai Almaira rasakan karena suaminya telah menyimpan kepalanya di pundak miliknya.


Untuk itu, baru kali ini Almaira merasakan ketulusan dari semua perkataan dan ucapan yang keluar dari mulut suaminya.


"Mas, kamu kedinginan, ya?" Almaira melihat suaminya yang semakin lama mendekap tubuhnya, karena udara malam yang semakin lama semakin dingin.


"Tidak sayang, selama kamu di sisi Mas. Mas tidak akan pernah kedinginan," sengkal Alvian yang nampak tidak mau mengakuinya.


"Almaira tahu Mas kedinginan, kita masuk kamar saja ya? Lagian sudah mulai larut malam juga."


"Iya Mas kedinginan, tapi jika Mas meluk kamu, Mas tidak akan kedinginan lagi sayang."


Almaira hanya tersenyum karena ia sudah tahu apa yang diinginkan oleh suaminya itu. "Kita tidur sekarang ya, Mas bisa peluk Almaira saat Mas tidur "


Alvian langsung menatap wajah istrinya dengan semangat. "Serius, ya? Mas mau kalau begitu."

__ADS_1


Hanya dengan anggukan kepala dari istrinya, Alvian dengan semangatnya membawa istrinya masuk ke dalam kamar, dengan menutup pintu yang terdapat di balkon, supaya nantinya tidak ada angin yang masuk ke dalam kamar mereka.


__ADS_2