
Sesampainya di rumah, Alvian terlihat sangat marah dengan pergi meninggalkan istrinya, sedangkan Almaira yang melihatnya pun semakin merasa bersalah.
Alvian yang masuk ke dalam kamar dengan diikuti oleh Almaira yang berbeda di belakangnya, sedangkan yang Alvian lakukan hanya berdiri di balkon dengan pikiran yang entah kemana.
Karena takut terjadi apa-apa kepada suaminya, Almaira langsung beranjak menghampiri Alvian dengan memeluk erat tubuh suaminya itu sehingga terdengar deru nafas Alvian yang membuktikan, ia masih merasa sangat marah.
"Jangan berpikiran hal yang tidak-tidak ya, Mas," ucap Almaira sembari mengelus dada bidang suaminya agar sang suami bisa lebih tenang.
Alvian malah tidak bergeming dan fokus menatap ke depan dengan sorot mata yang sama, di saat Almaira melihat kemarahan suaminya.
"Kamu kenapa melakukan itu semua? Apa karena kamu ingin membalas perbuatan aku yang selama ini tidak menganggap kehadiranmu sebagai istriku, dan mencari laki-laki lain sebagai sandaran? Apakah suamimu ini sangat tidak ber ...." Alvian tidak melanjutkan ucapannya karena Almaira langsung menutupnya, dengan telunjuk tangan yang berdiri tepat di depan bibirnya.
"Jangan ucapkan kata-kata yang membuatku semakin merasa bersalah," ucap Alvian kembali.
Alvian memegang tangan Almaira yang berada tepat di depan wajahnya. "Mengapa kamu lakukan itu semua, kalau kamu sendiri masih ingat diriku?"
__ADS_1
"Itu semua hanya sebuah kesalah pahaman bukan aku yang sengaja melakukannya, Mas!" Almaira semakin mempererat pelukannya pada tubuh suaminya.
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku bahwa laki-laki itu tanpa ragu memeluk dirimu. Itu sudah cukup membuktikan bahwa kamu mempunyai hubungan dengannya."
Almaira langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak Mas! Yang Mas lihat itu tidaklah benar karena Mas belum tahu persis kebenaran yang sebenarnya."
Alvian beralih menatap lekat wajah istrinya "Bisa kamu jelaskan kepada suamimu ini bila ucapan yang kamu lantarkan itu benar adanya?"
Almaira tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. "Iya Mas, Almaira bisa kok. Lebih baik kita membicarakannya dengan duduk santai supaya Mas jauh lebih merasa tenang," saran Alvian.
Walaupun demikian, Alvian masih marah, tapi lihatlah apa yang dilakukan olehnya sangatlah jarang kita temui di setiap diri seorang laki-laki.
Alvian terdiam menatap wajah istrinya dengan sendu. "Apa dia akan benar-benar mengatakan masa lalunya, atau ia malah ingin menghindar dari kesalahannya?" pikir Alvian soraya mencari kebenaran dari sorot mata istrinya.
"Mas, apa kamu punya masa lalu?"
__ADS_1
Alvian nampak terdiam. "iya Mas punya, kenapa kamu tanya soal itu?"
"Nah begitu pula dengan Maira, masa lalu bisa kembali hadir di masa depan dengan keadaan yang berbeda, sebab kita tidak akan pernah bisa melupakannya."
"Lalu, laki-laki itu kekasih di masa lalu kamu, gitu?"
"Tidak juga. Namun, dia bagian dari itu," jawab Almaira sebagai tersenyum.
Alvian terlihat terdiam, mencerna setiap ucapan istrinya itu. Setelah itu, Almaira perlahan kembali melanjutkan ucapannya.
"Maka dari itu, tolong Mas tahan dulu emosi Mas karena itu akan mempengaruhi rumah tangga kita."
Di tatapnya wajah rupawan Almaira, dengan menyakinkan kebenaran sudah pasti istrinya tahu."Oke, Mas akan mencobanya."
"Bismillah. Sebuah kebahagiaan menjadi mahasiswa di Pakultas kedokteran bagi Maira, tapi tidaklah semanis gula saat menjalaninya." Kini Almaira mulai menceritakan kisahnya.
__ADS_1