
Mendengar ucapan Almaira, membuat Alvian terbangun dan melangkah pergi menuju pintu kamar mandi sambil berucap, "Kamu duluan saja, salatnya."
Almaira merasa kecewa dengan penolakan dari suaminya. Namun, Almaira tetap bersabar menghadapi sikap Alvian.
Setelah memasuki kamar mandi, Alvian berdiam diri sambil memikirkan sesuatu. "Aku saja sudah lupa dengan tata cara salat, bagaimana aku bisa melakukan salat?" ucap Alvian pelan sembari menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamar mandi.
***
Alvian sudah terlihat rapih dengan setelan jasnya, dengan berjalan menuruni anak tangga dan menghampiri Ayah Ahlan yang sedang duduk di meja makan.
"Loh Alvian, kamu mau kemana? Pagi-pagi begini sudah rapih," tanya Ayah Ahlan di saat melihat putranya yang memakai setelan jas.
__ADS_1
"Mau berangkat ke kantor lah, Ayah," jawab Alvian singkat.
"Kamu kan masih libur kerja? Kenapa harus ke kantor? Kamu jangan kemana-mana, di rumah saja temani istrimu!" tegas Ayah Ahlan pada putranya.
"Aku harus bekerja, Ayah. Sebagai seorang suami, Alvian sudah berkewajiban untuk menafkahi istri Alvian, bukan, Yah? Jadi, Alvian akan bekerja sekarang."
Di saat Alvian bicara begitu, Almaira datang untuk menyajikan makanan.
"Benar, kamu sekarang sudah menjadi seorang suami dan berkewajiban mencari nafkah untuk istrimu, tapi ini terlalu cepat Alvian. Kamu baru saja beberapa hari menikah, masa sudah bekerja saja? Nanti apa kata orang luar di sana?"
"Sudah-sudah, turuti saja kemauan kamu itu. Sekarang kita sarapan dulu Alvian," ajak Ayah Ahlan yang sudah malas berdebat dengan putranya.
__ADS_1
Ayah Ahlan menyerah, dengan berusaha mengalihkan pembicaraan jika diteruskan, pasti akan membuat Almaira terpojokkan dengan semua ucapan dari suaminya.
Ayah Ahlan sudah melihat, dalam dua hari ini Almaira telah mengurus rumah dengan baik dan merawat Alvian yang dimana itu semua sangat mencerminkan sikap mendiang istrinya—Ibu Hilma. Dengan semua perlakuan Almaira selama dua hari ini, mampu membuat Ayah Ahlan yakin bahwa Almaira bisa membangkitkan semangat Alvian lagi.
Setelah Alvian selesai sarapan, ia pun mulai berjalan ke luar rumah. Namun, sejenak Alvian diherankan dengan perlakuan Almaira yang sedang berdiri menghalangi jalannya.
"Kamu mau apa?" tanya Alvian datar.
"Salim Mas. Mas mau berangkat ke kantor kan? Seorang istri akan mengantarkan suaminya sampai teras rumah, setelahnya istri akan mencium tangan suaminya yang di sambut hangat oleh sang suami dengan mendaratkan ciuman dikening sang istri. Sebagai tanda, rasa cinta dan ketulusan yang diberikan oleh seorang suami."
Alvian tertegun dengan semua ucapan Almaira yang panjang ... hening sesaat, membuat Alvian terdiam sejenak. Dengan ragu, Alvian menyodorkan tangannya kepada Almaira dan istrinya pun menyambutnya dengan hangat. Menyalami tangan sang suami bahkan menciumnya, kemudian Alvian mendaratkan ciuman di kening Almaira, sesuai seperti yang tadi istrinya katakan. Sungguh perlakuan yang hangat dari Alvian yang di nantikan oleh Almaira.
__ADS_1
Almaira memejamkan matanya tengah merasakan Alvian yang mencium keningnya itu, bukan sebentar bahkan sangat lama. Perlahan Alvian mulai merasakan ketenangan setelah mencium kening istrinya. Tidak ada rasa marah sedikit pun yang Alvian rasakan, hanya ada ketenangan dan kehangatan yang ia rasakan.
Mencium kening sang istri akan menambah cinta dan menghadirkan ketenangan bagi suaminya. Seakan-akan seorang istri membawakan kedamaian untuk suaminya, tidak di herankan lagi mengapa suami selalu mencium kening sang istri? Karena seorang istri bagaikan rumah tempat berlabuh yang palih tenang untuk suaminya datangi.