
Sudah tiga hari, Reza belum kembali sehat seperti biasanya, bahkan pekerjaannya di kantor Atmaja Putra ditinggalkan, ia juga mengambil cuti kepada Alvian karena kesehatannya belum juga kunjung membaik.
Terlebih lagi, di setiap pagi Reza selalu mual dan itu masih berlanjut sampai sekarang. Makanan yang ia makan, selalu dikeluarkan lagi. Oleh karena itu, Fatimah sangat khawatir dan sesekali membujuk suaminya untuk memeriksakannya kepada dokter.
"Kak, kita ke rumah sakit yah. Adek tidak mau melihat Kakak terus-menerus begini. Walaupun terkadang membaik, tapi Kakak perlu diperiksa sehingga bisa cepat sembuh kembali," bujuk Fatimah kepada suaminya yang masih duduk bersandar di tempat tidur mereka.
"Baiklah," balas Reza sembari menatap wajah istrinya dengan sendu.
Fatimah tersenyum karena suaminya mau dibujuk ke rumah sakit. "Sekarang, ayo kita bersiap, Kak," ucap Fatimah.
Lantas, Reza pun bersiap. Begitu pula dengan Fatimah, ia juga bersiap dan segera membawa suaminya ke rumah sakit. Namun untuk kali ini, tidak mungkin Reza mengendarai mobil dalam keadaan yang seperti ini, maka Fatimah menyuruh supir untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
Setelah Fatimah sampai di Rumah Sakit Surya Jaya bersama dengan Reza, ia pun langsung menemui dokter di sana. Namun di saat itu, dokter yang menanganinya nampak mengerutkan keningnya heran, setelah menerima hasil dari pemeriksaan Reza.
"Bagaimana, Dok? Suami saya kenapa?" tanya Fatimah karena sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.
Lantas, dokter itu pun menatap kepada Fatimah dan Reza. "Dari hasil pemeriksaan suami Nona, tidak ada masalah atau penyakit apa pun. Hasilnya sehat, tekanan darahnya juga normal, dan tidak terdapat gejala apa pun pada tubuh Tuan Reza," jelas dokter tersebut.
Fatimah menatap heran dokter yang menangani suaminya itu. "Lantas, mengapa suamiku selalu muntah tiap pagi? Dan itu selalu terjadi selama tiga hari, belakangan ini. Telebih lagi, suami saya tidak berselera makan sehingga tubuhnya sangat lemas dan wajahnya pucat," ujar Fatimah dan ia tidak melewatkan satu keluhan pun.
Mendengarkan semua penuturan dari Fatimah, barulah dokter itu tersenyum. "Tuan Reza mengalami sindrom simpatik kehamilan, sehingga Tuan Reza mengalami gejala-gejala kehamilan yang biasanya dialami oleh seorang wanita yang sedang hamil. Dan sepertinya istri anda sedang hamil, Tuan," ucap Dokter itu.
Fatimah dan Reza pun langsung saling beradu pandang, satu sama lain.
"Istriku hamil, Dok?" tanya Reza dengan wajah yang berbinar.
Dokter itu hanya mengangguk. "Untuk memastikannya kembali, kalian bisa memeriksakannya kepada dokter kandungan. Namun, kemungkinan besar istri anda sedang mengandung," ucap Dokter itu kembali.
"Alhamdulilah. Dek, kamu hamil," ucap Reza soraya menatap wajah Fatimah dengan sangat dalam.
Fatimah hanya diam saja, dia masih belum percaya bahwa dirinya sedang mengandung. Serasa mimpi baginya untuk bisa hamil.
__ADS_1
"Benarkah itu, Kak?" tanya Fatimah dengan mata yang sudah berkaca-kaca, seakan mencari kebenaran dari semuanya.
"Iya, Dek. Kamu hamil, kita sekarang segera temui Dokter Linda, untuk memastikannya," ucap Reza dengan penuh keyakinan.
"Tapi, Kak. Dokter Linda baru saja menikah tiga hari yang lalu, dan besar kemungkinan, Kak Linda belum masuk bekerja lagi di sini," kata Fatimah dan Reza pun baru mengingatnya kembali.
"Eh, iya." Reza hanya tersenyum malu, dan kembali menanyakannya kepada dokter yang baru saja memeriksanya.
"Dok, apa di sini masih ada Dokter Kandungan lain, selain Dokter Linda?" tanya Reza sembari tersenyum bahagia.
"Ada, silakan nanti langsung menemuinya," jawab Dokter itu.
"Baiklah, tapi Dok. Siapa nama Dokter itu?" tanya kembali Reza supaya mempermudah menemuinya.
"Dokter Naina, dia yang bertugas hari ini," ucapnya.
"Baiklah, terima kasih, Dok."
Reza pun langsung menemui dokter kandungan tersebut, dan dengan mudah ia menemuinya karena Dokter Naina tidak sengaja bertemu dengannya.
"Dok, bagaimana? Apa benar istri saya hamil?" Reza terlihat tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.
Dokter Naina pun tersenyum. "Iya, selamat yah. Sekarang anda sudah menjadi calon Ayah," ucap Dokter Naina.
"Alhamdulillah. Dek, akhirnya kamu hamil," ucap Reza sembari mendekati tubuh Fatimah.
"Dokter, apa benar aku hamil?" tanya Fatimah karena ingin memastikannya kembali.
"Iya, Nona. Anda sedang hamil dan usia kandungannya baru masuk trimester pertama, maka harus menjaganya dengan sangat baik," jawab Dokter Naina dan Fatimah sangat bahagia.
Tanpa terasa, air matanya mulai meleleh keluar dari kedua pelupuk mata indahnya. "Alhamdulillah, Ya Allah," ucap Fatimah sembari mengusap perutnya yang masih rata.
__ADS_1
Melihat itu, Reza langsung memeluk tubuh istrinya dan mencium keningnya beberapa kali. Dia sangat bersyukur atas karunia dan kepercayaan yang telah diberikan Allah kepadanya, walaupun ia harus mengalami mual dan tidak enak badan, tetapi Reza tidak mempermasalahkan semua itu.
Sekian lama menunggu, tidaklah mudah. Banyak rintangan yang selalu menggoyahkan kesabarannya. Namun, untuk kali ini ia sangat bahagia dengan kabar kehamilan istrinya. Meskipun begitu, kabar itu tidak pernah diduganya sama sekali.
Kini penantiannya bersama dengan Fatimah tidaklah sia-sia. Dan kesabarannya dalam mengunggu, membuahkan hasil yang sangat luar biasa.
Reza dengan sabar selalu mencintai dan menyayangi Fatimah dengan sangat tulus, bahkan di kala pertahanan istrinya goyah dan tidak ada harapan lagi. Dia selalu membuatnya bangkit, dan bersama melewati hari-harinya dengan kebahagiaan.
Apalagi sekarang sudah hadir seorang anak di dalam rahim istrinya, maka kecintaannya semakin bertambah dan lebih menyayangi istrinya.
Fatimah juga tidak pernah menyangka bahwa kali ini keinginannya menjadi kenyataan, dan air mata yang keluar dari kedua belah matanya bukanlah karena sebuah kesedihan, melainkan kebahagiaan. Saking bahagianya, ia sampai mengeluarkan air mata, dari penantiannya bersama dengan suaminya sangat berarti.
Bahkan untuk kali ini, Fatimah tidak henti-hentinya mengucapakan syukur di dalam hatinya. Oleh karena itu, Dokter Naina sangat terharu dengan pasangan yang satu ini.
Baru kali ini, ia melihat pasangan suami istri yang sangat bahagia dengan kabar kehamilannya, memang banyak yang seperti itu. Namun, Fatimah dan Reza terlihat sangat lain. Ada sesi di mana pasangan suami istri yang menanti seorang anak, dan itulah yang membuat Dokter Naina lebih mendalaminya.
Jika dilihat dari segi kebahagiaan, Fatimah dan Reza sudah melebihi kata itu. Maka dari itu, Dokter Naina ikut bahagia dengan kabar kehamilan Fatimah ini, walaupun dirinya tidak mengenal pasiennya itu.
Larut dalam kebahagiaan, membuat Reza dan Fatimah tidak mengenal tempat dan waktu. Oleh karena itu, Dokter Naina tidak enak jika menggangu kenyamanannya, tapi ia perlu memberitahu semua yang perlu dilakukan oleh Fatimah, dan memberikan vitamin untuknya.
"Emm, maaf mengganggu," ucap Dokter Naina dengan tiba-tiba.
"Saya akan resepkan vitamin untuk Ibu Fatimah, nanti jangan lupa di makan. Dan makanannya dijaga yah, supaya kandungannya tetap sehat. Makan juga makanan yang bergizi dan buah-buahan," jelas Dokter Naina sembari tersenyum.
"Baik, Dok. Terima kasih, Insya Allah kami akan menjaganya dengan baik," ucap Fatimah yang masih bahagia dengan kabar kehamilannya.
.
.
.
__ADS_1
Assalamualaikum.