
Pagi hari yang cerah, mewakili kegembiraan Aditya yang berniat ingin menjemput Linda. Oleh karena itu, wajahnya terlihat ceria dan entah kenapa ia bisa jadi seperti ini.
Semenjak Aditya mengenal Linda yang sudah merubah penampilannya, ia merasa tertarik kepada Linda walaupun dulunya Linda bukan wanita yang paham ilmu agama.
Tanpa memberi tahu dulu, Aditya sudah berangkat saja ke rumah Linda. Setelah ia sampai di rumah Linda, kebetulan sekali Linda sudah siap dan ingin berangkat ke Rumah Sakit Surya Jaya. Namun, Aditya langsung menemuinya dan mengajaknya untuk berangkat bareng.
"Assalamualaikum, Linda." Tiba-tiba saja Aditya sudah berada di belakangnya dan membuat Linda kaget.
"Wa'alaikumsalam, Kak?" Linda nampak tidak percaya oleh kehadiran Aditya ke rumahnya.
"Linda, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Aditya karena merasa heran dengan perubahan Linda yang hanya diam.
"Iya, aku baik-baik saja. Kak Aditya ke sini mau apa?" tanya Linda karena ia ingin mengetahui alasan kedatangan Aditya ke rumahnya.
"Aku mau menjemputmu karena mobilmu ada di rumah sakit. Jadi, aku berniat mengajakmu berangkat bareng," jawab Aditya dan Linda bisa mengerti dengan perkataannya.
"Padahal jangan, Kak. Aku bisa naik taksi, takutnya merepotkan," ujar Linda yang masih berada di luar rumahnya bersama dengan Aditya.
"Tidak apa-apa, lagi pula tujuan kita sama," senggah Aditya dan ia pun menatap Linda dengan serius.
"Baiklah, maaf bila terus merepotkan, Kak," tutur Linda dan berjalan bersama Aditya menuju mobilnya.
"Enggak, kok. Ayo masuk," ajak Aditya karena mereka sudah berada di depan mobilnya. Lantas Linda pun segera masuk ke dalam mobil Aditya meskipun hanya berdua, tapi Linda tetap menjaga jarak dengan Aditya.
Di dalam mobil, suasana menjadi hening karena tidak ada pembicaraan dari keduanya sampai mereka di rumah sakit. Akan tetapi, terjadi sebuah pertanyaan bagi para dokter lainnya yang tidak sengaja melihat Dokter Aditya bersama dengan wanita, apalagi wanita itu adalah Linda.
__ADS_1
"Kak, Kak Aditya duluan saja masuknya biar nanti saya menyusul di belakang," ujar Linda karena takut terjadi fitnah.
"Kok gitu?" tanya Aditya yang masih belum paham dari maksud perkataan Linda.
"Aku tidak mau dengan kita jalan bersama, itu akan menimbulkan fitnah. Maka dari itu, lebih baik kita jalan terpisah untuk menghindari fitnah itu," jawab Linda sembari tertunduk.
Aditya terdiam, dia merasa bahwa yang dikatakan oleh Linda itu benar. Walaupun demikian, ia masih merasa belum yakin dengan semua yang terjadi. Bagaimana bisa, dalam dua munggu Linda dapat berubah secepat ini? Itulah kuasa Allah, mau bagaimana pun orangnya dan seperti apa pun perbuatannya jika sudah mendapat taufik hidayah maka mereka akan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
"Baiklah, saya akan masuk ke dalam lebih dulu," kata Aditya yang segera melangkahkan kakinya. Namun, Linda tiba-tiba saja memanggilnya.
"Kak!" panggil Linda dan Aditya pun kembali berbalik dan menatapnya.
"Terima kasih karena sudah mengantarkanku lagi," ucap Linda dan mendapatkan anggukan kepala dari Aditya.
Namun, setidaknya ia tidak kembali menimbulkan pembicaraan yang akan membuat orang berpikir yang tidak seharusnya. Oleh karena itu, Linda bersikap seperti biasanya karena di dalam lingkungan rumah sakit, semua dokter akan bersikap profesional.
Begitu pula Almaira, ia menjalani pekerjaannya dengan sangat baik. Walaupun demikian, suaminya bisa saja membuat rumah sakit untuknya. Namun, Almaira menolaknya karena Almaira sudah nyaman bekerja di sana sehingga tidak perlu dikhawatirkan lagi.
Untuk menjadi dokter, inilah awal dari perjuangan Almaira. Di mulai dari masa kuliah dan mendapatkan gelar dokter, di situlah Almaira merasa sangat beruntung. Apalagi, ia bisa menjadi dokter di Rumah Sakit Surya Jaya yang begitu terkenal ini. Semua itu, bagi Almaira sangatlah berharga karena pencapaiannya juga tidaklah mudah.
Kini Dokter Aditya tidak lagi mengusik Almaira. Itu terjadi, dari semenjak Linda berubah dan Aditya mengenalnya. Di situlah Aditya tidak lagi mengganggu Almaira walaupun di dalam hatinya masih ada rasa terhadapnya. Akan tetapi, Aditya juga paham bahwa mendekati wanita yang sudah bersuami itu tidak baik.
***
Semenjak menikah dengan Nisa, Fahmi merasa bahwa hidupnya lebih berwarna. Meskipun begitu, setiap hari harus mendapatkan ucapan yang kadang-kadang menyindirnya. Namun, itulah yang menghadirkan sebuah rasa yang sering kali Fahmi menyengkalnya.
__ADS_1
Seperti kali ini, mereka berdua sedang berbincang. Akan tetapi, Fahmi selalu saja menanyakan sesuatu yang mungkin menurutnya akan menyakiti hati Nisa dan akhirnya istrinya itu menyerah karena itu kemauannya.
"Nis, bolehkah aku menikahi wanita lain?" tanya Fahmi dan membuat Nisa membulatkan matanya. Namun, sebisa mungkin Nisa bersikap tenang.
"Kenapa Mas menanyakan itu?" tanya Nisa sembari memotong buah.
"Aku ingin menikah lagi," jawab Fahmi walaupun sebenarnya itu hanyalah candaan dan tidak akan terjadi, karena orangtuanya juga pasti tidak akan mengijinkannya.
"Dengan siapa?" tanya Nisa dan kali ini, ia menatap wajah suaminya dengan lekat.
"Pokoknya ada. Apa kamu mengijinkanku untuk menikah lagi?" tanya Fahmi sembari mendekati wajah istrinya sehingga mengikis jarak di antara keduanya.
"Apakah arti pernikahan ini bagi, Mas? Aku tahu, pernikahan kita didasari tanpa adanya cinta di antara kita berdua. Namun, setidaknya Mas bisa menghargai pernikahan ini dan tidak mempermainkannya!" jawab Nisa dan Fahmi hanya diam saja.
"Aku seorang istri dan tidak semua istri bisa menerima dimadu oleh suaminya. Walaupun demikian, laki-laki bisa menikahi wanita lebih dari satu. Akan tetapi, aku tidak bisa sekuat itu. Berbagi suami itu, tidaklah mudah walaupun Mas bisa bersikap adil, tapi aku tetap tidak mau!" tegas Nisa kembali walaupun begitu, ini menyangkut kehidupannya.
"Itu hak aku! Aku mau menikah lagi juga tidak apa, bukan? Lagi pula, kamu tidak mencintaiku. Jadi, untuk apa pernikahan ini masih dipertahankan?" tanya Fahmi dan kini Nisa kembali mengatakan sesuatu.
"Sejak kapan aku mengatakan tidak mencintai suamiku sendiri?" tanya Nisa dan kini Fahmi menjadi bingung sendiri.
"Sejak kita menikah, kamu tidak pernah mengucapkannya, bukan? Begitu pun denganku," jawab Fahmi dan ia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Nisa tersenyum. "Cinta tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata, melainkan tindakan dan perbuatan. Istri berhak atas cinta suaminya begitu pula dengan suaminya yang juga berhak atasnya. Maka dari itu, jangan tanyakan lagi cinta karena aku telah memilih Mas untuk menjadi imamku. Berati aku telah menerima Mas dan mencintai Mas."
Fahmi terdiam, dia tidak bisa mengatakan apa pun lagi selain tertunduk dan menerima malu atas semua perkataannya.
__ADS_1