Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 76. Kegelisahan Fatimah


__ADS_3

Sesampainya Reza di Perusahaan Atmaja Putra setelah melalui perjalanan yang lumayan lama, membuat ia merasa kelelahan. Namun, bagaimana lagi karena masih ada pekerjaan yang harus dibereskan hari ini juga olehnya.


Langkah kakinya yang lebar, mampu membuatnya tidak lambat untuk menemui atasannya. Akan tetapi, ini di luar dugaan saat membuka pintu ruangan Alvian sudah terlihat Almaira di samping suaminya.


"Eh, maaf bos. Saya lupa mengetuk pintu dulu," ucap Reza sedikit tidak enak. Lantas pemuda itupun kembali menutupkan pintunya.


"Jangan ditutup pintunya Reza! Masuk saja ke dalam." Alvian tidak memarahi asistennya, melainkan dia menyuruhnya masuk ke dalam ruangannya kembali.


Dengan begitu Reza pun menuruti perintah dari atasannya dan setelah itu Reza malah berdiri dihadapan Alvian dan Almaira.


"Kenapa berdiri? Duduk saja," ujar Alvian yang terlihat tidak enak melihat asistennya yang kelelahan. Dan Reza pun mengangguk sebagai persetujuan.


"Bagaimana? Sudah memberikannya kan?" tanya Alvian pada asistennya.


"Sudah bos dan tadi Abi Zaenal dengan istrinya sangat berterimakasih kepada bos. Tadi juga mereka menitipkan salam untuk Almaira," tutur Reza dengan sedikit menyunggingkan senyuman manisnya.


"Alhamdulillah, terimakasih yah Reza sudah bantuin saya," ucap Alvian soraya tersenyum lembut kepada asistennya.


"Iya bos, kalau begitu saya kembali ke ruangan ku dulu," ujar Reza yang hendak berdiri dari tempat duduknya. Pemuda itu berdiri setelah mendapatkan anggukan dari atasannya yang mengijinkannya ke luar dari ruangannya.


Setelah kepergian Reza dari ruangan Alvian dengan netra yang tajam Almaira melihat kepada suaminya.


"Mas, apa maksud dari pembicaraan tadi bersama Reza?" tanya Almaira soraya memperlihatkan rasa penasarannya.


"Jangan marah dulu yah, mas tadi hanya menyuruh Reza untuk memberikan sesuatu kepada Abi Zaenal dan mas tidak bisa memberikannya karena banyak pekerjaan jadi mas menyuruh Reza untuk memberikannya," tutur Alvian yang menunjukkan kejujuran di kedua sorot mata tajamnya.


"Apa yang mas kasih kepada abi?" tanya Almaira lagi. Mendengar penjelasan dari Alvian, ternyata membuat Almaira semakin penasaran.


"Kasih tahu enggak yah?" goda Alvian dengan seringai di bibirnya.

__ADS_1


"Mas jangan becanda deh, ini lagi serius." Terlihat kekesalan dari wajah cantik Almaira yang cemberut.


"Iya, mas enggak lagi becanda kok. Sudah yah, jangan ditekuk lagi wajahnya," ucap Alvian dengan memberikan sedikit usapan lembut pada wajah istrinya.


"Terus apa yang mas berikan kepada abi?" tanya Almaira kembali.


"Mas memberikan sedikit uang untuk membantu biayanya pembangunan dan pasilitas Pesantren Ar-Rasyid yang masih belum komplit," ujar Alvian tanpa melibatkan jumlah uang yang ia berikan untuk keperluan pesantren itu.


"Kenapa mas baru mengatakannya sekarang?" tanya Almaira lagi dan lagi.


"Mas baru mau mengatakannya semalam, tapi lupa," ucap Alvian cengengesan. Mungkin karena terlalu ngantuk, membuat Alvian lupa untuk mengatakannya kepada Almaira.


"Ya sudah tidak apa-apa, sekarang Maira sudah tahu jadi Maira sangat berterimakasih mas, atas bantuan mas mungkin bisa membantu abi dalam pembangunan pesantrennya," ucap Almaira penuh dengan ketidak percayaan dan kekaguman terhadap suaminya.


"Sama-sama sayang dan semoga saja bisa sedikit membantu yah," ujar Alvian masih dengan sikap manisnya.


"Hey, jangan berbicara begitu lagi. Mas sudah cukup senang dengan hanya melihatmu tersenyum saja, hati ini sudah berdebar tidak karuan." tutur Alvian diselingi dengan canda dan tawa yang berhasil membuat Almaira kembali tersenyum.


Setelah itu Almaira pulang, dengan diantarkan oleh supir yang tadi mengantarkannya. Mungkin tadinya Alvian berpikir, setelah istrinya mengetahui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan akan marah besar terhadapnya. Akan tetapi, terjadi di luar dugaan dan sekarang Alvian mulai belajar untuk bisa lebih terbuka lagi kepada Almaira karena tidak mau mengulang kembali hal yang serupa.


***


Kediaman Abi Zaenal, tepat di Pesantren Ar-Rasyid. Terlihat seorang wanita yang tengah gelisah, takut dan merasa bersalah tercampur menjadi satu.


Sudah berbagai lontaran kata yang terucap dari mulut sahabat Almaira dengan tujuan menenangkan Fatimah, tapi tidak bisa menghilangkan rasa gelisah di dalam hati Fatimah.


Sekarang ini Fatimah sedang duduk di sofa ruang tamu dengan pikiran yang masih tidak tenang. Namun, Fatimah dikagetkan oleh Ummi Siti yang datang secara tiba-tiba.


"Fatimah, sedang apa di sini?" tanya Ummi Siti dengan mengelus lembut kepada putranya yang tertutup oleh jilbab panjangnya.

__ADS_1


Rasa takutnya membuat Fatimah menyembunyikan tangannya dari penglihatan Umminya. "Emm, Fatimah hanya sedang menonton televisi," jawab Fatimah dengan sedikit gelisah.


"Nongton televisi? Tapi kenapa televisinya enggak nyala?" Ummi Siti dibuat keheranan dengan tingkah putrinya yang sedikit aneh.


"Eh, iya Imah lupa Mi. Televisinya belum dinyalain, baru mau nonton televisi maksud Imah itu Mi," ucap Fatimah cengengesan. Fatimah sungguh kebingungan dan mencari cara untuk membuat Ummi Siti percaya terhadapnya.


"Oh gitu yah, Ummi kira kenapa. Ya sudah Ummi mau menemui Abi dulu di depan." ucap Ummi Siti yang mulai beranjak dari samping Fatimah.


Melihat kepergian Ummi Siti dari sampingnya, membuat Fatimah sangat merasa bersalah. Baru kali ini Fatimah berbohong, tapi bagaimana lagi karena Fatimah belum sanggup mengatakannya kepada Ummi apalagi Abinya.


"Ya Allah, maafkanlah hambamu ini yang telah sengaja berbohong karena rasa takut yang hadir ini" ucap Fatimah di dalam hatinya dengan meminta pengampunan atas kesalahan yang telah ia perbuat.


"Dek, lagi ngapain?" tanya Ilham yang kebetulan baru pulang mengajar santri di pesantren.


"Astaghfirullah, kirain siapa kak." Fatimah terperanjat kaget dengan kedatangan Ilham yang baru menyadari kehadirannya.


"Jangan kaget, perasaan kakak enggak buat adek kaget deh," ujar Ilham yang merasa tidak mengagetkan Fatimah.


"Imah kaget karena tidak sadar dengan kedatangan Kak Ilham," ucap Fatimah dengan sedikit mendongak untuk bisa menatap kakaknya.


"Makanya jangan melamun terus, tidak baik dek." tutur Ilham soraya mencubit gemas hidung Fatimah.


"Aaw, sakit kak," keluh Fatimah di saat Ilham mencubit hidungnya dan gadis itu mengeluh kesakitan sembari mengusap pangkal hidungnya.


"Maaf dek," ucap Ilham dengan tersenyum dan melenggang pergi, setelah puas membuat adiknya cemberut.


Untung saja Ilham langsung pergi dan tidak bertanya-tanya lagi, setidaknya membuat Fatimah lega. Mungkin untuk sekarang Fatimah akan mencari gelang yang hilangnya dulu dan jika masih belum ketemu, maka ia akan berbicara kepada Abi Zaenal untuk meminta maaf karena telah menghilangkan gelang pemberiannya.


Kini Fatimah kembali masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap dan ia akan meminta bantuan kepada Nisa, mungkin temannya itu bisa membantunya mencari gelangnya yang hilang. Bagi Fatimah gelang itu sangatlah berharga dan sulit di terima jika barang itu hilang, apapun barang yang dikasih dengan punuh ketulusan, maka Fatimah akan menjaganya karena pemberian itu sangatlah berharga.

__ADS_1


__ADS_2