
Hari sudah semakin sore, Alvian masih tetap berada di sofa dengan perut yang kosong. Semua itu terjadi karena sikap angkuhnya terhadap Almaira sehingga membuatnya engan untuk meminta bantuan kepada sang istri.
Setelah merasa lebih tenang Almaira mulai memberanikan diri untuk ke luar dari dalam kamar menuju ke dapur untuk memasak makanan. Almaira tahu pasti suaminya sudah sangat lapar. Namun, Alvian terlalu gengsi untuk meminta bantuan kepadanya.
Mencium bau masakan yang dibuat oleh Almaira, membuat rasa lapar yang Alvian rasakan semakin menjadi-jadi. Masakan Almaira memang sangatlah enak untuk di santap, hanya saja Alvian tidak mengakuinya.
Sedari tadi Alvian menahan rasa laparnya. Ingin memasak makanan Alvian tidak bisa melakukannya, hanya ada satu jalan. Yaitu, meminta untuk di masakan makanan kepada Almaira. Namun, Alvian sudah terlanjur gengsi karena tadi telah menolak tawaran dari istrinya.
Tidak kuat dengan rasa laparnya. Alvian mulai berjalan ke arah dapur untuk melihat masakan apa yang dibuat oleh istrinya sehingga membuat Alvian tergiur untuk menyantapnya. Tanpa rasa malu Alvian sudah duduk di kursi tempat makan, menunggu Almaira datang dan membawakan makanannya
Almaira berjalan menghampiri meja makan dengan membawa semangkuk sup ayam yang dia buat, dengan teletan Almaira mengambilkan makanan untuk suaminya dan menyelayaninya dengan sangat baik, seperti suami istri pada umumnya.
Suapan pertama yang Alvian masukkan ke dalam mulutnya terasa begitu enak dan tanpa sadar, Alvian menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya dengan sangat cepat.
"Mas mau tambah lagi nasinya?" tanya Almaira dan Alvian mengangguk sembari memberikan piring kepadanya.
"Aku tahu Mas sangat lapar. Namun, Mas terlalu gengsi untuk memintanya kepadaku," gumam Almaira di dalam hati.
__ADS_1
Alvian memang sudah terbiasa dimanjakan oleh mendiang ibunya sehingga membuat Alvian tidak terbiasa menyiapkan semuanya sendiri, termasuk makanan.
***
Pada malam hari Ayah Ahlan sudah pulang ke rumah dengan di sambut hangat oleh Almaira. "Assalamualaikum," ucap Ayah Ahlan di saat masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarokatuh." Almaira sudah menyambutnya dengan sangat baik.
"Ayah sudah pulang? Gimana lancar pekerjaan di kantor?" tanya Almaira di saat Ayah Ahlan duduk di sofa yang terdapat di ruang tamu.
"Ada di kamar, Yah."
"Kamu temui Alvian, buat suamimu itu lebih tenang. Jangan biarkan dia terus menyendiri," ucap Ayah Ahlan yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Almaira.
"Iya Ayah, Almaira akan temui Mas Alvian di kamar."
Ayah Ahlan mengangguk, mengijinkan menantunya pergi menemui suaminya, kemudian Almaira masuk ke dalam kamarnya dengan membawa segelas susu dan biskuit yang diambilnya, tadi di dapur.
__ADS_1
"Mas, ini Almaira bawakan susu hangat untuk Mas Alvian, di minum ya, nanti keburu dingin."
Alvian menghampiri Almaira dan melontarkan pertanyaan, "Kenapa kamu harus melakukan semua ini?"
"Karena ini kewajiban Almaira untuk melayani Mas," jawab Almaira dengan santainya.
"Dengan semua perlakuan kamu ini membuat aku teringat kepada Ibu," lirih Alvian. Ia terlihat begitu sedih setelah mengucapkan kata 'ibu'.
"Maaf Mas ... aku tidak bermaksud menyakiti hati Mas. Namun, semua ini perlu Almaira lakukan, sebagai seorang istri."
"Kamu tidak perlu repot-repot mengurusi Aku, kita menikah juga karena permintaan ibu," tegas Alvian, mengingatkan akan asal mula pernikahannya dengan Almaira.
"Jangan anggap pernikahan ini hanya sebuah mainan. Semua terjadi karena kehendak Allah SWT, Mas jangan pernah beranggapan pernikahan ini karena permintaan Ibu Mas saja, ini sudah menjadi takdir Allah."
"Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu, sampai kapan pun itu!"
Sakit pasti, dengan sebisa mungkin Almaira harus kuat. Meskipun saat ini, tidak ada rasa cinta di hati Almaira untuk Alvian. Namun, setelah menjadi istri dari Alvian. Almaira akan merasakan sakit ketika mendengar sendiri dari mulut Alvian bahwa suaminya itu tidak akan pernah mencintai dirinya.
__ADS_1