
Tiga hari sudah berlalu, kini hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Dimana seluruh keluarga sangat gembira. Namun, berbeda dengan sang gadis yang masih merana dengan pikirannya.
Hari yang dimana menurut orang pada umumnya sangat berharga, tapi lain halnya bagi Fatimah yang terlihat tidak begitu senang dengan hari ini. Di depan cermin ia memandang pantulan wajahnya yang telah dirias secantik mungkin, bagaikan seorang putri.
Gadis itu sampai tidak percaya dengan penampilannya saat ini. Sejenak ia berpikir, mungkin ini adalah yang terbaik untuknya.
"Ya, aku harus gembira. Hari ini adalah hari yang istimewa bagiku," gumamnya sembari menampilkan senyumannya yang indah sehingga kecantikannya semakin bertambah.
Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar Fatimah. "Fatimah," panggil Ummi Siti kepada putrinya.
"Iya Mi, ada apa?" tanya Fatimah sedang nada yang begitu lembut.
"Sebentar lagi Fahmi dan keluarganya akan datang ke mari. Sebelum itu Ummi mau peluk Imah sebentar," ucap Ummi Siti yang langsung melangkah mendekati Fatimah. Bahkan wajahnya menampakkan kesedihan dan kebahagiaan yang bercampur aduk.
"Iya Ummi," balas Fatimah tidak kalah terharunya dengan sikap Ummi Siti yang membuatnya semakin tersentuh.
Sampai Fatimah beranjak dari duduknya dan berhembur masuk ke dalam pelukan umminya yang begitu hangat. Untuk itu, Ummi Siti semakin mengeratkan pelukannya pada sang putri yang di mana, ia akan segera menjadi seorang istri dari anaknya sahabat Abi Zaenal.
Sepuluh menit kemudian masih belum menemukan tanda-tanda kedatangan calon pengantin pria. Bahkan Abi Zaenal sudah berapa kali menghubungi sahabatnya—Arya, tetapi masih belum ada kabar apapun darinya.
Alvian juga sempat kebingungan dengan hal ini. Mana bisa Fahmi telat di hari pernikahannya? Apalagi sampai tidak datang. Bisa-bisa Abi Zaenal akan sangat malu, dan Fatimah yang akan menanggungnya atas ketidak hadiran calon pengantin pria.
"Bagaimana ini Ustaz? Apa pernikahannya masih mau dilangsungkan?" tanya Pak Penghulu yang sudah lama menunggu kedatangan calon pengantin pria.
"Bisa tunggu sebentar lagi, Pak? Mungkin ada gangguan di jalanannya." Entah bagaimana Abi Zaenal mengatasinya, dan sampai sekarang masih saja belum ada kabar.
"Maaf Pak, saya tidak bisa berlama-lama di sini karena masih ada yang menunggu saya," jawab Pak Penghulu yang masih setia di tempat duduknya.
Belum sempat Abi Zaenal berucap kembali, Ahmad datang menghampirinya dengan mengatakan suatu hal yang lebih penting.
"Bi, tolong minta waktunya sebentar. Ahmad mau mengatakan sesuatu," ucap Ahmad yang di mana raut wajahnya sudah menampakkan kegelisahan yang begitu terpancar.
__ADS_1
Abi Zaenal mengerutkan keningnya. "Baiklah," ucap Abi Zaenal yang sempat keheranan sebentar. Lantas, Ahmad pun segera pergi bersama abinya menuju rumah.
Kini semua terdiam di ruang tamu yang hanya terisi oleh keluarga Abi Zaienal saja. Tidak lupa juga dengan tatapan semua orang yang menatap lekat kepada Ahmad, secara ia ingin menjelaskan.
Ahmad menarik napasnya sejenak untuk menghilangkan rasa kegelisahannya. "Tadi Tuan Arya menelpon dan mengatakan sesuatu,"
"Arya mengatakan apa?" desak Abi Zaenal yang sudah tidak tenang dengan semua yang terjadi.
"Beliau mengatakan bahwa pernikahan putranya dengan Fatimah tidak bisa dilanjutkan karena Fahmi telah memutuskan untuk menikahi wanita lain," jelas Ahmad sembari tertunduk. Kini semua orang nampak kaget dan tidak percaya dengan semua yang telah Ahmad katakan.
"Astaghfirullahaladzim." Abi Zaenal tidak bisa mengatakan apapun lagi, mau marah juga tidak ada gunanya. Sekarang yang dipikirkan adalah bagaimana kelanjutan pernikahan ini?
"Bagaimana bisa Fahmi membatalkan begitu saja?" Ummi Siti mulai tersulut emosi karena tidak terima dengan pembatalan pernikahan putrinya yang secara mendadak.
"Mi, sabar. Sudah biarkanlah dulu, kita cari solusinya bareng-bareng," seru Almaira sembari menenangkan umminya yang mulai emosi.
Ummi Siti yang menyadari itu, langsung saja mengatakan istighfar berulang kali. Dengan itu sedikit menenangkan hatinya sehingga amarahnya sedikit mengurang.
"Apakah pernikahan ini akan tetap dibatalkan?" tanya Ahmad dengan rasa sedihnya.
"Jika dibatalkan, keluarga kita akan sangat malu dan Fatimah akan mendapatkan cibiran dari orang-orang. Akan tetapi, jika pernikahannya tetap dilanjutkan, sangat tidak mungkin." Ahmad kembali angkat bicara, di saat tidak ada orang yang menjawab.
"Pernikahan ini akan tetap terjadi." Suara tegas itu mengalihkan pandangan semuanya orang.
Abi Zaenal yang sebelumnya hanya terdiam, kini menatap lekat kepada laki-laki yang mengatakan penurunannya.
"Siapa yang akan mejadi pengantin prianya" tanya Abi Zaenal yang ingin segera mendapatkan jawaban.
Reza mencoba menstabilkan tubuhnya yang gelisah. "Saya akan menikahi putri Abi," ucapnya dengan penuh keyakinan.
Semua orang yang berada di sana terbelalak, mendengar penuturan Reza yang secara tiba-tiba itu. Bahkan Alvian tidak menyangkanya sama sekali, seakan apa yang asistennya ucapkan itu hanya candaan.
__ADS_1
"Apa Nak Reza sudah yakin, ingin menikahi putri Abi?" tanya Abi Zaenal, kembali dengan wajah seriusnya.
"Insya Allah, saya sudah yakin." Reza mengatakan hal yang sebenarnya mendapatkan keraguan dari keluarga Abi Zaenal.
"Baiklah ... mari kita kembali untuk melakukan ijab qabul." Dengan begitu mudah Abi Zaenal menerima Reza, bahkan anak-anaknya sampai tidak percaya.
Jantung Reza berdetak begitu kencang setelah mendengar keputusan Abi Zaenal, antara percaya dan tidak percaya karena ini adalah sebuah keajaiban menurutnya.
Reza hanya mengangguk setelah ia terdiam sebentar. Detik kemudian, mereka semua sudah berada di masjid yang masih berada di kawasan Pesantren Ar-Rasyid.
Semua orang yang mengenal calon Fatimah, menatap heran kepada mempelai pria yang telah diganti. Untuk itu, Reza tidak memper masalahkannya, sekarang ia hanya fokus meredakan kegugupannya.
"Gimana? Calon mempelai prianya sudah siap?" tanya penghulu yang pasti tahu ketegangan Reza saat ini.
"Bismillah. Saya siap, Pak."
"Baiklah, kita mulai ijab qobulnya sekarang."
Abi Zaenal mulai menjabat tangan Reza, sebagai seorang wali dari perempuan. Detik kemudian Reza mengucapakan ijab qobul dengan sangat lancar, kegugupannya pun hilang setelah mengucapkan janji suci di hadapan para saksi yang datang.
"Alhamdulillah," ucap semua orang yang menyaksikan akad nikah tersebut.
Perlahan Fatimah berjalan menghampiri Reza yang kini telah resmi menyandang status sebagai suaminya. Gugup, yah ini yang dirasakan kedua mempelai baru. Meskipun begitu, Fatimah tetap mencium tangan suaminya.
Dengan sedikit keberaniannya, Reza juga mendaratkan kecupan dipucuk kepala sang istri dengan sangat lembut, sembari mengucapkan doa.
“Allahumma baarikli fi ahli wa baarik li-ahli fiyya warzuqhum minni warzuqniy minhum.” Yang artinya: “Ya Allah ya Tuhan, berkahilah aku dalam permasalahan keluargaku.
Kejadian yang tak terduga, kini dirasakan oleh Fatimah. Seorang pemuda tampan dengan iris mata yang tajam, dialah yang bersanding di pelaminan bersamanya. Laki-laki yang tiga hari memberikan sepenggal kertas, menentukan jalan takdirnya.
Inilah indahnya mencintai dalam diam. Bukan lagi kata-kata manis, bukan pula janji yang tak pasti, dan bukan pula cinta sejati. Melainkan janji suci yang membuktikan semuanya.
__ADS_1