Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 34. Kemarahan Alvian


__ADS_3

Di saat Almaira menunggu jemputan yang tidak lain adalah suaminya, tiba-tiba saja seorang laki-laki datang menghampirinya.


"Assalamualaikum," ucap laki-laki itu memberi salam.


Almaira tertegun dengan suara yang menyapanya. Namun, Almaira tetap menjawab salam darinya dengan wajah yang menunduk. "Wa'alaikumsalam."


"Kamu sedang menunggu siapa Almaira, para dokter lain sudah lebih dulu pulang. Kenapa kamu masih belum pulang?" tanyanya kepada Almaira.


"Aku sedang menunggu seseorang," jawab Almaira pelan.


Nampak laki-laki itu terlihat mengerutkan keningnya. "Apakah dia sangat berarti dalam hidupmu?" Lagi-lagi pria itu menanyakan hal yang tidak penting baginya.


Almaira beranjak dari duduknya. "Maaf, itu urusan pribadi! Kakak tidak perlu mengetahuinya."


Terlihat Almaira hendak berjalan meninggalkan pria itu yang tidak lain, ialah Dokter Aditya. Pria yang pernah datang di masa lalu Almaira.

__ADS_1


Tidak saja Dokter Aditya malah menarik tangan Almaira, dan membuatnya kembali berhadapan dengan pria tersebut.


"Apa kamu sudah sepenuhnya melupakanku?" Dokter Aditya bertanya dengan sorot mata yang tertuju kepada Almaira.


Almaira yang kaget berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Aditya, tapi sayang, Almaira sulit melepaskan tangannya karena Aditya malah menggenggam erat tangan Almaira.


"Aku tidak lupa kepadamu. Jadi, tolong lepaskan tanganku!" Almaira bersikap lembut supaya Aditya bisa melepaskan tangannya.


Pria itu tersenyum dan melepaskan tangan Almaira, tapi kejadian di luar dugaan yang membuat Aditya dengan lancangnya, memeluk tubuh Almaira.


Di saat itu pula Alvian sudah sampai di Rumah Sakit Surya Jaya, dan mulai berjalan menghampiri istrinya. Namun, tepat di pintu masuk. Alvian melihat dengan jelas, istrinya itu sedang berpelukan dengan pria lain. Apa yang dilihatnya sangatlah menyakitkan.


Alvian dengan marahnya, pergi meninggalkan Almaira, sedangkan Almaira terlihat berteriak memanggil namanya. "Mas Alvian"


Suara Almaira juga terdengar sangat keras, tapi Alvian tidak sama sekali berbalik menatapnya. Dengan sekuat tenaga, Almaira mendorong tubuh Aditya dengan sangat keras.

__ADS_1


"Maaf, aku mempunyai urusan yang sangat penting!" tegas Almaira dan kemudian berlari mengejar Alvian yang terlihat sudah pergi jauh darinya.


"Mas tunggu Almaira!" Alvian malah menghiraukan teriakan Almaira karena saking marahnya, ia terus berjalan.


Melihat suaminya yang terlihat sangat marah, sampai-sampai menghiraukan teriakannya membuat Almaira berlari dengan sangat kencang, dan langsung memeluk tubuh suaminya dari arah belakang.


"Mas jangan tinggalkan Almaira di sini," lirih Almaira dengan memeluk erat tubuh suaminya.


Alvian yang masih sangat marah, tanpa ragu melepaskan tangan istrinya yang melingkar di perutnya.


"Sekarang kamu cepat masuk ke dalam mobi!" titahnya.


Meski dalam keadaan marah, tetapi Alvian masih memiliki hati nurani dengan tidak membiarkan istrinya pulang sendirian.


Dengan buru-buru, Almaira berlari pelan untuk masuk ke dalam mobil suaminya. Alvian langsung mengikutinya masuk ke dalam mobil dan mengambil kursi kemudi, kemudian melajukan mobilnya dengan sangat cepat.

__ADS_1


Almaira menatap wajah suaminya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca, karena telah membuat suaminya marah, itu sangat ah sakit dan termasuk perbuatan yang sulit untuk di maafkan.


Di dalam mobil tidak ada sepatah kata pun, Almaira juga tidak melakukannya karena takut suaminya menjadi sangat marah lagi. Lebih memilih menjelaskannya di rumah secara pribadi, setelah Alvian mulai merasa lebih tenang.


__ADS_2