
Tidak lama dari itu, Widia mengetuk pintu kamar putranya. Dengan begitu, Nisa langsung saja membuka pintu kamar dan mendapatkan ibu mertuanya yang tengah berdiri sembari menatapnya.
"Nisa, ajak suami kamu. Kita makan bersama dulu, Mamih sudah siapin makanan yang enak untuk kamu," ucap Widia soraya tersenyum lembut kepada menantunya.
Lantas Nisa pun menuruti perkataan ibu mertuanya dan kembali menghampiri suaminya yang masih berada di dalam kamar, sedangkan Widia kembali ke bawah untuk menemui suaminya yang juga akan ikut makan bersama.
"Mas, kata Mamih makan dulu," ucap Nisa yang hanya mendapatkan anggukan kepala saja dari suaminya.
Dengan begitu, Fahmi dan istrinya langsung saja ke luar dari kamarnya dan menemui keluarga untuk makan bersama. Setelah mereka berdua sampai di meja makan, Widia dengan ramahnya menyambut menantu dan juga putranya.
Walaupun demikian, Nisa baru saja mengenal kedua orang tuanya Fahmi, tapi ia tidak begitu ragu seperti orang pada umumnya. Dengan keberaniannya, Nisa menyiapkan makanan untuk suaminya, layaknya seorang istri yang berbakti kepada suaminya.
Melihat cara Nisa yang begitu baik dan menerima Fahmi dengan apa adanya, tanpa mempermasalahkan putranya yang begitu keras kepala. Widia yang merupakan ibu dari Fahmi, merasa sangat beruntung mendapatkan menantu seperti Nisa walaupun sebelumnya, ia sempat tidak yakin dengan Nisa karena Widia pikir Nisa tidak akan bisa menerima Fahmi karena telah meninggalkan pernikahannya dengan Fatimah dan melamarnya secara dadakan.
Namun, di sisi lain. Widia merasa tidak enak kepada Fatimah yang telah gagal menikah dengan putranya dan secara tidak langsung, keluarga Fatimah akan sangat malu karena pernikahannya tidak berlangsung sesuai harapan.
"Mih, kenapa melamun?" tanya Tuan Arya yang menyadari istrinya hanya diam.
"Enggak kok, Yah. Baiklah, kita lanjutkan lagi makanya," ucap Widia sembari tersenyum. Dengan begitu, Tuan Arya pun percaya begitu saja dan melanjutkan makannya bersama dengan putra dan menantunya.
Untuk saat ini, kedua orang tua Fahmi belum bisa yakin sepenuhnya bahwa Nisa akan bisa kuat dan bertahan dengan sikap putranya yang begitu keras kepala. Namun, tanpa disadari olehnya, putranya telah mengambil jalannya sendiri untuk mengubah dirinya.
Susana makan siang bersama, terlihat begitu hening dan hanya suara detuman sendok yang mengenai piring sehingga menghasilkan suara yang terdengar tidak begitu keras. Walaupun begitu, adab masih diterapkan oleh Keluarga Wirahmana.
***
__ADS_1
Sudah satu minggu lebih, Reza tidak masuk ke kantor dan Alvian tidak marah karena Reza telah mengambil cuti yang belum sempat diambil olehnya. Bukan karena itu saja, Alvian juga memaklumi asistennya itu, karena ini adalah saat-saat romantisnya pasangan yang baru saja merasakan manisnya masa pengantin baru.
Sebelum itu, Alvian tidak akan memaksa Reza untuk masuk kantor dengan cepat karena mau bagaimanapun, Reza sudah sangat membantunya selama ini dan Alvian sudah mengangap Reza sebagai seorang adik, bukan lagi teman.
Karena itu, Alvian hanya bisa mengerjakan pekerjaannya sendiri dan tetap membagi waktunya untuk Almaira—istrinya yang tengah mengandung buah cintanya.
Tepat di hari ini, Almaira ada jadwal kontrol pertama ke rumah sakit. Maka dari itu, Alvian akan menemani istrinya untuk memeriksakan kandungannya ke Rumah Sakit Surya Jaya. Walaupun demikian, istrinya itu masih hamil muda, tapi Alvian kekeh untuk tetap menemani istrinya di sela pekerjaannya yang begitu banyak.
Seperti pada saat ini, Alvian tetap keras kepala untuk menemani istrinya walaupun Almaira sudah mengatakan, tidak apa jika Alvian tidak menemaninya juga. Akan tetapi, suaminya itu tidak mendengarkan perkataannya dan akhirnya Almaira menuruti kemauan Alvian.
"Mas, apa tidak mengapa jika Mas menemani Maira?" ucap Almaira, saat berada di dalam mobil.
Alvian hanya tersenyum melihat kecemasan yang terpancar dari wajah istrinya. "Tidak apa, kamu jangan khawatir. Mas bisa mengatasinya."
"Tapi, Mas ...," ucap Almaira yang lebih dulu dipotong oleh suaminya.
Dengan perbuatan suaminya itu, mampu membuat Almaira menerbitkan senyuman indahnya. Mau dalam keadaan apapun, suaminya tetap perhatikan kepadanya. Oleh karena itu, Almaira menjadi semakin mencintai ayah dari anak yang masih dikandungnya itu, begitu pun sebaliknya.
Tanpa terasa, mereka berdua telah sampai di rumah sakit dan keduanya pun berjalan memasuki Rumah Sakit Surya Jaya yang di mana, Almaira juga bekerja di sana.
Di sepanjang lorong jalan yang pasangan suami istri itu lewati, tanpa disadari oleh keduanya, kedatangannya dapat memikat perhatian semua orang yang berada di sana. Ada yang melihatnya dengan kagum dan ada juga yang melihatnya dengan rasa iri. Wajar bila itu terjadi karena di sepanjang jalan, Alvian tidak pernah mau melepaskan genggaman tangannya dari tangan istrinya.
"Maira," ucap Linda di saat melihat Almaira datang kembali ke rumah sakit setelah mengambil cuti yang cukup lama, dan ia tidak mengetahui penyebabnya.
Almaira mencari pemilik suara tersebut dan pada akhirnya, ia melihat Linda yang baru saja ke luar dari dalam ruangannya. Dengan begitu, segera Almaira dan Alvian menghampiri Linda yang berdiri kebingungan melihat sahabatnya yang datang bersama seorang laki-laki yang menurutnya sangat tampan.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Lin." Almaira menghampiri sahabatnya yang hanya diam sembari menatapnya kebingungan.
"Wa'alaikumsalam, Maira kamu datang ke mari dengan siapa?" tanya Linda tanpa basa-basi lagi, langsung ke intinya saja.
"S--sama, emm ...." Almaira tidak melanjutkan kembali ucapanya dan hanya melirik suaminya, setelah itu Alvian menganggukkan kepalanya supaya Almaira lebih tenang.
"Perkenalkan, ini suami Maira," ucap Almaira kepada Linda yang terlihat tidak percaya.
"Su--suami? Benarkah?" Linda terlihat begitu kaget sekaligus tidak percaya.
"Iya, maaf, Lin. Aku baru mengenalkannya kepadamu," lirih Almaira, dia terlihat begitu bersalah terhadap sahabatnya.
"Tidak papa," balas Linda yang kini sudah lebih tenang dari sebelumnya.
Sebelumnya, Almaira sudah menceritakan tentang pernikahannya kepadanya, tapi Linda masih belum percaya bahwa suami yang Almaira maksud itu Alvian—pengusaha muda dan sudah banyak orang yang mengenal dirinya, di antaranya Linda.
"Ada perlu apa Maira ke mari? Bukanya kamu masih mengambil cuti?" tanya Linda yang penasaran dengan kedatangan Almaira bersama suaminya ke rumah sakit.
"Aku ingin priksa kandungan sama kamu," ucap Almaira dengan sedikit malu, sedangkan Alvian hanya tersenyum saja melihat interaksi antara istrinya dengan Dokter Linda.
"Apa? Maira, kamu hamil?" Linda dibuat kaget sekaligus senang karena sahabatnya mendapatkan kepercayaan dengan begitu cepat.
"Iya, tapi jangan teriak-teriak! Nanti semua orang di sini bisa tahu," protes Almaira yang tidak menyukai jika Linda berbicara begitu. Bagaimanapun, ini adalah tempat umum dan bisa saja orang lain mendengarnya.
"Maaf, Maira. Aku tidak sengaja," ucap Linda dengan cengengesan, kemudian ia kembali serius dan bekerja profesional dengan kembali ke perkejaannya sebagai dokter kandungan. "Mari masuk ke dalam ruangan saya."
__ADS_1
Ingin sekali Almaira tertawa, tapi sangat tidak mungkin karena Linda sedang memenuhi pekerjaannya yang harus menyambut pasiennya dengan sangat baik. Lantas, Almaira dan Alvian pun segera masuk ke dalam ruangan Linda.