
Setelah Fatimah dan Reza selesai memeriksakan dirinya di rumah sakit, ia terlihat sangat senang dan secara kebetulan, Fatimah bertemu dengan kakaknya—Almaira.
"Dek," panggil Almaira yang lebih dulu memangilnya karena tidak sengaja bertemu, dan ia pun sangat heran.
Lantas Fatimah pun melihat ke arahnya. "Kak Almaira," ucap Fatimah dengan sangat bahagia.
Dengan begitu, Almaira dan Alvian pun menghampiri mereka berdua. Perut Almaira juga sudah terlihat membesar, seiring dengan berjalannya hari dan bulan.
"Dek, sedang apa di sini?" tanya Almaira lebih dulu.
Fatimah tersenyum. "Baru saja Adek mendapatkan kabar bahagia, Kak."
"Kabar apa itu, Dek?" tanya Almaira yang sudah sangat penasaran.
"Fatimah hamil, Kak," ucap Fatimah sembari tersenyum senang.
"Alhamdulillah, Dek. Akhirnya kamu juga hamil. Kakak sangat bahagia mendengarnya," ujar Almaira sembari memeluk tubuh Fatimah dari samping.
"Iya, Kak. Fatimah juga sangat bahagia dengan kehamilan ini. Emm, Kakak ke sini mau apa?" tanya Fatimah karena tidak mungkin Almaira bekerja dalam keadaan sedang hamil besar.
"Mau cek kandungan, seperti biasa, Dek."
"Oh gitu, semoga sehat terus ya, Dedek bayinya di dalam," ucap Fatimah sembari mengelus perut Almaira.
Almaira tersenyum melihatnya. "Adek juga harus sehat, apalagi sekarang sudah ada keponakan Kakak yang sedang tumbuh di sini," ucap Almaira sembari mengusap perut Fatimah.
"Iya, Kak. Itu sudah pasti," balas Fatimah soraya melihat kepada suaminya yang masih tersenyum bahagia.
"Kalau begitu, Fatimah pulang dulu ya, Kak." Fatimah dan Reza akan segera pergi dari rumah sakit itu.
"Iya, Dek. Hati-hati yah, Kakak juga tidak akan lama di sini," ujar Almaira dan mereka pun kembali kepada tujuannya masing-masing.
***
__ADS_1
Dua jam sudah berlalu, dan kini Almaira bersama dengan suaminya akan segera pulang ke rumahnya. Namun, di saat mengedari mobil, Alvian mengalami kendala di mobilnya, rem mobilnya blong dan ia menjadi panik.
"Sayang, rem mobilnya blong. Bagaimana ini?" ujar Alvian dengan wajah yang sudah bercucuran keringat sebiji jagung di pelipisnya.
"Apa, Mas? Rem mobilnya blong?" tanya Almaira yang nampak sangat kaget.
"Iya, sayang." Alvian masih fokus menyetir dengan keadaan yang sangat panik.
"Mas, jangan panik yah. Harus tenang, sambil berdoa kepada Allah Subhanahu Wata'ala," ucap Almaira walaupun dirinya juga sudah sangat gelisah.
Terbersit kembali, kejadian satu tahun yang lalu. Di mana kecelakaan pernah terjadi, tepat pada malam hari dan mengakibatkan ibunya meninggal dunia. Kejadian itu sangat tragis dan sampai sekarang, Alvian belum bisa melupakannya.
Bahkan pada saat itu, Alvian yang mengendarai mobilnya. Namun, perbedaannya dengan sekarang adalah karena ada penyebabnya. Dulu itu murni keteledorannya yang tidak fokus menyetir mobiln, tapi lain halnya dengan sekarang.
Yang jadi penyebabnya sekarang karena rem mobilnya blong, sehingga kepanikan dan trauma yang Alvian alami dulu kembali lagi, dan bayang-bayangannya berhasil menghantui pikirannya.
Maka dari itu, Alvian tidak bisa mengendalikan dirinya karena rasa takut itu kembali lagi. Apalagi, ia tidak mau kembali kehilangan seseorang yang dicintainya lagi.
Dengan sekuat tenaga, Alvian mengatur kepanikan dan ketegangan yang dialami olehnya, karena sekarang yang ada dipikirannya hanya keselamatan untuk Almaira dan calon bayinya yang tidak akan lama lagi akan lahir.
Begitu pula dengan Alvian, di sela-sela kepanikannya. Ia terus mengucapkan doa di dalam hatinya supaya terhindar dari hal yang buruk, dan bisa selamat dari mara bahaya yang sedang dihadapinya.
"Mas, di depan sana ada tumpukan pasir. Dengan begitu, mobil ini tidak akan melanju tampa arah lagi, dan akan berhenti karena jalannya terhalang," ucap Almaira yang menemukan cara untuk menghentikan laju mobilnya yang sudah sulit untuk suaminya kendalikan.
"Iya, sayang." Alvian pun langsung mengarahkan mobilnya kepada tumpukan pasir itu.
Mobil itu pun terhenti seketika, setelah berhasil mengarahkannya ke tumpukan pasir tersebut. Dan untungnya, tidak terjadi korban jiwa.
"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Alvian dengan panik sembari memeriksa tubuh istrinya, karena takut terjadi sesuatu kepada istrinya.
"Alhamdulillah, tidak papa, Mas. Mas ...," jawab Almaira yang langsung mendapatkan pelukan dari suaminya.
"Alhamdulillah, sayang. Mas sangat mengkhawatirkanmu, sampai Mas sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi jika kamu kenapa-kenapa," ucap Alvian dengan perasaan yang sangat lega.
__ADS_1
Almaira tersenyum. "Selama kita tenang dan meminta pertolongan kepada Allah, Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa," ucap Almaira. sembari menatap wajah suaminya yang sudah lebih tenang.
"Mas, tidak bisa membayangkan kalau kejadian satu tahun yang lalu kembali terulang," lirih Alvian sembari memeluk tubuh istrinya dengan punuh cinta.
"Mas, tidak perlu khawatir. Bersyukurlah kepada Allah Subhanahu Wata'ala, dia yang telah menyelamatkan kita dari musibah ini," ucap Almaira dan ia juga menemukan ketulusan, di dalam diri Alvian yang sangat terpancar.
Alvian pun mencium perut Almaira yang sudah membesar. "Kamu tidak apa-apa, kan, Nak? Maafkan Abimu ini yang sudah teledor," keluh Alvian sembari mengelus perut Almaira.
Melihat khawatiran suaminya itu, sudah sangat membuatnya terharu, dan ia pun mengusap rambut suaminya. Apa yang dilakukannya itu, berhasil membuat Alvian kembali menatap kepada istrinya. Lantas, ia pun langsung menghujani Almaira dengan kecupan yang bertubi-tubi di pucuk keningnya.
"Tok, tok, tok. Kalian tidak apa-apa, kan?" Salah satu warga di sana mengetuk kaca mobil Alvian.
Suara itu mengagetkan Alvian dan Almaira, lantas mereka berdua pun langsung menatap ke kaca mobilnya, dan sudah nampak banyak warga yang menunggunya di luar.
Dengan begitu, Alvian pun segera membuka mobilnya dan berputar arah untuk membuka pintu mobil yang satunya lagi. Setelah itu, keluarlah Almaira dari dalam mobil bersama dengan Alvian.
"Mas, tidak terluka, kan? Bagaimana dengan istrinya?" tanya salah satu warga yang sangat mengkhawatirkan mereka.
"Alhamdulillah, kami baik-baik saja," jawab Alvian sembari tersenyum lembut.
"Tidak ada luka, kan? Itu, kandungan istri Mas. Baik-baik saja, kan?" Salah satu warga itu bertanya karena melihat perut Almaira yang membuncit, dan mereka bisa menyimpulkan bahwa Almaira sedang mengandung.
"Alhamdulillah, istri dan calon anakku baik-baik saja," jawab kembali Alvian.
Setelah mendapatkan jawaban dari Alvian, barulah mereka percaya dan sangat lega, karena tidak terjadi apa-apa kepada korban.
"Kalau begitu, Mas sama istrinya duduk dulu di warung sana, sembari menegangkan diri dulu. Urusan mobil, biar saya dan yang lainya periksa. Saya juga akan hubungi dulu tukang bekel terdekat di sini," ujar warga yang tinggal di tempat itu.
"Baiklah, Pak. Terima kasih yah, dan maaf sekali, kami merepotkan kalian," ucap Alvian dan mereka pun langsung singgah dulu di warung yang tidak jauh dari tempat kejadian.
.
.
__ADS_1
.
Assalamualaikum.