
Satu minggu sudah berlalu, kini tinggal satu minggu lagi acara pernikahan Fatimah dan Fahmi akan dilangsungkan. Akan tetapi, Fatimah masih meragukan calon suaminya itu. Entah kenapa, ada keganjalan dari dalam hatinya.
"Fatimah, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Nisa yang secara tiba-tiba, sehingga membuat gadis bernama Fatimah itu kaget.
"E--engak ada yang Imah pikiran, Nis." Dari cara bicaranya sudah terlihat jelas keraguan yang menyelimuti dirinya, sehingga Nisa mencurigainya.
"Jangan bohong! Kalau ada masalah, ceritakan saja sama Nisa," ucap Nisa yang begitu pengertian terhadap Fatimah.
Fatimah tidak bisa mengatakan apapun, dia hanya menyimpan masalahnya sendiri dan berhembur masuk kedalam dekapan Nisa ... sang sahabat.
Dengan senang hati, Nisa menyambut Fatimah dengan pelukan hangatnya serta mengusap punggung gadis itu. Seakan dia tahu persis, apa yang sedang Fatimah rasakan.
"Yang kuat yah, Imah. Aku tahu, kamu pasti bisa melewatinya dan ingatlah. Allah SWT tidak akan pernah memberikan ujian yang berat kepada hambanya, melebihi batas kemampuannya." Nisa mencoba memberikan pencerahan kepada Fatimah, supaya gadis itu lebih kuat menghadapi masalah yang diterimanya.
"Iya ... insya allah, Imah bisa melewatinya. Terimakasih Nis," ucap Fatimah sembari melerai pelukannya dari Nisa dan tersenyum ... seakan menguatkan diri.
***
Seorang pemuda tampan yang nyaris sempurna ini, terlihat tidak bersemangat sekali. Kini dia tengah menemukan jawaban dari semua mimpinya.
Tanpa disadari senyuman indah tercipta dari sudut wajahnya. Inikah yang dinamakan bahagia di atas mimipi yang cuman hanya bunga tidur? Entahlah yang pasti sekarang ia tengah mengagumi seseorang.
"Gadis itu. Apakah dia pemilik gelang berinisial f itu? Apakah dia juga yang hinggap setiap malam di mimipiku?" Reza mulai menggila dengan semua pertanyaannya yang begitu banyak.
__ADS_1
Dari seminggu ini Reza sudah mencoba meminta pertolongan kepada Yang Maha Esa, supaya diberikan petunjuk atas mimipinya yang entah kenapa, begitu menghantuinya.
Pertama wajah gadis itu membelakangi Reza, malam kedua wajah gadis itu, ditertutupi dengan cahaya yang begitu terang sehingga membuat Reza kesulitan untuk melihatnya dan di malam ketiga gadis itu memperlihatkan tangannya yang terdapat sebuah gelang dan tidak salah lagi, gelang itu berinisial f dan sama persis seperti gelang tangan yang Reza temukan di Pondok Pesantren Ar-Rasyid.
Dari ketiga petunjuk itu, Reza bisa mengartikan bahwasanya gelang itu dan gadis yang hadir dimimpikannya setiap malam adalah orang yang sama.
Reza mengambil gelang tangan yang berinisial f itu, dari dalam laci. Kemudian ia menatapnya dengan sangat dalam. "Kenapa kamu begitu misterius sih, sampai-sampai kamu hadir di mimipiku setiap malam?" gumamnya yang begitu penasaran dengan sosok gadis pemilik gelang berinisial f itu.
"Jika aku mengetahui siapa kamu, aku akan datang menemui mu untuk memberikan gelang ini kepada mu ... wahai gadis pembawa rindu," lanjut Reza dengan senyuman manisnya yang tidak pernah pudar dari wajah tampannya.
Laki-laki itu begitu menjaga barang temuannya, bahkan sudah berniat memberikannya pada pemilik gelang tangan tersebut. Mungkin karena tekadnya yang membuatnya diselimuti mimipi yang begitu manis.
Berkat mimipi itu, Reza lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta alam semesta. Meminta petunjuknya atas semua yang ia alami dan lebih memantaskan diri dari sebelumnya.
***
Begitu pula sekarang, Alvian terlihat memanjakan sang istri dengan berbagai buah-buahan yang baik untuk kandungan.
"Sayang, dimakan dulu itu buahnya. Bukanya kamu sangat suka dengan buah naga?" tawar Alvian pada sang istri yang tidak pernah lepas dari sampingnya.
Almaira tersenyum dengan semua perhatian yang suaminya berikan, bahkan selama satu minggu ini, Alvian tidak pernah lupa memerhatikan kodisinya setiap hari. Tidak pernah telat memberikan kabar dan makanannya pun Alvian sangat memerhatikan nya. Kalau begini, bukan Alvian namanya. Biasanya ia selalu cuek tetapi lihatlah sekarang, ia begitu perhatian.
"Iya ... tetapi mas juga harus makan yah. Maira lihat, dari tadi pagi mas belum sempat memakan makanan apapun," ucap Almaira yang masih ingat dengan kewajibannya sebagai seorang istri yang harus memerhatikan kesehatan suaminya.
__ADS_1
Alvian terdiam sejenak. "Iya, mas mau makan jika itu kemauan mu, sayang." Akhirnya Alvian mau makan, itu juga setelah Almaira membujuknya.
Almaira menyodorkan buah naga kepada suaminya dan Alvian menurut saja. Dilanjutkan dengan Alvian yang memberikan sang istri buah kesukaannya. Tidak heran jika Alvian menerima suapan buah naga dari Almaira karena ia pun sangat menyukainya ... mereka menyukai buah yang sama.
"Sekarang adek bayi udah kenyang kan? Kalau begitu, jangan susahin Ummi yah. Kasihan kalau Ummi harus bulak balik ke kamar mandi," tutur Alvian yang diselingi dengan gelak tawa dari keduanya. Tidak lupa juga, pria yang akan menjadi ayah itu, mengusap perut sang istri yang terlihat masih rata.
"Abinya juga jangan terlalu memanjakan Ummi. Nanti, Ummi bisa ngelunjak loh," ucap Almaira yang suaranya dibuat imut. Dan Alvian tertawa melihatnya, tidak cukup di sana. Alvian juga ikut membalas sang istri dengan caranya.
"Kalau Abi tidak manjain Ummi, bisa-bisa bibir Ummi moyong kayak ayam. Jadi, Abi harus bagaimana," balas Alvian yang tidak kalah membuat Almaira tersenyum bahkan tertawa, sekalipun.
"Abi harus pandai membagi waktu, jangan sampai kesahatan Abi menurun karena terlalu memanjakan Ummi. Nanti, kalau Abi sakit. Siapa yang jaga Ummi sama dede bayi?" tanya Almaira soraya mencubit pelan pipi suaminya.
Lantas Alvian, dibuat tersenyum kembali. "Iya, Abi akan jaga kesehatan supaya Ummi sama dede bayi di dalam tidak kurang kasih sayang dari Abi," jawab Alvian yang sudah begitu gemas dengan sikap istrinya.
"Oke, terimakasih, Abi." Almaira membalasnya dengan tersenyum lembut yang mampu membuat Alvian terpana, bahkan dari pertama kali melihatnya.
"Sama-sama, Ummi cantik," jawab Alvian yang tidak hanya tersenyum tetapi, ia malah mencium pucuk kepala istrinya.
Almaira dan Alvian sudah memutuskan panggilan untuk anaknya nanti, mereka sudah sepakat dengan sebutan Ummi dan Abi karena Almaira sangat menginginkannya. Untuk itu, Alvian sangat berusaha sebaik mungkin untuk menjadi seorang Abi yang baik bagi anak-anaknya, kelak.
Supaya kelak, anak-anak mereka bisa tumbuh dengan didikan yang baik dari Abi dan Umminya yang begitu menyayanginya. Tidak lupa juga dengan Akhlakul Karimah yang nantinya akan mereka ajarkan kepada anak-anaknya.
Apa itu Akhlakul Karimah? Akhlakul Karimah adalah akhlak yang baik dan terpuji, ada juga arti lain yang menyatakannya dengan akhlak yang mulia. Orang yang mulia akan lebih rendah hati atau disebut juga tawadhu karena ia menetapkan dirinya sendiri, lebih rendah di hadapan Allah SWT.
__ADS_1