
Pada pukul dua malam, Almaira terbangun merasakan perutnya yang sangat lapar.
"Astaghfirullah, perutku sakit!" rintih Almaira.
Alvian yang berada di sampingnya pun ikut terbangun karena suaranya. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Alvian sedikit mengkhawatirkannya.
Yang ditanya hanya diam saja, dengan terus memegangi perutnya. Alvian lantas melihat penyebab istrinya sampai kesakitan seperti itu.
"Perut kamu sakit? Jujur sama Mas! Sayang kamu belum makan?"
Almaira hanya mengangguk. "Maaf Mas, Maira belum makan apa pun dari semalam, tadinya Maira mau makan setelah Mas pulang," lirihnya.
"Pantesan kamu sampai lapar begini, sekarang kita ke dapur dulu. Sesuai dengan keinginanmu sayang, Mas akan makan bersamamu."
Alvian menuntun Almaira untuk berjalan ke bawah, dan sesampainya mereka di dapur ternyata telah tersaji banyak makanan di atas meja. Namun semuanya sudah pada dingin, karena Almaira memasaknya sedari jam delapan malam.
"Sayang apa kamu yang masak semua ini?" tanya Alvian sedikit tidak percaya.
"Iya Mas, tapi makanannya sekarang sudah pada dingin. Maira panaskan dulu ya Mas." Almaira hendak berjalan ke depan untuk memanaskan makanannya.
"Jangan sayang! Kamu duduk di sini saja ya, biar Mas yang akan panaskan."
"Apa Mas bisa?" tanya Almaira tidak yakin bahwa suaminya itu bisa melakukannya.
"Kalau yang beginian Mas masih bisa, jangan khawatir ya sayang."
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain, Almaira menuruti permintaan suaminya untuk duduk manis sambil menunggu makanan yang nantinya Alvian berikan.
Lima menit kemudian, Alvian kembali dengan membawa makanan panas untuk dirinya dan Almaira.
"Sayang, sekarang kita bisa makan," ucap Alvian senang.
Namun, di saat Alvian ingin memasukkan makanan ke dalam mulutnya malah terhenti karena suara Almaira.
"Tunggu dulu Mas! Kita baca doa sebelum makan dulu."
Alvian nampak mengerutkan keningnya. "Eh maaf, Mas lupa," ucap Alvian sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mas yang pimpin ya," kata Almaira dan wajah Alvian tiba-tiba saja menjadi pucat pasi.
"Kenapa?"
"Emm, Mas lupa doanya gimana, sudah lama Mas tidak pake doa itu," jawab Alvian jujur, wajahnya juga sudah terlihat sangat malu.
Senyuman manis tercipta dari wajah Almaira. "Ya udah, sekarang Mas ikutin ucapan Maira ya."
"Loh sayang, kepada kamu enggak marah sama Mas?" Alvian nampak heran melihat reaksi Almaira setelah mengetahui jawabannya.
"Kenapa mesti marah? Mas kan enggak buat kesalahan."
"Mas kan gak bisa baca doanya," lirih Alvian sembari tertunduk malu.
__ADS_1
"Tidak masalah, Mas masih bisa belajar sedikit demi sedikit, nanti Mas juga akan bisa kok." Almaira tersenyum dan itu membuat Alvian kembali bahagia.
"Sayang, kamu enggak malu punya suami tidak paham agama seperti Mas?"
"Kenapa mesti malu, tidak ada yang kurang dari Mas, Mas hanya perlu belajar. Sekarang Mas tiru saja kata Maira ya."
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya.
Alvian mengucapkan apa yang Almaira ucapkan.
"Allahuma Barik Lana Pima Rojak'tana Wakina Ada'bannar. Aaminn."
Dengan perlahan, Alvian menuruti setiap kata yang Almaira ucapkan walaupun sedikit kaku.
"Ayo Mas, sekarang kita bisa makan."
Alvian tersenyum, dengan mengambil nasi dan memberikannya kepada Almaira. "Tolong buka mulutmu, sayang," pintanya dengan tulus.
Awalnya Almaira ragu, tapi di saat melihat wajah Alvian yang sangat berhap, membuat Almaira merasa tidak tega dan membuka mulutnya. Makanan itu pun masuk ke dalam mulut Almaira.
Namun, di saat Alvian kembali ingin menyuapi Almaira, tapi kali ini ditolak oleh Almaira. Dan akhirnya Almaira yang menyuapinya. Sungguh romantis mereka berdua.
Setelah mereka selesai makan dan membereskannya, mereka pun kembali ke kamar mereka berdua. Namun, yang di lakukan Almaira bukan kembali tidur, tapi ia langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat tahajud.
Alvian hanya melihatnya dengan rasa yang sangat bersalah, karena ketidak mampuannya untuk menjadi pemimpin yang baik bagi istrinya.
__ADS_1